Macet, Monorail Diwarnai Tarik Menarik Dua Pengusaha Kakap

Minggu, 17 Februari 2013, 08:20 WIB
Macet, Monorail Diwarnai Tarik Menarik Dua Pengusaha Kakap
ilustrasi, Monorail
rmol news logo .Proyek pembangunan monorail hadapi persoalan baru. Pelaksana proyek, PT Jakarta Monorail disinyalir selisih paham dengan mitranya Hadji Kalla Group. Tak hanya itu, penunjukkan investor baru, Ortus Group diisukan bentuk balas budi Jokowi-Ahok.  Masalah tersebut dikhawatirkan membuat proyek senilai Rp 6,9 Triliun molor lagi.

Ketidakjelasan nasib pem­­­bangunan monorail sudah mendapatkan angin segar setelah Gubenur Jokowi menyatakan men­­dukung proyek tersebut di­lanjutkan. Setelah sebelumnya pada September 2011,  Pemprov DKI ketika masih di­pimpin Fauzi Bowo memutuskan tidak me­lanjutkan proyek mono­rail karena pembangunannya lama terhenti.       

Namun demikian, kini kelan­jutan proyek itu menghadapi ma­salah baru. PT Jakarta Monorail selisih paham dengan mitranya, Hadji Kalla Group. Kelompok bisnis ini milik bekas Wapres Jusuf Kalla ini sebelumnya di­sebut-sebut sebagai investor yang akan mem­biayai pembangunan monorail.

Direktur Jakarta Monorail, Sukmawati Syukur mengatakan, Kalla group sudah mengun­dur­kan diri dan diganti dengan pe­rusahaan asal Singapura Ortus Group, milik pengusaha Edward Soeryadjaya. Namun  Kalla Gro­up membantah.

Sekretaris Perusahaan Hadji Kalla Group Andi Asmir mene­gaskan, tidak mundur dan siap melaksanakan komitmennya yang sudah dibangun dengan Jakarta Monorail. Selain masa­lah itu, ada persoalan lain. Ortus ma­suk ke dalam konsorsium di­isu­kan sebagai bentuk balas budi Gu­bernur DKI Jokowi dan Ba­suki Tjahaja Purnama (Ahok) Karena Edward Soeryadjaya di­sebut-sebut salah satu penyo­kong dana pasangan tersebut di Pilkada DKI tahun lalu.

Pengamat transportasi Yayat Supriatna mengatakan, belum mengetahui secara pasti persoa­lan baru dalam pembangunan mo­norail tersebut. Namun demi­kian, ungkapnya, pem­ba­ngu­nan mono­rail selama ini mangkrek (ber­henti). Salah satu­nya di­se­bab­­kan akibat tarik me­narik ke­pentingan bisnis yang sangat ketat.

“Persaingan bisnis memang sangat kuat. Negoisasi antar pi­hak yang terlibat cukup alot. PT Jakarta Monorail mungkin bing­ung menentukan pilihan karena banyak tawaran dari para investor menarik. Hal ini harus diakui men­jadi salah satu pe­nye­bab pembangunan proyek ini molor,” kata Yayat kepada Rakyat Mer­deka, kemarin.

Yayat menilai persaingan antar investor hal yang lumrah. Pros­pek monorail cukup bagus karena ke depan mobilitas penduduk di Jakarta akan semakin tinggi. Na­mun, tidak seharusnya bila per­saingan bisnis sampai mem­buat target waktu pembangunan me­leset.

Yayat meminta, para pihak yang terlibat duduk bareng men­cari jalan agar pembangunan bisa segera berjalan. Jangan kedepan­kan ego masing-masing. Mereka harus ingat bahwa proyek mono­rail ini menyangkut hajat hidup orang banyak. “Jakarta sudah se­makin macet. Masyarakat tidak peduli siapa yang menjadi mitra ataupun konsorsium. Yang me­reka mau pembangunan berja­lan,” katanya.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Ellen Tangkudung meminta, Pem­prov DKI Jakarta melakukan upaya untuk memastikan agar pembangunan monorail berjalan.  

“Jangan sampai gara-gara  ke­putusan PT Jakarta Monorail menggandeng Ortus mengganti­kan Kalla Group menimbulkan ketidakpastian,” imbuhnya.

Sekadar informasi, PT Jakarta Monorail merupakan konsorsium yang akan  melakukan pemba­ngu­nan monorail dua rute di Ja­karta. Pertama, Jalur hijau (green line)  dengan rute antara lain ka­wasan Rasuna Said, Gatot Su­broto, Sudirman, Senayan, MPR/DPR, S Parman, Jalan Kiapang, Pejompongan, dan Dukuh Atas dengan panjang 14,5 km. Kedua jalur biru (blue line) sepanjang 13,5 kilometer melintasi Kam­pung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Sabeni-Jatibaru-Cideng- Roxy.

Ahok Membantah, Tuduhan Balas Jasa Tidak Masuk Akal

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menepis isu yang menuding masuknya Ortus Group ke dalam konsor­sium monorail sebagai bentuk ba­las jasa. Ahok-panggilan akrab­nya menilai, tudingan itu tidak ma­suk akal.

“Dulu waktu JK (Jusuf Kalla) mau masuk dibilang balas jasa, se­karang (Ortus Group-red) di­bilang balas jasa juga. Mosok ba­las jasa sama dua orang, apa nggak beran­tem. Prinsip kami itu tidak ada ba­las jasa,” kata Basuki di Balai Kota, Jakarta, baru-baru ini.

Ahok menegaskan, pihaknya tidak pernah menerima dukungan dari pengusaha Edward Soerya­djaya. Dia menerangkan, yang me­nunjuk PT Jakarta Monorail se­bagai pelaksana proyek dan investor-investor lain yang ter­li­bat, bukanlah pihaknya.

Dia mengungkapkan, yang menunjuk Jakarta Monorail itu pemerintah pu­sat. Hanya saja mereka memiliki masalah dengan keuangan se­hingga mereka ajak investor.

Gubernur DKI Jakarta Jokowi juga mengaku tidak berurusan dengan investor yang digandeng PT Jakarta Monorail. Karena da­lam memilih mitra bisnis peru­sa­haan tersebut bukan urusan pem­prov. “Hubungan kita ini dengan Jakarta Monorail,” tegas Jokowi.

Bekas Walikota Solo ini mene­gaskan,  sejauh ini dirinya belum mengambil keputusan, memberi­kan lampu hijau kepada Jakarta Monorail melanjutkan pemba­ngu­nan. Jokowi memastikan  akan bersikap hati-hati di dalam mengambil kepu­tusan dalam ke­lanjutan proyek monorail ini.

Jokowi menerangkan, sebelum ambil keputusan akan mengecek da­hulu kesehatan  Jakarta Mono­rel. “Siapa Ortus ini yang ada di da­lam, sehat nggak dia? Kita cek sampai sekarang dokumennya be­­lum sampai ke kita,” kata Jokowi.

Direktur Utama PT Jakarta Mo­norail Sukmawati Syukur mengatakan, kelengkapan doku­men yang belum diserahkan ada­lah penyelesaian utang dengan PT Adhi Karya, perjanjian de­ngan Ortus Group sebagai inves­tor baru, dan pengaktifan surat kerja sama dengan Pemprov DKI.  “Target kami penyelesaiannya dua minggu, jadi mungkin akhir bulan ini sudah bisa dilengkapi,” kata dia.

Soal kerjasama dengan Ortus, Sukmawati mengatakan, perusa­haan itu siap berinvestasi 90 per­sen dari total  investasi.

“Ini Bukan Pertandingan Tinju Harus Ada Yang Menang Dan Kalah”

Juru Bicara PT Jakarta Mono­rail Bonavanto mengatakan, pi­haknya tidak ada masalah de­ngan Hadji Kalla Group. Pihak­nya, ma­sih terbuka kepada inves­tor mana pun, termasuk Hadji Kalla Group.

“Sampai saat ini konsorsium masih membuka pintu bagi in­vestor yang berminat. Silahkan masuk. Ini bukan pertandingan tinju yang harus ada yang me­nang dan kalah. Satu, dua atau tiga investor itu kan wajar dalam bisnis. Semua baik-baik saja,” kata Bo­na­vanto kepada Rakyat Merdeka.

Bonavanto menerangkan hu­bu­ngan dengan Hadji Kalla Group baru sejuah ini sebatas pen­jajakan. Menurutnya, kerja­ sama dengan Group itu masih butuh waktu untuk melakukan due diligence (penyelidikan untuk penilaian kinerja perusahaan-red).

Sementara Juru Bicara Hadji Kal­la Group Andi Asmir menilai, Jakarta Mo­norail belum trans­paran mengem­bangkan proyek monorail. Padahal, kema­cetan di Jakarta sudah makin parah.

“Kita memberikan solusi, kita tidak mundur karena belum se­pakat. Siapa bilang kita mundur? Kita ngotot,” kata Andi ditemui di Jakarta, Kamis (14/2).

Dia tidak mempersoalkan jika pembangunan monorel diambil alih oleh Ortus Group. Namun, dia ingin prosesnya berjalan se­cara transparan. [Harian Rakyat Merdeka]



Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA