Struktur Pasar Domestik Picu Pertumbuhan Ekonomi

Sabtu, 25 Agustus 2012, 08:13 WIB
Struktur Pasar Domestik Picu Pertumbuhan Ekonomi
ilustrasi, pasar
rmol news logo Guna mencapai target pertum­buhan ekonomi nasional tahun ini 6,5 persen, pemerintah didorong memperbaiki struktur pasar domestik. “Pertumbuhan berkua­litas bukan saja diukur pada per­soalan kemiskinan dan pengang­guran tapi sampai seberapa jauh ma­syarakat domestik memiliki porsi paling besar dalam per­tumbuhan itu,” ujar pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy.

Menurut dia, pertumbuhan positif perekonomian Indonesia adalah pertumbuhan semu yang disebut pertumbuhan tidak berkualitas karena domestik tidak memiliki porsi yang besar.

Selama Indonesia tidak memperbaiki struktur pasar do­mestik di dalam negeri negeri, Indo­nesia hanya dijadikan se­bagai tempat tumbuh bagi ne­gara-negara lain.

Noorsy mencontohkan, Uni Ero­pa sedang mengalami krisis tapi tetap membantu Indonesia sebesar 550 juta euro. Me­nurut­nya, bantuan-bantuan negara yang krisis terhadap Indonesia itu hanya membuktikan mereka punya kepentingan terselubung.

“Bagaimana mungkin negara yang sedang krisis bisa mem­bantu Indonesia sebesar 550 juta euro. Itu kan tidak logis. Ke­pentingan tersebut cuma men­jadikan Indonesia sebagai tempat tumbuh,” jelasnya.

Noorsy Malah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2012 berada di angka 6,2-6,3 persen, meski realisasi investasi cukup besar pada kuartal II 2012. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini akan lebih rendah atau sama ke­timbang kuartal I jika Indonesia tidak bisa memperbaiki struktur perekonomian pada komoditas strategis, struktur komoditas pangan, struktur energi, infra­struktur serta stabilitas nilai tukar.

Menurutnya, perlambatan kinerja perdagangan memukul ekonomi Indonesia serta peme­rintah menghadapi masalah ke­senjangan antara ekspor impor.

“Ketika ekspor Amerika, Eropa, dan China menurun dam­pak­nya pendapatan Indonesia ber­kurang dan nilai tukarnya me­lemah. Akibatnya ekspor kita mengalami perlambatan dan impor meningkat, itulah yang disebut gap neraca perdagangan,” terangnya.

Di sisi yang lain, bukan hanya diversifikasi ekspor yang harus diperbaiki agar Indonesia tidak terjebak dalam kategori sebagai ne­gara middle income trap. Na­mun kualitas sumber daya ma­nusia (SDM) juga menjadi faktor yang sangat menentukan.

“Kita butuh perbaikan kualitas manusia untuk mendorong ino­vasi. Tanpa itu, kita bisa mandek dalam jebakan pendapatan menengah,” tutur ekonom Indef Ahmad Erani Yustika. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA