Guna mencapai target pertumÂbuhan ekonomi nasional tahun ini 6,5 persen, pemerintah didorong memperbaiki struktur pasar domestik. “Pertumbuhan berkuaÂlitas bukan saja diukur pada perÂsoalan kemiskinan dan pengangÂguran tapi sampai seberapa jauh maÂsyarakat domestik memiliki porsi paling besar dalam perÂtumbuhan itu,†ujar pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy.
Menurut dia, pertumbuhan positif perekonomian Indonesia adalah pertumbuhan semu yang disebut pertumbuhan tidak berkualitas karena domestik tidak memiliki porsi yang besar.
Selama Indonesia tidak memperbaiki struktur pasar doÂmestik di dalam negeri negeri, IndoÂnesia hanya dijadikan seÂbagai tempat tumbuh bagi neÂgara-negara lain.
Noorsy mencontohkan, Uni EroÂpa sedang mengalami krisis tapi tetap membantu Indonesia sebesar 550 juta euro. MeÂnurutÂnya, bantuan-bantuan negara yang krisis terhadap Indonesia itu hanya membuktikan mereka punya kepentingan terselubung.
“Bagaimana mungkin negara yang sedang krisis bisa memÂbantu Indonesia sebesar 550 juta euro. Itu kan tidak logis. KeÂpentingan tersebut cuma menÂjadikan Indonesia sebagai tempat tumbuh,†jelasnya.
Noorsy Malah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2012 berada di angka 6,2-6,3 persen, meski realisasi investasi cukup besar pada kuartal II 2012. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini akan lebih rendah atau sama keÂtimbang kuartal I jika Indonesia tidak bisa memperbaiki struktur perekonomian pada komoditas strategis, struktur komoditas pangan, struktur energi, infraÂstruktur serta stabilitas nilai tukar.
Menurutnya, perlambatan kinerja perdagangan memukul ekonomi Indonesia serta pemeÂrintah menghadapi masalah keÂsenjangan antara ekspor impor.
“Ketika ekspor Amerika, Eropa, dan China menurun damÂpakÂnya pendapatan Indonesia berÂkurang dan nilai tukarnya meÂlemah. Akibatnya ekspor kita mengalami perlambatan dan impor meningkat, itulah yang disebut gap neraca perdagangan,†terangnya.
Di sisi yang lain, bukan hanya diversifikasi ekspor yang harus diperbaiki agar Indonesia tidak terjebak dalam kategori sebagai neÂgara middle income trap. NaÂmun kualitas sumber daya maÂnusia (SDM) juga menjadi faktor yang sangat menentukan.
“Kita butuh perbaikan kualitas manusia untuk mendorong inoÂvasi. Tanpa itu, kita bisa mandek dalam jebakan pendapatan menengah,†tutur ekonom Indef Ahmad Erani Yustika. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: