Hal itu disampaikan bekas DiÂrektur Utama PT Pertamina (PerÂsero) Ari Soemarno ketika berÂbincang dengan
Rakyat MerdeÂka, kemarin. Ari meÂngaku gerah deÂngan panasnya isu Blok MaÂhaÂkam dikaitkan dengan naÂsioÂnaÂlisme. Dia pun buÂka-buÂkaÂan soal kondisi Pertamina.
“Apa artinya nasionalisme jika kita tidak mempunyai kemamÂpuan manajerial dan teknologi karena hanya akan dimanfaatkan oleh orang lain,†ujarnya.
Ari yang mengenakan jas berÂwana abu-abu mengaku bukan anti Pertamina. Dia hanya ingin bagaimana perusahaan itu bisa memanfaatkan kerja sama peÂngelolaan Blok Mahakam dengan Total untuk mendapatkan alih tekÂnologi dan manajerial. DeÂngan begitu, ke depannya bisa seperti Total dalam mengelola blok tersebut.
Menurut dia, masalah ini harus diÂlihat dari sisi teknis. Blok MahaÂkam adalah lapangan migas yang paling besar dengan produksi miÂnyak dan gas 300-400 ribu barel per hari (bph). Sedangkan proÂdukÂÂsi Pertamina saat ini paling besar hanya 30-40 ribu bph. “Dari segi size (ukuran) sudah beda. Ini ibarat supir mobil kecil mau bawa truk gede, jelas berat,†katanya.
Apalagi, kata Ari, Total sebagai peruÂsahaan kelas dunia tidak beÂrani meÂngelola Blok Mahakam sendiÂrian karena terlalu besar dan beÂrisiko. Karena itu, perusahaan asal Prancis itu menggandeng InÂpex dalam pengelolaan lapangan migas yang ada di Kalimantan itu.
Blok Mahakam, lanjut Ari, saÂngat penting karena menyumÂbang pendapatan yang besar bagi negara. Karena itu, wajar jika SaÂtuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih ragu memberikan sepenuhnya kepada Pertamina.
Untuk masalah dana, dia meÂngatakan, memang Pertamina tidak ada masalah. Yang menjadi kenÂdala adalah kemampuan tekÂnologi dan manajerialnya. “TekÂnologi meÂmang bisa dibeli, tapi pengalaman pemakaian dan manajerial tidak bisa dibeli. Itu bisa dilakukan deÂngan pemaÂkaian,†jelasnya.
Bahkan, menurutnya, teknoloÂgi Pertamina ketinggalan jauh diÂbanding Petronas asal Malaysia dan PTT Thailand. Padahal, PerÂtamina targetnya ingin menjadi perusahaan minyak kelas dunia.
Karena itu, dia mengusulkan agar pengelolaan Blok Mahakam itu dikelola Pertamina dengan operator lamanya untuk menjaÂmin keberlangsungan produksi. Nanti, setelah 10 tahun perusaÂhaan pelat merah itu bisa mengÂambil alih sepenuhnya.
Ari juga meminta Pertamina tidak perlu ngotot menjadi reguÂlator menggantikan peran Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) yang sudah dibubarkan Mahkamah KonstiÂtusi (MK). Menurutnya, PertaÂmina cukup menjadi operator dan bisa memilih
partner kerja senÂdiri. “Pertamina memang perlu pengawas. Kalau jadi regulator lagi malah repot,†ingatnya.
Namun, Direktur Utama PerÂtamina Karen Agustiawan meÂngaÂÂku secara prinsip perusahaan yang dia pimpin siap jika diminta mengambil alih Blok Mahakam. Dia mengklaim Pertamina sudah punya pengalaman mengakuisisi blok yang sebelumnya digarap kontraktor migas lain.
“Kalau siap ya siap investasi. Begini, kan rekan media pernah lihat pada saat kita ambil (Blok) Sanga-Sanga dari Medco seperti apa produksinya, saat kita ambil ONWC bagaimana produkÂsiÂnya,†ujar Karen, kemarin.
Hanya saja, soal detail pembiÂcaÂraan awal dengan Kementerian ESDM dan perwakilan Total, Karen menolak menjelaskan. Dia mengaku karena melibatkan piÂhak ketiga, rencana akuisisi itu belum bisa dibeberkan ke publik.
“Ini kan belum selesai pembaÂhasan, saya tidak boleh bahas itu dulu. Nanti baru bisa setelah seleÂsai diskusi dengan pemerintah dan Total,†ungkapnya.
Kepala SKK Migas Rudi RuÂbiandini mengatakan, setelah berÂakhirnya kontrak Total E&P InÂdonesie dan Inpex pada 2017, Blok Mahakam diperkirakan maÂÂsih bisa menyumbang pendaÂpatÂan negara 8,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 81 triliun lebih selama 20 tahun.
Menurutnya, sisa caÂdangan gas di Blok Mahakam pada 2017 diperkirakan 2 triliun kaki kubik (
triliun cubic feet/TCF). Dengan asumsi harga gas 10 dolar AS per juta
million british thermal unit (mmbtu), maka pendapatan kotor dari Blok Mahakam mencaÂpai 20 miliar dolar AS selama masa konÂtrak 20 tahun. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: