“Jangan heran jika China bisa menguasai pertumbuhan ekoÂnoÂmi dunia, terutama tekstil,†kata Ketua Asosiasi Pertekstilan InÂdonesia (API) Ade Sudrajat keÂpada
Rakyat Merdeka.
Menurut Ade, China meÂngemÂbangkan prinsip
China IncorÂporated. Di mana, negara dan peÂngusaha memiliki tindakan yang sama untuk mengemÂbangÂkan perÂtumbuhan ekonomi. KeÂbijakan yang dikeluarkan seÂiring dengan keinginan dan keÂbutuhan para pengusaha.
Karena itu, Negeri Tirai BamÂbu tersebut terus melakukan efiÂsiensi biaya produksinya agar baÂrang-barangnya bisa bersaing di dunia. Bahkan, Pemerintah China memberikan sistem peÂngemÂbaÂlian pajak 13,5 persen dari nilai ekspor yang dilakukan peÂnguÂsaha.
Sedangkan di IndoÂnesia, pengusaha malah diperÂberat deÂngan banyak aturan dan pajak.
“Jangan heran jika barang-baÂrang mereka (China) meÂnguasai dunia,†jelasnya.
Bayangkan, saat ini nilai eksÂpor tekstil China mencapai 300 miliar dolar AS per tahun deÂngan
market share 38 persen. BanÂdingÂkan deÂngan nilai ekspor tekÂstil Indonesia yang hanya 13 miliar dolar AS. Karena itu, China menÂjadi negara dengan nilai devisa terbesar 2,65 triliun dolar AS.
Ade mengatakan, di Indonesia, pengusaha dan negara seperti air dan api, tidak saling mendukung. Banyak peraturan dan kebijakan yang justru menghambat pertumÂbuhannya.
Dia juga meminta pemerintah mempercepat kerja sama dengan Uni Eropa (UE) dan Amerika SeÂrikat (AS) terkait tekstil dan proÂduk tekstil (TPT). Ade memÂproÂyekÂsi, dengan adanya kerja sama deÂngan UE dan AS nilai ekspor TPT bisa mencapai 50 miliar doÂlar AS dalam 5 tahun ke depan.
“Jika pemerintah bisa memperÂcÂepat kerja sama itu, saya memÂprediksi nilai ekspor kita bisa meÂningkat 3 sampai 5 kali lipat daÂlam setahun,†katanya.
Bahkan lanjut Ade, penyerapan tenaga kerja dengan diberlakuÂkannya kerja sama itu dalam 5 tahun bisa mencapai 1 juta orang.
Menteri Perindustrian (MenÂpeÂrin) MS Hidayat mengatakan, serÂbuan tekstil impor ke IndoneÂsia sudah sangat mengkhawatirÂkan. BahÂkan sekarang produk China sudah 40 persen menguaÂsai pusat grosir Tanah Abang.
“Padahal dulunya dikuasai proÂduk tekstil nasional. Tapi saat ini sudah mulai terdesak,†curhatnya.
Menurut Hidayat, alasan proÂduk tekstil China bisa menguaÂsai pasar dalam negeri karena harÂÂganya lebih murah dibanÂding proÂduk lokal. Pasalnya, di China diÂberÂlakukan sistem peÂngemÂbalian pajak buat perusaÂhaan yang eksÂpornya massif dan besar-besaran.
“Pajak Penghasilan (PPn) akan dikembalikan 13,5 persen oleh peÂmerintah. Karena itu, penguÂsaha China berani mengambil 2-3 perÂsen sebab nantinya akan dikemÂbalikan lagi pajaknya oleh peÂmeÂrintahnya,†ungkapnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: