Ketidakjelasan nasib pemÂÂÂbangunan monorail sudah mendapatkan angin segar setelah Gubenur Jokowi menyatakan menÂÂdukung proyek tersebut diÂlanjutkan. Setelah sebelumnya pada September 2011, Pemprov DKI ketika masih diÂpimpin Fauzi Bowo memutuskan tidak meÂlanjutkan proyek monoÂrail karena pembangunannya lama terhenti.
Namun demikian, kini kelanÂjutan proyek itu menghadapi maÂsalah baru. PT Jakarta Monorail selisih paham dengan mitranya, Hadji Kalla Group. Kelompok bisnis ini milik bekas Wapres Jusuf Kalla ini sebelumnya diÂsebut-sebut sebagai investor yang akan memÂbiayai pembangunan monorail.
Direktur Jakarta Monorail, Sukmawati Syukur mengatakan, Kalla group sudah mengunÂdurÂkan diri dan diganti dengan peÂrusahaan asal Singapura Ortus Group, milik pengusaha Edward Soeryadjaya. Namun Kalla GroÂup membantah.
Sekretaris Perusahaan Hadji Kalla Group Andi Asmir meneÂgaskan, tidak mundur dan siap melaksanakan komitmennya yang sudah dibangun dengan Jakarta Monorail. Selain masaÂlah itu, ada persoalan lain. Ortus maÂsuk ke dalam konsorsium diÂisuÂkan sebagai bentuk balas budi GuÂbernur DKI Jokowi dan BaÂsuki Tjahaja Purnama (Ahok) Karena Edward Soeryadjaya diÂsebut-sebut salah satu penyoÂkong dana pasangan tersebut di Pilkada DKI tahun lalu.
Pengamat transportasi Yayat Supriatna mengatakan, belum mengetahui secara pasti persoaÂlan baru dalam pembangunan moÂnorail tersebut. Namun demiÂkian, ungkapnya, pemÂbaÂnguÂnan monoÂrail selama ini mangkrek (berÂhenti). Salah satuÂnya diÂseÂbabÂÂkan akibat tarik meÂnarik keÂpentingan bisnis yang sangat ketat.
“Persaingan bisnis memang sangat kuat. Negoisasi antar piÂhak yang terlibat cukup alot. PT Jakarta Monorail mungkin bingÂung menentukan pilihan karena banyak tawaran dari para investor menarik. Hal ini harus diakui menÂjadi salah satu peÂnyeÂbab pembangunan proyek ini molor,†kata Yayat kepada
Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Yayat menilai persaingan antar investor hal yang lumrah. ProsÂpek monorail cukup bagus karena ke depan mobilitas penduduk di Jakarta akan semakin tinggi. NaÂmun, tidak seharusnya bila perÂsaingan bisnis sampai memÂbuat target waktu pembangunan meÂleset.
Yayat meminta, para pihak yang terlibat duduk bareng menÂcari jalan agar pembangunan bisa segera berjalan. Jangan kedepanÂkan ego masing-masing. Mereka harus ingat bahwa proyek monoÂrail ini menyangkut hajat hidup orang banyak. “Jakarta sudah seÂmakin macet. Masyarakat tidak peduli siapa yang menjadi mitra ataupun konsorsium. Yang meÂreka mau pembangunan berjaÂlan,†katanya.
Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Ellen Tangkudung meminta, PemÂprov DKI Jakarta melakukan upaya untuk memastikan agar pembangunan monorail berjalan.
“Jangan sampai gara-gara keÂputusan PT Jakarta Monorail menggandeng Ortus menggantiÂkan Kalla Group menimbulkan ketidakpastian,†imbuhnya.
Sekadar informasi, PT Jakarta Monorail merupakan konsorsium yang akan melakukan pembaÂnguÂnan monorail dua rute di JaÂkarta. Pertama, Jalur hijau (
green line) dengan rute antara lain kaÂwasan Rasuna Said, Gatot SuÂbroto, Sudirman, Senayan, MPR/DPR, S Parman, Jalan Kiapang, Pejompongan, dan Dukuh Atas dengan panjang 14,5 km. Kedua jalur biru (
blue line) sepanjang 13,5 kilometer melintasi KamÂpung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Sabeni-Jatibaru-Cideng- Roxy.
Ahok Membantah, Tuduhan Balas Jasa Tidak Masuk Akal Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menepis isu yang menuding masuknya Ortus Group ke dalam konsorÂsium monorail sebagai bentuk baÂlas jasa. Ahok-panggilan akrabÂnya menilai, tudingan itu tidak maÂsuk akal.
“Dulu waktu JK (Jusuf Kalla) mau masuk dibilang balas jasa, seÂkarang (Ortus Group-red) diÂbilang balas jasa juga. Mosok baÂlas jasa sama dua orang, apa nggak beranÂtem. Prinsip kami itu tidak ada baÂlas jasa,†kata Basuki di Balai Kota, Jakarta, baru-baru ini.
Ahok menegaskan, pihaknya tidak pernah menerima dukungan dari pengusaha Edward SoeryaÂdjaya. Dia menerangkan, yang meÂnunjuk PT Jakarta Monorail seÂbagai pelaksana proyek dan investor-investor lain yang terÂliÂbat, bukanlah pihaknya.
Dia mengungkapkan, yang menunjuk Jakarta Monorail itu pemerintah puÂsat. Hanya saja mereka memiliki masalah dengan keuangan seÂhingga mereka ajak investor.
Gubernur DKI Jakarta Jokowi juga mengaku tidak berurusan dengan investor yang digandeng PT Jakarta Monorail. Karena daÂlam memilih mitra bisnis peruÂsaÂhaan tersebut bukan urusan pemÂprov. “Hubungan kita ini dengan Jakarta Monorail,†tegas Jokowi.
Bekas Walikota Solo ini meneÂgaskan, sejauh ini dirinya belum mengambil keputusan, memberiÂkan lampu hijau kepada Jakarta Monorail melanjutkan pembaÂnguÂnan. Jokowi memastikan akan bersikap hati-hati di dalam mengambil kepuÂtusan dalam keÂlanjutan proyek monorail ini.
Jokowi menerangkan, sebelum ambil keputusan akan mengecek daÂhulu kesehatan Jakarta MonoÂrel. “Siapa Ortus ini yang ada di daÂlam, sehat nggak dia? Kita cek sampai sekarang dokumennya beÂÂlum sampai ke kita,†kata Jokowi.
Direktur Utama PT Jakarta MoÂnorail Sukmawati Syukur mengatakan, kelengkapan dokuÂmen yang belum diserahkan adaÂlah penyelesaian utang dengan PT Adhi Karya, perjanjian deÂngan Ortus Group sebagai invesÂtor baru, dan pengaktifan surat kerja sama dengan Pemprov DKI. “Target kami penyelesaiannya dua minggu, jadi mungkin akhir bulan ini sudah bisa dilengkapi,†kata dia.
Soal kerjasama dengan Ortus, Sukmawati mengatakan, perusaÂhaan itu siap berinvestasi 90 perÂsen dari total investasi.
“Ini Bukan Pertandingan Tinju Harus Ada Yang Menang Dan Kalahâ€Juru Bicara PT Jakarta MonoÂrail Bonavanto mengatakan, piÂhaknya tidak ada masalah deÂngan Hadji Kalla Group. PihakÂnya, maÂsih terbuka kepada invesÂtor mana pun, termasuk Hadji Kalla Group.
“Sampai saat ini konsorsium masih membuka pintu bagi inÂvestor yang berminat. Silahkan masuk. Ini bukan pertandingan tinju yang harus ada yang meÂnang dan kalah. Satu, dua atau tiga investor itu kan wajar dalam bisnis. Semua baik-baik saja,†kata BoÂnaÂvanto kepada
Rakyat Merdeka.Bonavanto menerangkan huÂbuÂngan dengan Hadji Kalla Group baru sejuah ini sebatas penÂjajakan. Menurutnya, kerja sama dengan Group itu masih butuh waktu untuk melakukan
due diligence (penyelidikan untuk penilaian kinerja perusahaan-red).
Sementara Juru Bicara Hadji KalÂla Group Andi Asmir menilai, Jakarta MoÂnorail belum transÂparan mengemÂbangkan proyek monorail. Padahal, kemaÂcetan di Jakarta sudah makin parah.
“Kita memberikan solusi, kita tidak mundur karena belum seÂpakat. Siapa bilang kita mundur? Kita ngotot,†kata Andi ditemui di Jakarta, Kamis (14/2).
Dia tidak mempersoalkan jika pembangunan monorel diambil alih oleh Ortus Group. Namun, dia ingin prosesnya berjalan seÂcara transparan. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google