Indonesia Development of Economic and Finance (Indef) meminta pemerintah dapat mewaspadai kebijakan suku bunga The Fed. Walaupun perdagangan bilateral tidak begitu besar namun karena mata uang yang digunakan adalah dolar maka secara otomatis akan berdampak bagi perekonomian Indonesia.
"Inflasi obatnya hanya satu, kenaikan suku bunga The Fed. Suku bunga naik dampaknya mempengaruhi pelemahan nilai tukar mata uang dunia terhadap Amerika. Ini yang dikhawatirkan, termasuk Indonesia," beber Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati kepada wartawan di Jakarta, Selasa (31/1).
Menurutnya, kebijakan yang juga keluar dari Trans Pasific Partnership (TPP) dan kebijakan imigrasi yang diteken Trump dalam jangka pendek ini berdampak pada tekanan nilai tukar rupiah. Bahkan, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga sempat membuat pelaku usaha di sektor pasar saham kelimpungan.
"Jika proteksi ini dilakukan, lebih ekstrim akan mempengaruhi perubahan keseimbangan dunia. Di samping itu juga akan menekan IHSG. Para pelaku pasar modal pasti mulai risau, ini yang kita khawatirkan," jelas Enny.
Meski begitu, pelaku usaha di Indonesia diminta dapat meningkatkan nilai ekspornya. Sebab, kebijakan Trump yang kini mendapat banyak penolakan dari rakyatnya sendiri berpotensi membuat dolar anjlok.
"Jadi, begitu nilai tukar terdepresiasi, akan terjadi tekanan impor kita. Sehingga akan berdampak pada neraca perdagangan. Sayangnya ekspor kita tidak pernah memanfaatkan momentum depresiasi sebab masih ekspor komoditas, sehingga sekalipun rupiah mengalami penguatan tidak mampu berdampak positif bagi ekspor," demikian Enny.
[wah]
BERITA TERKAIT: