Dalam pertemuan ini, turut hadir Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar dan Senior Communication Manager Inpex Corporation Usman Slamet.
Ditanya mengenai pertemuan, Usman mengatakan, pertemuan ini merupakan lanjutan dari kesepakatan yang dihasilkan pada pertemuan antara Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Dalam perÂtemuan ini, dibahas mengenai upaya percepatan pembangunan Blok Masela.
"Ya pokoknya yang pada biÂlateral meeting saja, pada joint statement Indonesia-Jepang sepakat untuk sesegera mungkin menyelesaikan pembicaraan kan. (Pertemuan) hari ini adalah dari bagian itu," ujarnya.
Selain itu, kata Usman, dalam pertemuan ini Inpex juga memÂbahas mengenai perpanjangan kontrak. Padahal, pemerintah sebelumnya telah menyepakati perpanjangan kontrak mencapai 7 tahun.
"Pokoknya kita dalam usaha segera mungkin mendapatkan kondisi yang membuat proyek ini bisa dimulai. Jadi artinya meÂmang kita, pemerintah Jepang dan pemerintah Indonesia, dan Inpex-nya ingin cepat selesai sehingga proyeknya bisa dimuÂlai," jelasnya.
Usman membantah, perÂtemuan ini membahas mengenai opsi untuk kembali ke offshore. Menurutnya, Inpex akan selalu mendorong apa pun keputusan pemerintah.
"Kita selalu menghormati keputusan pemerintah untuk di darat (
onshore). Yang saat ini dibicarakan adalah bagaimana proyek ini bisa segera dimulai. Karena dengan perubahan konÂsep ini kan ada beberapa hal yang berubah," beber Usman.
Dia menambahkan, masih akan ada beberapa pertemuan lanjutan yang akan dilakukan untuk menghasilkan keputusan mengenai pembangunan kilang Blok Masela. "Ya kita terus bicara karena hal ini kan tidak sederhana dan membutuhkan waktu. Tapi intinya bahwa kita ingin kesepakatan ini bisa segera diselesaikan," tuturnya.
Wakil Menteri ESDM ArcanÂdra Tahar tidak memberikan koÂmentar mengenai hasil pertemuan tersebut. Dia hanya tersenyum, ketika ditanya wartawan mengeÂnai hasil pertemuan ini.
Sementara itu, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, pihak Inpex Corporation sedang melakukan studi mengenai kaÂpasitas kilang selama enam buÂlan. Hasil studinya akan terlihat, apakah ada minat industri hilir untuk membangun atau tidak.
"Jadi tunggu Inpex, saya biÂlang kita lihat selama masa studi itu kapasitas (kilang), ada peminatnya nggak," ujar Jonan di Jakarta, kemarin.
Sedangkan terkait penamÂbahan waktu operasi, Jonan mengatakan, pemerintah melaÂlui Keputusan Presiden telah memberikan tambahan waktu 7 tahun. Di mana sebelumnya peÂrusahaan migas asal Jepang itu mengusulkan meminta kompenÂsasi penggantian moratorium kontrak selama 10 tahun.
"Saya kira semua sudah seÂlesai (moratorium kontrak). Rencana pembangunan dari
offshore ke onshore, Jepang minta 10 tahun, kita berikan 4 tahun. Jalan tengah akhirnya 7 tahun," tuturnya.
Sebelumnya, pemerintah menÂgajukan enam poin utama terkait proyek kilang Blok Masela ini. Enam poin tersebut berkaitan denÂgan perubahan skema dari offshore ke onshore. Dengan perubahan skema tersebut, Inpex dan pemerÂintah Indonesia masih membahas enam poin kesepakatan.
Dari enam poin tersebut, tiga di antaranya masih menjadi perdebatan, meski pemerintah Indonesia mengklaim bahwa tiga poin yang masih menjadi perdebatan tersebut sudah disÂepakati secara lisan.
Pertama, peningkatan kapasitas produksi gas Blok Masela menjadi 7,5 metrik ton per tahun (MTPA) ditambah 470 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). PadaÂhal awalnya Inpex menginginkan peningkatan kapasitas produksi hingga 9,5 MTPA.
Insentif lainnya yang sudah disepakati adalah moratorium kontrak selama tujuh tahun lantaran
Inpex harus mengubah skema pengembangan dari kilÂang pengolahan di laut menjadi di darat. Padahal, perusahaan asal Jepang ini semula meminta moratorium selama 10 tahun.
Lalu penggantian biaya opÂerasi selama studi pembangunan kilang di laut melalui skema
cost recovery setelah proses audit. Penggantian dana yang sudah dikeluarkan tersebut ditaksir sebesar 1,6 miliar dolar AS.
Pengembangan gas alam cair (LNG) Blok Masela akan mengÂhabiskan belanja modal sekitar 15-16 miliar dolar AS. Sedangkan investasi untuk pembangunan sektor hilir, yakni petrokimia di sekitar Blok Masela ditaksir menÂcapai 9 miliar dolar AS. ***
BERITA TERKAIT: