.Pemerintah lebih memprioritaskan gas alam cair (LNG) dari Lapangan Tangguh, Papua, untuk diekspor. Alasannya, ekspor bisa meningkatkan penerimaan negara.
Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan UsaÂha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Gde Pradnyana meÂngaÂtaÂkan, pihaknya akan mengÂaloÂkaÂsikan 40 persen gas LaÂpangan Tangguh (train 3), Papua, untuk domestik.
Menurut Gde, ini pertama kaliÂnya pengembangan kilang LNG dikerjakan dengan memÂprioÂriÂtaskan domestik. “Kilang LNG sebelumnya (mulai dari Arun, BonÂtang, Tangguh-red) semuaÂnya memÂprioritaskan ekspor,†kataÂnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Saat ini, kata dia, pemerintah seÂdang mengkaji berbagai opsi yang memberikan nilai terbaik unÂtuk memenuhi berbagai kepenÂtingan. Hasil kajiannya menunÂjukÂkan kombinasi ekspor dan doÂmesÂtik akan menghasilkan nilai tertinggi.
Gde mengatakan, harÂga gas doÂmestik saat ini sekitar 50 persen dari harga ekspor. Namun, dia memÂbantah pemerintah sudah memÂbuat nota kesepahaman (MeÂmorandum of UnderÂstanÂding/MoU) penjualan LNG TangÂÂguh (train 3) ke Jepang.
“Saat di London, pemerintah (Menteri ESDM Jero Wacik) tidak membuat MoU, tapi memÂbahas hal-hal makro. Belum ada ikatan apa-apa,†tegasnya.
Menurut Gde, kalau ada penÂjualan kargo spot, semua dari diversion Sempra (train 1 dan 2). Sempra dijual di pasar spot kaÂrena harganya jauh lebih baik. Dari penjualan itu, negara mendaÂpatkan penerimaan lebih bagus.
Dirjen Basis Industri ManuÂfakÂtur Kementerian Perindustrian (KeÂmenperin) Panggah Susanto mengaÂtakan, pihaknya membuÂtuhkan pasokan gas dari LapaÂngan Tangguh untuk industri petÂrokimia. Menurutnya, saat ini tinggal meÂnunggu kepastian paÂsokan gas dari BP Migas.
Berdasarkan kajian KemenÂperin, pembaÂngunan tahap perÂtama industri peÂtrokimia memÂbutuhkan paÂsokan gas minimal 940 juta standar kaki kuÂbik per hari (MMscfd). SeÂdangkan tahap dua dibutuhkan pasokan 380 MMscfd.
Pasokan itu untuk memenuhi keÂbutuhan bahan baku bagi dua pabrik urea berkapasitas 3.500 ton per hari, dua pabrik amonia berÂkapasitas 2.000 ton per hari dan pabrik metanol yang kapasiÂtasnya belum bisa dipastikan.
Panggah mengakui, industri pengguna LNG masih sangat sedikit karena harganya mahal. Namun, ia minta peÂmerintah leÂbih memprioÂritaskan pasokan gas untuk industri dalam negeri.
Anggota Komisi VI DPR Lili Asjudiredja meminta pemerintah lebih mengutamakan kebutuhan pasokan gas dalam negeri.
“Sangat disayangkan jika peÂmerintah kembali menjual gas dari Lapangan Tangguh ke JeÂpang,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut politisi Golkar itu, kini pemeÂrintah mengaku sedang giat-giatnya melakukan renegoÂsiasi kontrak gas untuk memeÂnuhi kebutuhan dalam negeri.
Apalagi, saat ini pemerintah juÂga sedang melakukan reneÂgosiasi kontrak harga gas TangÂguh ke China karena harganya yang muÂrah dan merugikan negara.
Meskipun saat ini Indonesia mempunyai cadangan gas, naÂmun kebutuhan industri dan lisÂtrik dalam negeri belum bisa diÂpenuhi. “Jangan karena harÂgaÂnya lebih mahal dari dalam neÂgeri, kita jadi lebih memÂprioÂriÂtaskan ekspor,†tandasnya.
Sebelumnya, anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldy menÂdaÂpat informasi adanya notulensi rapat yang menyebutkan rencana ekspor gas alam cair (LNG) Tangguh ke Jepang.
Rapat tersebut berlangsung di London, Inggris, yang dihadiri Menteri ESDM Jero Wacik dan Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo saat berÂkunÂjung ke negara tersebut.
Sesuai notulensi rapat itu, konÂtrak ekspor Tangguh direnÂcaÂnaÂkan berlangsung mulai 2013 hingga 2035 dengan volume seÂkitar 16 kargo per tahun. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: