Tekstil RI Dapat Angin Segar

AS Keluar Dari TPP, Produk Vietnam Ikut Terganjal

Senin, 30 Januari 2017, 10:00 WIB
Tekstil RI Dapat Angin Segar
Foto/Net
rmol news logo Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai keluarnya Amerika Serikat (AS) dari perjanjian perdagangan bebas Trans Pacific Partnership (TPP) memberikan angin segar bagi industri teksil. Sebab, ekspor tekstil justru bisa lebih baik. Industri teksil pun sedang di atas angin.

Ketua API Sudrajat mengata­kan, keluarnya Amerika meru­pakan kabar baik bagi pelaku industri tekstil. Sebab, tekstil Indonesia bisa bersaing dengan tekstil buatan Vietnam di Negeri Paman Sam.

Menurut Ade, selama ini, tekstil lokal tidak bisa bersa­ing di pasar Amerika dengan produk buatan Vietnam. "Tujuan kita mau masuk TPP supaya bebas bea masuk ke Amerika seperti Vietnam. Tapi, dengan keluarnya AS tidak ada gunanya masuk TPP," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut dia, dengan kelu­arnya Amerika dari TPP, maka produk Vietnam akan kena bea masuk seperti yang selama ini dikenakan kepada tekstil buat Indonesia. "Persaingan jadi lebih fair," katanya.

Karena itu, Ade menargetkan, tahun ini nilai ekspor tekstil ke Amerika naik dua persen. Total nilai ekspor tekstil mencapai 12,2 miliar dolar AS. Dari total ekspor itu, 36 persennya ke Amerika. "Kita harapkan tahun ini naik jadi 38 persen," ujar Ade.

Terkait dengan rencana Presi­den AS Donald Trump melaku­kan proteksi perdagangan, dia pede tidak akan memberikan dampak pada ekspor tekstil. Dia menilai, Trump hanya akan melakukan pengetatan buat produk-produk berteknologi tinggi, seperti otomotif dan baja. Sedangkan, untuk produk tekstil tidak akan dihalangi.

"Sepertinya untuk produk in­dustri padat karya tidak akan di­larang. Karena menggaji tenaga kerja di sana mahal," katanya.

Dia juga optimistis, Indonesia tidak akan dibanjiri oleh produk China akibat Amerika melarang produk buatan Negeri Tirai Bambu masuk pasarnya. Alasan­nya, beda kelas barangnya.

"Defisit perdagangan Amer­ika dan China itu mencapai 400 juta dolar AS. Karena itu, Presiden Trump membatasi produk-produk China masuk ke negaranya," paparnya.

Ade menambahkan, barang-barang China yang dijual di pasar Amerika kelasnya KW 1. Alhasil harganya juga ma­hal. Sedangkan, barang-barang China yang masuk ke Indonesia kelasnya KW 5-6. "Jadi China nggak mungkin buang barang­nya ke kita. Kelasnya juga beda," jelasnya.

Sekjen API Ernovian G. Ismy mengatakan, pasca-keluarnya Amerika dari TPP, pemerintah harus meningkatkan kerja sama perdagangan dengan Amerika. Hal ini untuk memudahkan, produk-produk buatan Indonesia masuk pasar Amerika.

"Kita sudah melakukan ek­spor ke banyak negara. Amerika merupakan salah satu pasar utama ekspor tekstil kita. Selain itu, pasar ekspor terbesar lainnya adalah ASEAN, Jepang dan Uni Eropa," katanya.

Dia memprediksi, nilai ekspor tekstil tahun ini tidak akan beda jauh dengan capaian tahun lalu. Namun, dia meminta, pemerin­tah menjaga pasar dalam neg­eri. Salah satu caranya adalah dengan mengawasi peredaran produk tekstil ilegal.

Untuk diketahui, pada pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menekan memo perintah yang menyatakan AS keluar dari per­janjian dagang TPP. Dia tidak butuh waktu lama merealisasi­kan janji kampanyenya.

Padahal, TPP dibangun oleh presiden Amerika sebelumnya Barack Obama. da 11 negara selain AS yang sudah menjadi anggota TPP yakni Australia, Brunei, Kanada, Chile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Viet­nam. Bahkan, Indonesia sebel­umnya tertarik masuk TPP.

Sebelumnya, Deputi Sekre­taris Wakil Presiden Bidang Dukungan Kebijakan Pemer­intahan Dewi Fortuna Anwar mengatakan, pemerintah In­donesia akan menghentikan rencana keikutsertaan dalam TPP setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serika menarik diri dari negosiasi itu.

"Tadi Pak Wapres (Jusuf Kal­la) mengatakan Indonesia tadin­ya sempat tertarik bergabung dengan TPP, tapi kalau Amerika sendiri sudah tidak ada di TPP, tidak usah ditindaklanjuti lagi," kata Dewi, Rabu pekan lalu.

Terkait dampak penarikan diri AS dari TPP terhadap kerja sama dengan Indonesia, Dewi mengatakan Indonesia baru tertarik bergabung dengan TPP karena melihat ada peluang untuk berkompetisi di pasar yang lebih luas. Oleh karena itu, dalam kerja sama perdagangan lintas Pas­ifik ini, posisi Indonesia masih menunggu posisi negara-negara lain. "Jadi sekarang itu fokusnya lebih kepada kerja sama bilateral yang saling menguntungkan," kata Dewi. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA