Duh, Aroma Kartel Impor Daging Menusuk Hidung

Indonesia Mestinya Bisa Penuhi Kebutuhan Daging Sendiri

Jumat, 26 Oktober 2012, 07:54 WIB
Duh, Aroma Kartel Impor Daging Menusuk Hidung
ilustrasi, Daging
Kecil Besar
rmol news logo .DPR mempertanyakan kebiasan impor daging sapi yang dilakukan pemerintah. Padahal, produksi dalam negeri sudah memenuhi.

Menurut anggota Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi, ber­dasarkan hasil sensus sapi yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Per­tani­an (Kementan) pada 2011, di­ketahui jumlah sapi potong men­capai 14,8 juta ekor.

Sementara, kata Yoga, kebu­tuhan sapi potong dalam negeri ha­nya 11,5 juta ekor. Dengan ang­ka ini memperlihatkan Indo­nesia sebenarnya sudah bisa me­menuhi kebutuhan daging sendiri.

“Tapi kenyataannya hingga kini Indonesia masih saja impor daging beku dan sapi bakalan untuk digemukan,” katanya ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Yoga berpendapat, kondisi ini memperlihatkan manajemen pengelolaan sapi potong dalam negeri masih buruk. Jika kon­di­sinya terus begini, target 2014 un­tuk melakukan swasembada da­ging susah terealisasi.

“Seharusnya pemerintah tegas meng­hentikan impor daging sapi beku dan sapi bakalan, kecuali sapi bangkalan betina untuk me­nambah populasi daging yang su­dah ada karena kebutuhan daging da­lam negeri sudah bisa tercu­kupi. Impor daging ini akan sulit diha­pus karena ada indikasi per­mainan mafia daging,” ungkap anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Karena itu, dia tidak heran jika setiap tahun terjadi kisruh ma­salah kuota impor daging. Me­nurutnya, pengusaha daging  ha­nya mau mengambil enaknya saja dengan impor karena biaya lebih murah dibanding membeli sapi lokal karena mahalnya biaya logistik.

“Impor sah-sah saja un­tuk da­ging yang memang tak ada di sini atau untuk memenuhi ke­bu­tuhan hotel dan restoran,” jelasnya.

Terkait impor daging ilegal, Yoga menyarankan agar barang buktinya dibakar saja. Me­nurut­nya, kalau dilakukan reekspor akan terjadi permainan lagi.

Ketua Komisi IV DPR Roma­hur­muziy mengungkapkan, ada­nya mafia impor daging adalah aki­bat dominasi importir tertentu yang memiliki kuota impor dan hanya digunakan sejumlah pe­ngu­saha impor yang terbatas.

“Aroma kartel sangat kuat da­lam impor daging dikarenakan importir daging yang terbatas,” kata politisi PPP itu.

Dirjen Peternakan dan Kese­hatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro memprediksi, im­por­tasi daging sapi tahun depan akan mencapai 75 ribu ton atau 14 per­sen dari total kebutuhan pada tahun depan 535 ribu ton.

Dia mengatakan, berdasarkan hasil kajian supplay and demand da­ging sapi, volume impor tahun depan sekitar 82.000 ton. Na­mun, berdasarkan hasil data sup­lai daging sapi lokal, kekurangan pasokan hanya 14 persen atau 74.000-75.000 ton yang akan di­impor tahun depan.

Dia menuturkan, alokasi im­por daging sapi tahun depan di­bagi dalam bentuk sapi bakalan (sapi potong) 60 persen dan da­ging sapi beku 40 persen.

Sebelumnya, Menteri Perda­ga­ngan Gita Wirjawan me­ngatakan, pemerintah belum bisa menyetop impor daging sapi. Se­bab, pro­duk­si di dalam negeri be­lum men­cukupi. Alasannya, saat ini Indo­nesia hanya memiliki 15 juta ekor sapi dengan jumlah kon­sumsi 500 ribu ton per tahun. Jum­lah tersebut harus memenuhi ke­bu­tuhan 220 juta rakyat Indonesia.

Untuk mempersulit para mafia daging jual beli kuota, Mendag mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permen­dag) No. 24/M-DAG/PER/9/2011 tentang ketentuan impor dan ekspor produk hewan telah terbit 7 September 2011. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA