Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Ahmad Safiun mengatakan, keÂbijakan pemerintah melakukan impor gas memperlihatkan jika mereka kesulitan menghapuskan para trader gas. Akhirnya dicaÂrilah jangka pendeknya dengan impor gas.
"Mereka lakukan dengan imÂpor gas untuk putus trader gas nakal," ujarnya kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, jika pemerintah mau tegas memberantas para tradÂer gas ini, tidak perlu impor gas. Sebab, pasokan gas dalam negeri sangat banyak. Bahkan, Indonesia juga sampai mengekspor gas.
"Gas kita banyak, tinggal bagaimana menyalurkan ke inÂdustri langsung tanpa melewati trader," kata Safiun.
Dia mengakui, jika harga gas impor akan lebih murah dibandingkan dengan membeli dari dalam negeri. Harganya diprediksi dikisaran 5 dolar AS per million metric british therÂmal unit (MMBTU).
"Harga dari sana sekitar 3,5 dolar AS. Ditambah biaya angÂkut dan regasifikasi sekitar 1,5 dolar AS, maka totalnya sekitar 5 dolar AS. Harganya harus di bawah 6 dolar AS," ujarnya
Menurut dia, pelaku industri sudah sangat berharap harga gas industri bisa turun. Hal ini untuk meningkatkan daya saing produk industri. Apalagi, industri meruÂpakan masa depan Indonesia.
"Industri manufaktur itu ujung tombak ekonomi nasional, karÂena itu industri harus jalan," tambah Safiun.
Menurut Safiun, kendala indusÂtri manufaktur masih berkutat di energi yang mahal. Seharusnya, pemerintah bisa memberikan subÂsidi untuk biaya energi. "Misalnya harga gas disubsidi saja. PenguÂrangan pendapatan dari sektor gas bisa ditutup dari pendapatan pajak industri yang naik," tukasnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani mengatakan, dengan impor gas, industri memiliki piliÂhan menggunakan gas dari dalam negeri atau impor. Apalagi, jika salah satunya jauh lebih murah.
"Strategi ini idealnya hanya dilakukan untuk jangka pendek. Adapun untuk jangka panjang, pemerintah harus memetakan masalah kenapa harga gas dalam negÂeri jauh lebih mahal," papar dia.
Haryadi menambahkan, distriÂbusi gas juga diperhatikan karena mencakup siapa yang akan menÂgelola dan membuat akses menuju pelanggan industri. Dengan beÂgitu, strategi ini bisa berdampak positif bagi industri. "Kalau bisa menjangkau lebih banyak industri dan harganya lebih murah, sangat bagus sekali," ujar Haryadi.
Sebelumnya, Menteri PerinÂdustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, pemerÂintah telah menyetujui untuk mencari skema impor untuk memenuhi kebutuhan akan gas murah. "Izin yang sudah dilakuÂkan adalah impor gas. Nanti akan kita bahas lagi," kata Airlangga
Ia menjelaskan, impor gas ini bukan karena Indonesia tidak memiliki gas untuk disalurkan. Namun, jarak yang cukup jauh dari sumber gas menuju industri membuat perusahaan yang memÂbutuhkan gas sebagai bahan baku kerap kesulitan mendapatkan suplai. "Hal tersebut membuat harga gas bisa melambung. Untuk itu perlu disiapkan skema untuk impor gas," tukasnya. ***
BERITA TERKAIT: