"MEA sudah dimulai, tetapi UMKM belum siap. Kondisi ini berbahaya karena kemiskinan akan semakin besar, kesenjangan bisa semakin lebar, ini tentu bukan situasi yang kita harapkan," kata Subiakto dalam diskusi tentang strategi industrialisasi dalam menghadapi MEA, yang diselenggarakan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) di Jakarta, kemarin.
Dia menuturkan, pelaku UMKM perlu segera dibantu. Dia menyarankan menggalakkan koperasi. Caranya, beberapa pelaku UKM didorong mendirikan koperasi dengan tujuan agar skala bisnisnya besar sehingga merÂeka mampu bersaing dengan produk-produk asing.
Dia mencontohkan petani yang saat ini hanya memiliki sawah setengah hektare (ha), atau peternak dengaan 1-2 ekor kambing. Kondisi tersebut tidak laik secara ekonomi. Namun, jika petani atau peternak membentuk koperasi, mereka bisa semakin besar.
Subiakto optimis koperasi ampuh menolong UMKM dan bisa menjadi jalan mengentaskan kemiskinan. Sebab tujuan koperasi untuk memberdayakan, melindungi, meningkatkan produktivitas.
Bekas Menteri Perindustrian (Menperin) Hartarto SasÂtrosoenarto menyarankan pemerintah lebih serius menÂdorong industrialisasi. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak sumber daya, hanya saja belum banyak yang memanfaatkannya. "Indonesia itu bangsa yang besar, tapi nggak banyak produk yang bisa kita hasilkan sendiri. Kuncinya adalah Industrialisasi," katanya.
Hartarto melihat, peluang industri di Indonesia untuk terus tumbuh masih sangat besar. Contohnya industri alat berat. Di berbagai proyek infrastruktur, para kontraktor masih banyak menggunakan alat berat dari luar negeri. Di Indonesia memang sudah ada PT Pindad, pabrik yang memproduksi alat berat, tetapi belum bisa memenuhi kebutuhan pasar. "Percepatan industri alat berat harus disegerakan. Banyak potensi dan peluang yang bisa diisi," katanya. ***