Minimarket Menjamur, Pasar Tradisional Sepi

Omzet Pedagang Pasca Lebaran Menurun Hingga 50 Persen

Minggu, 26 Agustus 2012, 08:30 WIB
Minimarket Menjamur, Pasar Tradisional Sepi
ilustrasi, pasar
rmol news logo Pasca Lebaran, omzet pedagang pasar tradisional mengalami penurunan hingga 50 persen dibanding selama bulan puasa.

“Penurunan omzet pedagang tradisional hingga 50 persen dise­babkan menjamurnya gerai mi­nimarket dan pasar modern saat ini,” ujar Ketua Persatuan Pe­da­gang Pasar dan Warung Tradi­sional Usep Iskandar Wijaya.

Selain itu, penurunan omzet dika­renakan kondisi per­eko­nomian pasar tradisional tidak ter­ayomi oleh pemerintah kabu­paten/kota yang menyebabkan pangsa pasar beralih ke pasar mo­dern ataupun minimarket.

Ia menguraikan, setiap tahun­nya, tiap kios di pasar bisa me­raup pendapatan hingga Rp 2-3 juta per hari. Sedangkan untuk ta­hun ini rata-rata pedagang meng­hasilkan Rp 1-1,5 juta per hari. Hal tersebut diakibatkan oleh sub sektor sembako yang mengalami penurunan penjualan.

Dengan menjamurnya mini­market di tiap-tiap pelosok terse­but, lanjut Usep, pedagang sem­bako di pasar tradisional hanya menghasilkan Rp 700 ribu-Rp 1 juta per hari. Sebab, beberapa ruas jalan yang biasanya macet dise­babkan banyaknya pengun­jung yang hendak berbelanja tidak terjadi. Masyarakat lebih me­milih berbelanja di pasar swalayan.

“Pedagang sembako benar-benar babak belur, para pelang­gannya beralih ke minimarket,” keluhnya.

Sebab itu, pihaknya berharap pe­merintah bertindak tegas ter­hadap pemberlakuan peraturan terkait waktu pelayanan ritel dan mi­nimarket. Hal itu setidaknya bisa memberikan peluang ter­hadap pasar tradisional untuk dioptimalkan kembali.

Salah satu pedagang di pasar tradisional Cibinong, Karbun yang ditemui Rakyat Merdeka mengaku, biasanya pasca Le­baran belum banyak pedagang yang melakukan aktivitasnya se­hari-hari lantaran pasokan dis­tribusi belum lancar.

Dengan begitu, aktivitas jual beli bagi di pasar tradisional tentu mempengaruhi pendapatan para pedagang. “Sehari menjelang Lebaran biasanya ibu-ibu rumah tangga membeli bahan kebutuhan pokok lebih banyak dibanding hari biasa karena akan sibuk mem­buat kue, dan memasok ke­butuhan sesudah Lebaran. Biasa­nya  se­minggu se­sudah Lebaran banyak yang tidak berbelanja,” ujarnya.

Menurut Karbun, kondisi sepi ini akan bertahan hingga seming­gu sesudah Lebaran. Sementara in­tensitas masyarakat akan kem­bali meningkat perlahan pada pekan kedua sesudah Lebaran baik untuk kebutuhan pokok dan sandang.

Pedagang bahan pokok di Pasar Kramat Jati Aep Hidayat me­ngatakan, omzet penjualan pada hari pertama hingga empat hari setelah Lebaran menurun hingga 60 persen dibanding bulan puasa.

“Pembeli masih banyak yang mudik. Kami juga baru buka toko setengah hari,” katanya.

Menurut Aep, sepinya kondisi tersebut akibat para ibu rumah tangga banyak yang melakukan aksi borong pembelian bahan kebutuhan pokok sebelumnya, sehingga seminggu Lebaran banyak beristirahat.

Sekjen Asosiasi Pedagang Pa­sar Seluruh Indonesia Ngadiran opti­mis penimbunan beberapa kebutuhan bahan pokok untuk mengatrol harga komoditas tidak akan terjadi. Berdasarkan hasil pan­tauan di lapangan, harga ke­bu­tuhan pokok hingga pasca Le­baran bakalan relatif stabil, tidak mengalami kenaikan.

“Untuk pasokan mungkin aman, tapi kadang terkendala ma­salah dis­tribusi, makanya mung­kin ada be­berapa barang yang belum banyak ditemukan di pa­saran yang ber­akibat mahalnya harga,” ujarnya.

Kendati begitu, ia memprediksi sejumlah komoditi seperti beras, tidak akan mengalami lonjakan harga yang signifikan. Sebab, harga beras kualitas medium diperkirakan tetap stabil jelang Lebaran maupun sesudahnya, karena pasokan dari sejumlah daerah relatif mencukupi.

Lagipula, permintaan akan berkurang karena sebagian besar masyarakat sudah mudik dan baru kembali seminggu setelah Lebaran.

“Pasokan beras mencukupi, sehingga bisa menekan lonjakan harga komoditas itu di tengah naiknya konsumsi masyarakat,” tuturnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA