Jurus Kementerian ESDM untuk membendung pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi terbukti kandas. Akar persoalannya adalah perbedaan harga yang tidak pernah dibenahi. Kelangkaan bensin dan solar masih mengancam.
Wakil MENTERI ESDM Rudi Rubiandini mengakui, salah satu penyebab konsumsi BBM terus melebihi kuota adalah program penghematan BBM bersubsidi tidak berjalan secara efektif. BahÂkan, program penghematan yang dilakukan kepada kendaÂraan diÂnas BUMN, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan peÂmeÂrintah serta konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) tidak berjalan mulus sehingga kuota BBM berÂsubsidi kembali jebol.
“Tapi kan karena dulu ada BBM ke BBG berjalan, lalu pengÂÂÂheÂmatan pelat merah, JaÂkarta dulu, terus Jawa Bali, lalu perÂtamÂbangan. Kenyataannya? Coba lihat laporan BPH Migas,†ujar Rudi di Jakarta, Kamis (29/11).
Bekas Guru Besar ITB ini meÂnyatakan, ada penyelewengan yang terjadi di daerah pertamÂbangan dan perkebunan yang tidak bisa ditangani sendiri oleh BPH MiÂgas.
“Kan yang dari deÂpot-depot harusnya ke SPBU, beÂloknya ke pertambangan, belok lagi ke perÂkebunan, ditaruh di dirijen perÂtamini-pertamini. Jadi masalah di lapangan seperti itu tak bisa di-handle tangan BPH yang hanya sekian orang,†ujar Rudi.
Informasi yang diterima RakÂyat Merdeka menyeÂbutkan, BPH Migas terlihat tidak sanggup meÂngawasi penyaluran bensin dan solar, terutama di daeÂrah. PadaÂhal, anggota BPH Migas tersebut berasal dari berbagai unsur. MuÂlai dari kejaksaan, keÂpolisian, akaÂdemisi hingga biroÂkrat. PoÂkokÂnya komplet.
“Tapi mereka seolah tidak berÂdaya. Bayangkan, angkutan BBM di tengah laut bisa dicegat oleh oknum. Anda tahu sendiri lah siapa yang pegang senjata di wilayah tersebut,†ungkap pejaÂbat kementerian ini. Kuncinya, kata pejabat itu, harga BBM subÂÂsidi harus dibenahi dan diseÂsuai dengan pasaran.
Seperti diketahui, kuota BBM bersubsidi jebol lagi tahun ini. Padahal, pemerintah telah mengÂhitung estimasi konsumsi BBM bersubsidi berdasarkan pertumÂbuhan ekonomi dan kebutuhan masing-masing daerah.
Dalam APBN 2012, kuota BBM bersubÂsidi hanya dijatah 40 juta kiloliter (KL). Namun, karena konsumsi terus bergerak naik, pemerintah meÂngÂaÂjukan penambahan kuota sebaÂnyak 4,04 juta KL kepada DPR. Tak cukup juga, pemerintah kini akan menambah kuota BBM bersubÂsidi sebesar 1,2 juta KL.
Menurut Rudi, program pengÂhematan tersebut telah diestimaÂsi oleh pemerintah dengan keÂmungÂkinan konsumsi BBM berÂsubsidi 45,26 juta KL. Selain itu, penamÂbahan kendaraan roda empat yang di luar perkiraan diÂsinyalir menjadi pemicu penamÂbahan kuota tersebut.
Pengamat Energi Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, dengan adanya perÂbedaan harga yang terlalu besar antara BBM bersubsidi dengan yang nonsubsidi (disparitas), maÂka permasalahan jebolnya kuota BBM bersubsidi tidak akan seleÂsai. “Saya kira ini kaÂrena akar maÂÂsalahnya belum diÂselesaikan,†kata Komaidi.
Dia menambahkan, perbedaan harga ini akan terus menjadi akar permasalahan jebolnya kuota BBM bersubsidi karena harga BBM tidak diseÂsuaiÂkan dengan kebutuhan atas pertumbuhan perÂekonomian yang semakin besar.
“Kebutuhan juga terus naik sejalan dengan meningkatnya kapasitas perekoÂnomian nasioÂnal,†ujar Komaidi.
Suara lebih keras justru dika-takan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Dia menilai, ada sindikat besar yang melakuÂkan penyelundupan BBM subÂsidi. Seolah, ulah sindikat ini nggak pernah ada matinya.
“BBM Spanyol atau separuh nyolong itu sesuatu yang betul-betul menyakitkan karena uang rakyat yang digunakan untuk BBM ternyata diselundupkan,†cetus Agus geram.
Dia menegaskan, penyelunduÂpan itu merupakan tindakan sinÂdikat mafia. Keuntungan dari marÂgin harga penjualan membuat praktek ini terus terjadi. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: