Tim Pengawas BBM Subsidi Tak Bertaring

Selasa, 23 Oktober 2012, 08:00 WIB
Tim Pengawas BBM Subsidi Tak Bertaring
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Tim Pengawasan BBM bersub­sidi di daerah tergolong lemah, sehingga masih banyak terjadi penyelundupan BBM bersubsidi.

Saat sosialisai pengawasan BBM bersubsidi, Ketua Tim Pe­ngawasan BBM Bersubsidi Kar­­seno mengatakan, lemahnya pe­ngawas di daerah itu karena ada­nya pembiaran terhadap prak­­tik-praktik penyelundupan BBM bersubsidi.

“Mungkin saja ada tekanan dari aparat atau penguasa di dae­rah sehingga pengawas BBM ber­subsidi tak berdaya atau ta­kut,” kata Karseno.

Menurut dia, untuk memper­tajam kinerja pengawas di dae­rah, terpaksa tim dari pusat tu­run ke kabupaten atau kota yang ter­dapat indikasi penyalahgunaan BBM bersubsidi. Tim dari pusat itu berupaya melakukan operasi tangkap tangan para pelaku pe­nyelundupan BBM bersubsidi.

“Setelah ditangkap kita serah­kan kepada penyidik yang ada di daerah agar diproses lebih lan­jut,” ucap Karseno.

Karseno mengatakan, untuk me­lakukan pengawasan dan pe­ngendalian BBM bersubsidi, pi­haknya tidak bisa menggu­nakan kekerasan atau tindakan represif. “Kita hanya terus meng­imbau dan mengimbau,” jelasnya.

Dia menyebutkan, tim penga­wa­san BBM bersubsidi selama 2012 telah menggagalkan sejum­lah usaha penyelundupan BBM bersubsidi di tanah air. Karena itu, dia mengimbau masyarakat un­tuk melaporkan kepada tim pe­ngawas BBM bersubsidi jika me­nemukan adanya indikasi penye­lundupan. “Jangan sampai ada aparat keamanan justru melin­dungi penyelundupan BBM ber­subsidi,” katanya.

Saat ini anggota tim penga­wa­san BBM bersubsidi berjum­lah sekitar 10 ribu orang yang ter­sebar di seluruh Indonesia. Ang­gota tim berasal dari berbagai in­stansi seperti TNI, Polri, Kejak­saan, Bea dan Cukai, BPH Mi­gas dan pemerintah setempat.

Produksi Minyak Seret

Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto menilai, produksi mi­nyak bumi memang sulit di­naik­kan dalam beberapa tahun ter­akhir dan juga masa mendatang.

Menurut anggota Fraksi Gol­kar itu, penurunan tingkat pro­duksi minyak dari seharusnya secara alamiah mencapai 10-12 persen hingga hanya menjadi 3,6 persen pada 2012 sudah meru­pakan upaya optimal.

 Badan Pelaksana Hulu Mi­nyak dan Gas Bumi (BP Migas) dalam laporannya kepada Ko­misi VII DPR memaparkan, produksi minyak tahun ini di­perkirakan mencapai 870.000 barel per hari atau turun 3,6 per­sen dibanding realisasi 2011 yang 902.000 barel per hari.

Dito mengatakan, produksi minyak baru akan meningkat lagi setelah mulai berproduksinya Lapangan Banyu Urip, Cepu sebesar 165.000 barel per hari mulai 2014. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah segera merubah ketergantungan minyak bumi dan menggantinya dengan gas, batubara dan energi baru dan terbarukan (EBT).

Ia juga meminta pemerintah segera merealisasikan janji perubahan paradigma peman­faatan gas dari sebelumnya hanya sebagai penerimaan devisa ne­gara menjadi pendorong pertum­buhan ekonomi.

Menurut Dito, gas mesti sebe­sar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan energi primer pem­bangkit, industri, dan kendaraan sehingga memberikan nilai tambah.

“Kalau gas untuk do­mestik, yakni sebagai energi primer pembangkit listrik, in­dustri, pet­rokimia, pupuk dan kenda­raan, akan memberikan multiplier effect yang jauh lebih besar di­banding hanya sebagai pene­rimaan devisa negara,” jelasnya.

Pengamat energi dari Refor­Miner Institute Komaidi Noto­negoro mengatakan, menjaga agar produksi minyak tidak turun terlalu jauh memang penting. Namun, akan lebih baik tidak sekadar mencegah penurunan, tapi menambah produksi. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA