Pemanfaatan Gas Domestik Lebih Kecil Dibanding Ekspor

Senin, 29 Oktober 2012, 08:00 WIB
Pemanfaatan Gas Domestik Lebih Kecil Dibanding Ekspor
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo Wakil Ketua Fraksi PKS Bi­dang Ekonomi, Keuangan dan Industri Sohibul Iman meminta pemerintah lebih serius meng­alokasikan pasokan gas untuk domestik, menyusul adanya ke­siapan Plan of Further De­ve­lopment (POFD) atau rencana pengembangan lanjutan untuk Lapangan Gas Tangguh Train 3 di Papua.

Setelah train 1 dan 2 disepakati, BP Indonesia sebagai operator Blok tersebut telah menyepakati untuk memberikan 40 persen hasil gas train 3 Blok Tangguh ber­kapasitas 3,8 juta ton per ta­hun (MTPA) untuk kepentingan dalam negeri. Hal ini seiring de­ngan tuntutan kebutuhan gas dalam negeri bagi kepentingan pembangkit listrik, industri dan transportasi melalui program konversi BBM ke gas.

Iman menjelaskan, saat ini kebutuhan domestik akan paso­kan gas semakin tinggi, meng­ingat kondisi kebutuhan gas in­dustri yang hampir setiap tahun defisit, minimnya pasokan gas untuk pembangkit serta program konversi BBM ke BBG yang ja­lan di tempat karena masalah sup­lai mengharuskan pemerintah lebih cermat menentukan prio­ritas pemenuhan pasokan gas dalam negeri. “Harus tepat, jelas dan transparan,” ungkapnya.

Menurutnya, salah satu pe­nye­bab membengkaknya subsidi lis­trik yang membuat pemerintah mengajukan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) karena kurangnya pasokan gas untuk pembangkit, sehingga PLN ter­paksa menggunakan BBM yang harganya jauh lebih mahal.

 â€œMasalah listrik menguasai hajat hidup orang banyak, peme­rintah harus memiliki pijakan prioritas yang lebih berpihak pa­da kepentingan rakyat, yaitu pasokan gas untuk pembangkit listrik,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, peme­rin­tah juga perlu memperhatikan ke­luhan kalangan industri bahwa pasokan gas sering tidak mema­dai. Apalagi di saat yang sama terjadi kenaikan tarif listrik yang berbarengan dengan kenai­kan harga gas, sehingga menam­bah beban yang semakin berlipat.

Iman menuturkan, selama ini pemanfaatan gas dalam negeri hanya mencapai 44,48 persen yang antara lain untuk pupuk, listrik, industri, transportasi dan elpiji. Sementara gas yang di­ekspor mencapai 55,52 persen.

“Namun, dengan tambahan pa­sokan gas 230 Millions Metric Stan­dard Cubic Feet per Day (MMS­CFD) dari train 1 dan 2 La­pangan Tangguh serta 38 MTPA dari Train 3, semoga dapat mem­per­­baiki sup­lai energi dalam negeri se­cara lebih baik,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA