Pembangkit Non BBM Diklaim Hemat Biaya Bahan Bakar

Resmikan Tujuh Proyek Di Sulawesi

Jumat, 08 Maret 2013, 08:05 WIB
Pembangkit Non BBM Diklaim Hemat Biaya Bahan Bakar
ilustrasi
rmol news logo PT PLN (Persero) resmi mengoperasikan tujuh proyek pembangkit listrik di Sulawesi. Peresmian proyek-proyek pembangkit ini merupakan perwujudan komitmen perseroan dan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan energi listrik nasional yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Ketujuh pembangkit listrik itu, yakni PLTU Amurang (2x25 MW), PLTU Kendari Unit 2 (10 MW), PLTP Lahendong IV (20 MW), PLTMH Tomini II (2x1 MW), PLTS Miangas (85 kWp), PLTS Bunaken (335 kWp) serta PLTS Marampit (125 kWp). Peresmian dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik di Sulawesi Utara, kemarin.

Direktur Utama PLN Nur Pamudji yang hadir dalam acara itu mengatakan, peresmian ini merupakan prestasi yang diharapkan menjadi contoh bagi proyek-proyek pembangkit lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Selain memberikan tambahan kapasitas, pembangkit berbahan bakar non BBM ini akan memberikan penghematan komponen biaya bahan bakar secara keseluruhan yang cukup signifikan di Sulawesi,” katanya.

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, sejak Indonesia merdeka 68 tahun lalu, kapasitas pembangkit listrik yang dimiliki PLN hanya mencapai 40.000 mega watt (MW). Padahal, seharusnya Indonesia bisa menghasilkan jauh lebih besar dari kapasitas produksi listrik tersebut.

“Sudah saatnya Indonesia memanfaatkan energi baru terbarukan yang potensinya sangat besar. Untuk potensi pembangkit panas bumi atau geothermal saja, Indonesia bisa memproduksi hingga 30.000 MW. Energi ini cukup untuk menghasilkan listrik selama 50 tahun ke depan,” katanya.

Selain itu, dari sumber daya air, Indonesia menyimpan potensi lebih besar lagi, bisa menghasilkan listrik 75.000 MW atau bisa menghasilkan listrik hingga 100 tahun ke depan.

“Potensi dihitung 50.000 MW dari PLTS (tenaga matahari). Itu saja baru dari energi baru terbarukan. Kalau minyak kita habis, kita aman,” tambahnya.

Menurut Wacik, untuk penentuan besaran tarif pembangkit listrik dari sumber daya surya dan geothermal sudah disepakati besarannya. Hal ini membuat kejelasan investasi bagi para pengusaha yang ingin membangun pembangkit.

Selain itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan terkait pembukaan kawasan hutan untuk mendukung proyek geothermal karena sumber sumur itu sebagian besar berada di lingkungan hutan lindung. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA