Tekan Impor, Kebijakan Migas Mesti Dipermak

Hindari Defisit Perdagangan

Senin, 04 Februari 2013, 08:04 WIB
Tekan Impor, Kebijakan Migas Mesti Dipermak
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Kementerian Perdaga­ngan meminta ke­bijakan sektor minyak dan gas bumi (migas) dipermak alias diperbaiki untuk menekan impor. Pasalnya, im­por minyak dan gas (migas) menjadi penyebab defisit per­dagangan Indonesia 2012.


Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Khrisna­mur­thi mengatakan, defisit ne­raca perdagangan di Desember 2012 karena defisit migas, di ma­­­na hasil minyak olahan me­ngalami defisit 2,3 miliar dolar AS.

Sedangkan non migas jus­tru surplus 588 juta dolar AS se­hingga total defisit perda­gangan Desember 155 juta do­lar AS. Kon­disi itu me­rupakan si­tuasi yang konsisten dalam be­berapa bulan terakhir tahun lalu.

“Kita perlu menelaah, ke de­pan tekanan terhadap defisit di migas masih akan berlanjut kalau masih menerapkan kebi­jakan migas yang sama,” kata Bayu.

Bayu menilai, permasalahan ini akan terus terjadi bila ke­bijakan penyediaan BBM ber­subsidi tidak berubah. Karena itu, pihaknya berharap ada pen­dekatan berbeda dalam meme­nuhi kebutuhan energi Indo­nesia agar neraca perdaga­ngan tidak tergerus setiap tahun.

Kepala Badan Pusat Statis­tik (BPS) Suryamin mencatat, ne­raca perdagangan Indonesia se­lama 2012 (Januari-Desem­ber) mengalami defisit 1,63 mi­­liar dolar AS.
“Kinerja sektor perdagangan pada 2012 bisa dikatakan lebih rendah diban­ding 2011 di mana Indonesia ber­hasil mencatat sur­plus ne­raca perdagangan 26,06 per­sen,” katanya.

Selama tahun lalu (2012) total ekspor Indonesia menca­pai 190,4 miliar dolar AS, se­mentara pada saat yang sama total nilai impor mencapai 191,67 miliar dolar AS.

”Defisit 2012 menunjukkan target pe­ningkatan ekspor ti­dak ter­capai. Sebaliknya, nilai im­por justru semakin melon­jak,” ujar Suryamin.

Suryamin mengatakan, sela­ma 2012, dari 10 komoditas non migas, tercatat tujuh meng­alami penurunan ekspor seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak lemak nabati, me­sin/per­alatan listrik, karet dan barang dari karet, komoditi bijih, kerak dan abu logam, ker­tas/karton, dan pakaian jadi bukan rajutan.

Komoditas non migas yang mengalami kenaikan hanya tiga, yaitu mesin-mesin/pesa­wat mekanik serta kendaraan dan bagiannya.

Impor selama Januari-De­sember 2012 mencapai 191,67 miliar dolar AS, naik 8,02 per­sen dibanding periode yang sa­ma 2011 yang mencapai 177,44 miliar dolar AS. Ke­naikan total nilai impor ter­utama didorong melonjaknya im­por migas se­besar 4,58 persen dari 40,71 miliar dolar AS menjadi 42,57 miliar dolar AS, dan impor non migas sebesar 9,05 miliar dari 136,73 miliar dolar AS menjadi 149,11 miliar dolar AS. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA