Direktur Utama KAI IgnaÂsius Jonan menegaskan, jika subÂsidi kereta api dikurangi oleh peÂmerintah, secara otomatis faÂsiÂlitas yang ada di kereta api ekoÂnomi pun akan ikut dipangkas.
Untuk diketahui, pemerintah akan memberikan subsidi KAI taÂhun ini Rp 704 miliar.
Angka itu lebih besar dibanding tahun lalu yang hanya Rp 603 miliar.
“Rp 603 miliar subsidi tahun lalu itu untuk melayani penumÂpang kelas ekonomi.
Rencananya di 2013 akan diberikan subsidi Rp 704 miliar, tapi akan dipoÂtong,†curhat Jonan di Gedung DPR, kemarin.
Jonan mengadukan rencana pemangkasan tersebut ke Komisi XI DPR. Menurutnya, jika peÂmangÂkasan dilakukan, maka keÂnyamanan publik pengguna KeÂreta Rel Listrik (KRL) kelas ekoÂnomi akan semakin memburuk.
“Subsidi mau dipangkas, giÂmana pelayanan mau bagus. Ya kalau subsidinya dipangkas faÂsilitasnya juga harus dipangkas,†keluhnya.
Jonan juga berharap, pemeÂrinÂtah segera mencairkan dana
infraÂstructure, maintenance and opeÂration (IMO) untuk KAI. AnggaÂran itu diharapkan bisa masuk ke dalam APBN Perubahan 2013.
Saat ini, kata dia, KAI sangat membutuhkan dana IMO dari APBN yang disesuaikan dengan kebutuhan perawatan prasarana kereta api.
Sebelumnya, anggaran IMO 2012 sebesar Rp 1,5 triliun, dan untuk 2013 senilai Rp 1,7 triliun. Sayangnya, IMO 2013 tidak maÂsuk dalam APBN 2013. Karena itu, Jonan berharap bisa masuk ke APBN Perubahan (APBN-P).
Menurut Jonan, pada 2012 KAI menggunakan dana IMO yang berÂasal dari kas perseroan. KaÂrena, paÂda Pasal 27 Peraturan PreÂsiden No.53 Tahun 2012 tentang IMO meÂngamanatkan bahwa dana 2012 ditanggung seÂmenÂtara oleh KAI. Alokasi pembaÂyarannya mengÂgunakan APBN-P 2012. Tapi keÂnyataanÂnya, samÂpai seÂkarang pemÂbaÂyaranÂnya beÂlum masuk ke dalam APBN.
Karena itu, dia mendesak KeÂmenÂterian Perhubungan (KemenÂhub) melaporkan IMO ini keÂpada Kementerian Keuangan (KeÂmenÂkeu) agar bisa cepat cair.
Menanggapi keluhan KAI, Ketua Komisi XI DPR Emir Moeis mengatakan, aduan terÂsebut akan disampaikan kepada pemerintah. Pasalnya, pengguna KRL ekonomi di Jabodetabek cuÂkup banyak.
Kepala Pusat Komunikasi PubÂlik Kemenhub Bambang S Ervan membantah pemerintah akan meÂmotong subsidi atau
public serÂvice obligation (PSO) unÂtuk keÂreÂta api kelas ekonomi tahun ini.
Malah Bambang menyayangÂkan PSO untuk kereta ekonomi tahun lalu tidak terserap sepeÂnuhÂnya oleh perusahan pelat merah tersebut.
Dia menjelaskan, PSO untuk PT KAI akan disesuaikan dengan jumlah penumpang yang diangÂkut, jadi bukan pemotongan.
“Dengan diberlakukannya peÂnumpang sesuai dengan tempat duduk, maka jumlah PSO berkuÂrang karena jumlah penumpang juga menurun,†jelas Bambang kepada
Rakyat Merdeka.Dia juga menyayangkan sikap KAI yang mengancam akan meÂngurangi fasilitas kereta kelas ekoÂnomi PSO. Kondisi terÂsebut justru hanya memÂperÂtegas BaÂÂdan Usaha Milik Negara (BUMN) transporÂtasi tersebut suÂdah meÂninggalkan fungsi sosialnya.
“Ini memperjelas KAI hanya mau mengurusi kelas komersil saja yang selama ini terkesan terÂtutup. Padahal, kelas ekonomi itu penugasan dari pemerintah,†sentil Bambang.
Dia mengatakan, keweÂnangan untuk memotong anggaÂran PSO kereta api itu ada di KeÂmenkeu. Tapi, untuk saat ini tidak bisa diÂlakukan karena sudah diÂtetapkan dalam Anggaran PenÂdapatan dan Belanja Negara (APBN) meski masih bisa dikoreksi di APBN Perubahan.
Proses pengajuan dana PSO sendiri, lanjut Bambang, diÂusulÂkan oleh KAI, kemudian dibahas di Kemenhub dengan memperÂtimbangkan jumlah penumpang. Setelah itu, baru diserahkan ke Kemenkeu. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: