Alhasil, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal memasukkan batubara dalam target
lifting.
Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, pihaknya berencana memasukkan produksi batubara dan energi terbarukan dalam target
lifting di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Nantinya, lifting tidak hanya minyak dan gas saja.
“Saat ini produksi batubara disinyalir sekitar tiga juta barel per hari setara minyak. Namun, belum akan dilakukan dalam waktu dekat ini, masih akan fokus pada
lifting migas dahulu,†ujarnya.
Untuk diketahui, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegaiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini meminta pemerintah merevisi target
lifting tahun ini dari 900 ribu barel per hari menjadi 830 ribu barel per hari.
Tahun ini pemerintah juga memasukkan gas dalam target
lifting sebesar 1,36 juta barel setara minyak per hari.
Wacik mengatakan, rencana tersebut saat ini tengah dalam kajian institusinya. Kebijakan itu baru bisa terlaksana tiga sampai empat tahun. “Nanti kalau energi baru terbarukan sudah banyak, harusnya masuk ke
lifting. Yakin kita punya energi yang banyak,†katanya.
Jika rencana ini berjalan, lanjut Wacik, akan meningkatkan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam (SDA). Selain itu, pengelolaan energi Indonesia akan lebih terukur. Karena itu, energi baru terbarukan harus dimudahkan urusannya izin, dan lain-lain. Termasuk meningkatkan geothermal.
“Sekarang saatnya investasi di sektor itu karena ini masa depan. Penggunaan geothermal gunung berapi mampu menghasilkan 30.000 megawatt,†tandasnya.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, dalam sidang kabinet pemerintah akan fokus pada peningkatan
lifting minyak. Pihaknya optimistis pada 2014 akan mencapai 1 juta barel baik dari sisi gas maupun
crude oil.“Target kita pada 2014 sudah harus mencapai 1 juta barel oil yang datang dari dua sisi, yaitu Cepu dan
Enhanced Oil Recovery (EOR)â€, ujar Hatta.
Terkait itu, Hatta akan mengeluarkan skema baru untuk merangsang investasi di sektor EOR, terutama investor kelas menengah nasional, contohnya melalui skema insentif pembagian hasil.
“Dalam dua minggu skema draf itu akan selesai sehingga kita bisa mengenjot Pertamina bisa bekerja sama dengan pola yang tidak terlalu jelimet, tapi akuntabilitasnya tetap terjaga,†jelas Hatta.
Selain itu, perlu dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan eksplorasi. â€Kita menginginkan (eksplorasi) meningkat karena nasib umur migas kita sangat tergantung pada upaya menemukan cadangan baru,†ungkapnya.
Sebab itu, perlu mencari formula baru yang memungkinkan daerah risiko tinggi (remote area) menjadi menarik dengan pola bagi hasil yang menarik dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional.
Untuk diketahui, pemerintah dan DPR sepakat
lifting migas dalam APBN 2013 sebesar 2.260.000 barel setara minyak per hari, terdiri dari
lifting minyak 900.000 barel per hari dan gas bumi 1.360.000 barel setara minyak per hari. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google