Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meÂngakui, inflasi Maret yang menÂcapai 0,63 persen dipicu kenaikÂan harga paÂngan.
“Yang jelas kita akan kenÂdaÂlikan (harganya) karena bisa mengÂgerus daya beli masyaÂrakat,†ujar Hatta di kantornya, kemarin.
Oleh karena itu, kata Ketua Umum PAN ini, paÂngan atau hortikultura yang menÂjadi peÂnyebab inflasi akan dikoreksi. Dia menilai, saat ini pengelolaan usaha hortikultura kurang pas.
“Saya kecewa, prihatin dengan cara mengatur pasokan horÂtiÂkultura,†katanya.
Menurut Hatta, dalam mengaÂtasi kondisi tersebut ada dua piliÂhan. Pertama, tetap mengikuti caÂra baru dengan pengetatan imÂpor. Kedua, mengikuti cara lama yang tidak memberlakukan peÂngetatan impor hortikultura.
Jika cara baru diterapkan terus, Hatta meminta Menteri PerdaÂgangan dan Menteri Pertanian memÂbuat pelayanan impor menÂjaÂdi satu atap.
“Langkahnya ada dua, kalau mau dijalankan wakÂtunya cepat. Sedangkan sistem baru, saya nggak senang dengan sistem ini karena menimbulkan kartel,†jelasnya.
Bekas Menteri Perhubungan ini justru kepenciut dengan instruÂmen pengendalian bea masuk (BM) untuk membatasi gerakan harga komoditi ini. Sebab akan lebih fleksibel pada saat tertentu seperti ketika panen tiba.
Dia juga meminta pemberÂlaÂkuan Rekomendasi Importasi ProÂduk Hortikultura (RIPH) ditinjau kembali karena itu meruÂpakan salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan harga.
Hatta mengaÂkui, sistem RIPH memang bertujuan untuk melinÂdungi petani, tapi dalam praktekÂnya, pengendaliannya justru lebihrumit. Ia pun berniat meÂnyarankan sistem ini tidak dilanjutkan.
Dirjen Hortikultura KementeÂrian Pertanian (Kementan) HaÂsanuddin Ibrahim mengatakan, kebutuhan anggaran pengemÂbangan hortikultura tahun ini mencapai Rp 1 triliun.
Menurut Ibrahim, dana Rp 1 triliun akan dikhususkan pada pengembangan hortikultura komoditas bawang putih, bawang merah, cabe dan kedelai. PasalÂnya, produksi komoditas tersebut saat ini masih rendah, baru mencapai 10 persen.
Alhasil, kata dia, volume impornya masih tinggi yakni menÂcukupi 90 persen sisa kebuÂtuhan bawang putih nasional. “Fokus kita pada pengembangan komoditas tersebut, ini yang akan kita tingkatkan baik produksi dan kualitasnya,†ujarnya.
Khusus untuk pengembangan bawang putih, Kementan tahun ini membagikan bibit bawang putih gratis sebanyak 300.000 ton. Bibit bawang putih tersebut akan dipergunakan untuk luas area 20.000 hektar yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Menteri Pertanian Suswono mengaku kaget melihat ada banyak importir yang mengajuÂkan izin impor sehingga mengÂgangu pasokan.
“Kami tidak menduga ternyata impor-impor ini yang mendaftar ratusan, padahal tadinya hanya puluhan,†ujar politisi PKS ini ngeles.
Suswono mengakui, impor bawang merupakan salah satu bisnis yang menguntungkan. Ketika izin pengajuan impor ini begitu banyak, pihaknya kelimÂpungan. Karena itu, pihaknya keÂmudian berkoordinasi dengan KemenÂterian Perdagangan untuk memÂverifikasi hal ini.
“Ketika diverifikasi benar, ternyata yang dituliskan tidak sesuai data di lapangan,†jelas dia.
Bulog Tidak Berkutik
Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, pihaknya siap mengemban tugas menstaÂbilkan dan memasok pangan straÂtegis selain beras. Untuk itu, dia sudah berbicara dengan Menteri Perdagangan dan MenÂteri PertaÂnian agar diberikan keÂwenaÂngan tambahan, sebagai stabilaÂtor harÂga pangan strategis lainnya.
“Kami siap, apakah itu gula, daging, atau bawang merah seÂkalipun,†katanya.
Sutarto mengatakan, selama ini pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa melihat meroketnya harga pangan seperti daging, cabe dan bawang. KetidakÂmamÂpuan BuÂlog bukan karena keuaÂngan atau menajemen, tetapi lebih pada peraturan yang memÂbatasi. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: