Menurut Danny, begitu dia disapa, masyarakat yang bermukim di sekitar lorong harus memiliki daya saing ekonomi yang terus meningkat. Sehingga akan menjadi penentu kemakmuran kota. Karenanya, selama dua tahun pemerintahaannya, sebagian besar fokus pembangunan diarahkan untuk penataan lorong kota.
Selain mengubah wajah lorong menjadi hijau dengan program Lorong Garden (Longgar), sesuai dengan visinya merestorasi nasib rakyat, Danny pun melakukan pembinaan usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) yang diistilahkan sebagai Industri Anak Lorong.
"Kita terus kembangkan pembinaan UMKM, di lorong-lorong kita terdapat macam-macam jenis usaha dari kerajinan tangan hingga terakhir dengan program Longgar dengan tanaman produktif yang akan membawa manfaat secara ekonomis bagi warga di tempat itu," jelas Danny kepada redaksi, Minggu (15/5).
Dia menjelaskan, untuk menunjang Badan Usaha Lorong (BULO) akan mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Jika semua jenis usaha di sekitar 7.500 lorong di Makassar menyatu, maka akan menjadi pergerakan ekonomi mikro berbasis lorong yang akan menopang pertumbuhan ekonomi warga Makassar.
Konsep Danny tersebut mendapat apresiasi dari akademisi Prof. Muh. Asdar. Menurutnya, Danny adalah harapan masyarakat Makassar sehingga program-program yang dicetuskannya harus berlanjut.
"Daya pikat Makassar saat ini sangat bagus, dulu problem utama kita adalah ruang yang sempit karena sebagian besar masyarakat Makassar ada di lorong. Persoalan-persoalan perkotaan pun kebanyakan tumbuh dari lorong," beber Asdar.
[wah]
BERITA TERKAIT: