Ketua API Sudrajat mengataÂkan, keluarnya Amerika meruÂpakan kabar baik bagi pelaku industri tekstil. Sebab, tekstil Indonesia bisa bersaing dengan tekstil buatan Vietnam di Negeri Paman Sam.
Menurut Ade, selama ini, tekstil lokal tidak bisa bersaÂing di pasar Amerika dengan produk buatan Vietnam. "Tujuan kita mau masuk TPP supaya bebas bea masuk ke Amerika seperti Vietnam. Tapi, dengan keluarnya AS tidak ada gunanya masuk TPP," ujarnya kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, dengan keluÂarnya Amerika dari TPP, maka produk Vietnam akan kena bea masuk seperti yang selama ini dikenakan kepada tekstil buat Indonesia. "Persaingan jadi lebih fair," katanya.
Karena itu, Ade menargetkan, tahun ini nilai ekspor tekstil ke Amerika naik dua persen. Total nilai ekspor tekstil mencapai 12,2 miliar dolar AS. Dari total ekspor itu, 36 persennya ke Amerika. "Kita harapkan tahun ini naik jadi 38 persen," ujar Ade.
Terkait dengan rencana PresiÂden AS Donald Trump melakuÂkan proteksi perdagangan, dia pede tidak akan memberikan dampak pada ekspor tekstil. Dia menilai, Trump hanya akan melakukan pengetatan buat produk-produk berteknologi tinggi, seperti otomotif dan baja. Sedangkan, untuk produk tekstil tidak akan dihalangi.
"Sepertinya untuk produk inÂdustri padat karya tidak akan diÂlarang. Karena menggaji tenaga kerja di sana mahal," katanya.
Dia juga optimistis, Indonesia tidak akan dibanjiri oleh produk China akibat Amerika melarang produk buatan Negeri Tirai Bambu masuk pasarnya. AlasanÂnya, beda kelas barangnya.
"Defisit perdagangan AmerÂika dan China itu mencapai 400 juta dolar AS. Karena itu, Presiden Trump membatasi produk-produk China masuk ke negaranya," paparnya.
Ade menambahkan, barang-barang China yang dijual di pasar Amerika kelasnya KW 1. Alhasil harganya juga maÂhal. Sedangkan, barang-barang China yang masuk ke Indonesia kelasnya KW 5-6. "Jadi China nggak mungkin buang barangÂnya ke kita. Kelasnya juga beda," jelasnya.
Sekjen API Ernovian G. Ismy mengatakan, pasca-keluarnya Amerika dari TPP, pemerintah harus meningkatkan kerja sama perdagangan dengan Amerika. Hal ini untuk memudahkan, produk-produk buatan Indonesia masuk pasar Amerika.
"Kita sudah melakukan ekÂspor ke banyak negara. Amerika merupakan salah satu pasar utama ekspor tekstil kita. Selain itu, pasar ekspor terbesar lainnya adalah ASEAN, Jepang dan Uni Eropa," katanya.
Dia memprediksi, nilai ekspor tekstil tahun ini tidak akan beda jauh dengan capaian tahun lalu. Namun, dia meminta, pemerinÂtah menjaga pasar dalam negÂeri. Salah satu caranya adalah dengan mengawasi peredaran produk tekstil ilegal.
Untuk diketahui, pada pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menekan memo perintah yang menyatakan AS keluar dari perÂjanjian dagang TPP. Dia tidak butuh waktu lama merealisasiÂkan janji kampanyenya.
Padahal, TPP dibangun oleh presiden Amerika sebelumnya Barack Obama. da 11 negara selain AS yang sudah menjadi anggota TPP yakni Australia, Brunei, Kanada, Chile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan VietÂnam. Bahkan, Indonesia sebelÂumnya tertarik masuk TPP.
Sebelumnya, Deputi SekreÂtaris Wakil Presiden Bidang Dukungan Kebijakan PemerÂintahan Dewi Fortuna Anwar mengatakan, pemerintah InÂdonesia akan menghentikan rencana keikutsertaan dalam TPP setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serika menarik diri dari negosiasi itu.
"Tadi Pak Wapres (Jusuf KalÂla) mengatakan Indonesia tadinÂya sempat tertarik bergabung dengan TPP, tapi kalau Amerika sendiri sudah tidak ada di TPP, tidak usah ditindaklanjuti lagi," kata Dewi, Rabu pekan lalu.
Terkait dampak penarikan diri AS dari TPP terhadap kerja sama dengan Indonesia, Dewi mengatakan Indonesia baru tertarik bergabung dengan TPP karena melihat ada peluang untuk berkompetisi di pasar yang lebih luas. Oleh karena itu, dalam kerja sama perdagangan lintas PasÂifik ini, posisi Indonesia masih menunggu posisi negara-negara lain. "Jadi sekarang itu fokusnya lebih kepada kerja sama bilateral yang saling menguntungkan," kata Dewi. ***
BERITA TERKAIT: