Di Indonesia, Pengusaha Dan Negara Ibarat Air Vs Api

Ekspor Tekstil 300 Miliar Dolar AS, China Lindungi Pelaku Usaha

Senin, 01 April 2013, 07:55 WIB
Di Indonesia, Pengusaha Dan Negara Ibarat Air Vs Api
ilustrasi/ist
rmol news logo .Indonesia harus mencontoh China dalam melindungi dan berpihak terhadap pengusaha.

“Jangan heran jika China bisa menguasai pertumbuhan eko­no­mi dunia, terutama tekstil,” kata Ketua Asosiasi Pertekstilan In­donesia (API) Ade Sudrajat ke­pada Rakyat Merdeka.

Menurut Ade, China me­ngem­bangkan prinsip China Incor­porated. Di mana, negara dan pe­ngusaha memiliki tindakan yang sama untuk mengem­bang­kan per­tumbuhan ekonomi. Ke­bijakan yang dikeluarkan se­iring dengan keinginan dan ke­butuhan para pengusaha.

Karena itu, Negeri Tirai Bam­bu tersebut terus melakukan efi­siensi biaya produksinya agar ba­rang-barangnya bisa bersaing di dunia. Bahkan, Pemerintah China memberikan sistem pe­ngem­ba­lian pajak 13,5 persen dari nilai ekspor yang dilakukan pe­ngu­saha.

Sedangkan di Indo­nesia, pengusaha malah diper­berat de­ngan banyak aturan dan pajak.
“Jangan heran jika barang-ba­rang mereka (China) me­nguasai dunia,” jelasnya.

Bayangkan, saat ini nilai eks­por tekstil China mencapai 300 miliar dolar AS per tahun de­ngan market share 38 persen. Ban­ding­kan de­ngan nilai ekspor tek­stil Indonesia yang hanya 13 miliar dolar AS. Karena itu, China men­jadi negara dengan nilai devisa terbesar 2,65 triliun dolar AS.

Ade mengatakan, di Indonesia, pengusaha dan negara seperti air dan api, tidak saling mendukung. Banyak peraturan dan kebijakan yang justru menghambat pertum­buhannya.

Dia juga meminta pemerintah mempercepat kerja sama dengan Uni Eropa (UE) dan Amerika Se­rikat (AS) terkait tekstil dan pro­duk tekstil (TPT). Ade mem­pro­yek­si, dengan adanya kerja sama de­ngan UE dan AS nilai ekspor TPT bisa mencapai 50 miliar do­lar AS dalam 5 tahun ke depan.

“Jika pemerintah bisa memper­c­epat kerja sama itu, saya mem­prediksi nilai ekspor kita bisa me­ningkat 3 sampai 5 kali lipat da­lam setahun,” katanya.

Bahkan lanjut Ade, penyerapan tenaga kerja dengan diberlaku­kannya kerja sama itu dalam 5 tahun bisa mencapai 1 juta orang.
Menteri Perindustrian (Men­pe­rin) MS Hidayat mengatakan, ser­buan tekstil impor ke Indone­sia sudah sangat mengkhawatir­kan. Bah­kan sekarang produk China sudah 40 persen mengua­sai pusat grosir Tanah Abang.

“Padahal dulunya dikuasai pro­duk tekstil nasional. Tapi saat ini sudah mulai terdesak,” curhatnya.

Menurut Hidayat, alasan pro­duk tekstil China bisa mengua­sai pasar dalam negeri karena har­­ganya lebih murah diban­ding pro­duk lokal. Pasalnya, di China di­ber­lakukan sistem pe­ngem­balian pajak buat perusa­haan yang eks­pornya massif dan besar-besaran.

“Pajak Penghasilan (PPn) akan dikembalikan 13,5 persen oleh pe­merintah. Karena itu, pengu­saha China berani mengambil 2-3 per­sen sebab nantinya akan dikem­balikan lagi pajaknya oleh pe­me­rintahnya,” ungkapnya. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA