Pasca Lebaran, omzet pedagang pasar tradisional mengalami penurunan hingga 50 persen dibanding selama bulan puasa.
“Penurunan omzet pedagang tradisional hingga 50 persen diseÂbabkan menjamurnya gerai miÂnimarket dan pasar modern saat ini,†ujar Ketua Persatuan PeÂdaÂgang Pasar dan Warung TradiÂsional Usep Iskandar Wijaya.
Selain itu, penurunan omzet dikaÂrenakan kondisi perÂekoÂnomian pasar tradisional tidak terÂayomi oleh pemerintah kabuÂpaten/kota yang menyebabkan pangsa pasar beralih ke pasar moÂdern ataupun minimarket.
Ia menguraikan, setiap tahunÂnya, tiap kios di pasar bisa meÂraup pendapatan hingga Rp 2-3 juta per hari. Sedangkan untuk taÂhun ini rata-rata pedagang mengÂhasilkan Rp 1-1,5 juta per hari. Hal tersebut diakibatkan oleh sub sektor sembako yang mengalami penurunan penjualan.
Dengan menjamurnya miniÂmarket di tiap-tiap pelosok terseÂbut, lanjut Usep, pedagang semÂbako di pasar tradisional hanya menghasilkan Rp 700 ribu-Rp 1 juta per hari. Sebab, beberapa ruas jalan yang biasanya macet diseÂbabkan banyaknya pengunÂjung yang hendak berbelanja tidak terjadi. Masyarakat lebih meÂmilih berbelanja di pasar swalayan.
“Pedagang sembako benar-benar babak belur, para pelangÂgannya beralih ke minimarket,†keluhnya.
Sebab itu, pihaknya berharap peÂmerintah bertindak tegas terÂhadap pemberlakuan peraturan terkait waktu pelayanan ritel dan miÂnimarket. Hal itu setidaknya bisa memberikan peluang terÂhadap pasar tradisional untuk dioptimalkan kembali.
Salah satu pedagang di pasar tradisional Cibinong, Karbun yang ditemui Rakyat Merdeka mengaku, biasanya pasca LeÂbaran belum banyak pedagang yang melakukan aktivitasnya seÂhari-hari lantaran pasokan disÂtribusi belum lancar.
Dengan begitu, aktivitas jual beli bagi di pasar tradisional tentu mempengaruhi pendapatan para pedagang. “Sehari menjelang Lebaran biasanya ibu-ibu rumah tangga membeli bahan kebutuhan pokok lebih banyak dibanding hari biasa karena akan sibuk memÂbuat kue, dan memasok keÂbutuhan sesudah Lebaran. BiasaÂnya seÂminggu seÂsudah Lebaran banyak yang tidak berbelanja,†ujarnya.
Menurut Karbun, kondisi sepi ini akan bertahan hingga semingÂgu sesudah Lebaran. Sementara inÂtensitas masyarakat akan kemÂbali meningkat perlahan pada pekan kedua sesudah Lebaran baik untuk kebutuhan pokok dan sandang.
Pedagang bahan pokok di Pasar Kramat Jati Aep Hidayat meÂngatakan, omzet penjualan pada hari pertama hingga empat hari setelah Lebaran menurun hingga 60 persen dibanding bulan puasa.
“Pembeli masih banyak yang mudik. Kami juga baru buka toko setengah hari,†katanya.
Menurut Aep, sepinya kondisi tersebut akibat para ibu rumah tangga banyak yang melakukan aksi borong pembelian bahan kebutuhan pokok sebelumnya, sehingga seminggu Lebaran banyak beristirahat.
Sekjen Asosiasi Pedagang PaÂsar Seluruh Indonesia Ngadiran optiÂmis penimbunan beberapa kebutuhan bahan pokok untuk mengatrol harga komoditas tidak akan terjadi. Berdasarkan hasil panÂtauan di lapangan, harga keÂbuÂtuhan pokok hingga pasca LeÂbaran bakalan relatif stabil, tidak mengalami kenaikan.
“Untuk pasokan mungkin aman, tapi kadang terkendala maÂsalah disÂtribusi, makanya mungÂkin ada beÂberapa barang yang belum banyak ditemukan di paÂsaran yang berÂakibat mahalnya harga,†ujarnya.
Kendati begitu, ia memprediksi sejumlah komoditi seperti beras, tidak akan mengalami lonjakan harga yang signifikan. Sebab, harga beras kualitas medium diperkirakan tetap stabil jelang Lebaran maupun sesudahnya, karena pasokan dari sejumlah daerah relatif mencukupi.
Lagipula, permintaan akan berkurang karena sebagian besar masyarakat sudah mudik dan baru kembali seminggu setelah Lebaran.
“Pasokan beras mencukupi, sehingga bisa menekan lonjakan harga komoditas itu di tengah naiknya konsumsi masyarakat,†tuturnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: