Outsourcing Pemicu Demo

Pengusaha Makanan & Minuman Ngaku Tekor Rp 2 Triliun

Kamis, 04 Oktober 2012, 08:15 WIB
Outsourcing Pemicu Demo
ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Kalangan buruh mengancam akan kembali berdemo jika pemerintah tidak menghapus sistem kerja alih daya atau outsourcing. Perlu ketegasan untuk menjamin ke­langsungan usaha. Jangan hanya berpromosi mengajak investor asing menanamkan modal.

Pakar outsourcing Iftida Yasar mengatakan, dalam rangka me­nuju negara sejahtera, bukan out­sourcing yang dihapus. Tapi prak­tik pe­laksanaan outsourcing ber­masalah yang harus dibenahi.

   “Pelaksanaan outsourcing yang baik dan benar, yang me­menuhi hak-hak pekerja harus dilindungi. Karena out­sourcing bukan barang haram dan dapat menjadi salah satu solusi perlua­san kesempa­tan kerja di tengah tingginya angka peng­anggur­an,” ujarnya kepada Rakyat Mer­deka, kemarin.

   Wakil Ketua Komisi Tetap Pe­nempatan Tenaga Kerja Luar Ne­geri Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) ini men­jelaskan, dalam iklim persaingan usaha yang ma­kin ketat, pe­ru­sahaan berusaha untuk mela­ku­kan efisiensi biaya produksi (cost of production).

Menurut Iftida, im­provement dan riset lebih men­dalam dila­ku­kan oleh prak­tisi un­tuk mene­mu­kan bentuk yang ideal dalam prak­tik­nya serta upaya mencari for­mat best prac­tices yang mem­berikan ruang akan efek­tivitas im­­ple­mentasinya. “Bu­kan hanya seke­dar praktik tenaga mu­rah, tetapi mencari for­mat hu­bungan kerja yang efektif menjadi harapan semua pihak,” jelasnya.

Dikatakan, kesejahteraan bang­sa menjadi prioritas untuk se­gera di­wujudkan agar pekerja kita men­­dapatkan hak-haknya sesuai de­ng­an peraturan yang berlaku.

“Tanpa kesejahteraan, ra­­sanya susah untuk mewu­jud­kan negara tanpa karyawan kon­trak, apalagi tanpa out­sour­cing,” katanya.

Sudah waktunya seluruh stake­holder outsourcing memikirkan langkah-langkah terhadap peng­hapusan outsourcing yang tidak sesuai dengan ketentuan per­un­dang-undangan. Bukan ‘me­nina­bobokan’ masyarakat dengan ge­rakan hapuskan outsourcing yang tak akan pernah bisa dihapus.

 Seperti diketahui, kemarin bu­ruh di se­luruh Indonesia melaku­kan demo dan mogok massal se­perti di beberapa wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Be­kasi (Jabodetabek). Massa ber­unjuk rasa untuk me­nuntut upah yang layak ber­ke­adilan se­suai dengan upah mi­ni­mum pro­vinsi dan peng­ha­pusan sistem out­sourcing.

Ang­gota Dewan Pengupahan Na­sional (Depenas) Anthony Hil­man menegaskan, penetapan upah sudah melalui banyak per­timbangan, termasuk menghitung kebutuhan pekerja. “Rezim upah murah itu sebenarnya tidak ada. Pekerja juga harus melihat se­be­rapa besar kemampuan peru­sa­ha­an membayar pekerja,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah meng­­aku tidak mungkin meng­hapus sistem out­sourcing, karena sistem itu legal dan diatur undang-undang. Namun, pemer­intah tidak akan mentolerir perusahaan out­sorcing yang membuat buruh makin susah dan miskin. “Out­sourcing itu adalah sistem ketena­gakerjaan yang legal menurut Un­dang-undang nomor 13 tahun 2003. Jadi, kita tidak mung­kin meng­hapuskan sesuatu yang diper­bolehkan Un­dang-undang. Menurut Mah­kamah Konstitusi, outsourcing juga legal. Tapi kalau ada praktik yang ilegal, itu yang harus dibas­mi,” ujar Juru Bicara Kemen­terian Tenaga Kerja dan Trans­migrasi Dita Indah Sari di Kan­tor Keme­naker­trans, Jakarta, ke­ma­rin.

Namun, Koordinator Forum Ko­­munikasi Lintas Asosiasi Na­sional (Forkan) Franky Siba­rani justru mengeluhkan, sampai saat ini pe­merintah belum ber­sung­guh-sung­­guh mengingatkan ke semua pi­hak yang akan mogok agar tidak mem­blokade jalan umum dan me­ng­in­timidasi orang yang bekerja. “Kami tidak melihat ada lang­kah serius dari pemerintah men­cegahnya agar jangan (demo bu­ruh) terulang,” ujar Franky.

Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minum­an Indonesia (GAPMMI) Yusuf Hadi mengatakan, ke­rugian akibat aksi demo kemarin bisa mencapai Rp 2 triliun. Per­hitungan ini, kata dia, berda­sarkan dari total produksi industri makanan dan minuman di Indo­ne­­sia bisa men­­capai Rp 700 trilun.   [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA