Meski utang Pemerintah Indonesia mengalami penurunan lebih dari Rp 5 triliun pada periode Mei-Juni 2012, hal tersebut belum mengindikasikan kinerja yang baik. Soalnya, sistem pencatatan keuangan pemerintah amburadul.
Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri HarÂtati berpendapat, perlunya diÂlaÂkukan audit terhadap manaÂjeÂmen utang pemerintah oleh BaÂdan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Pasalnya, selama ini tidak ada yang benar-benar mengawasi utang karena hanya didasarkan keÂpada rasio utang yang aman di baÂwah level 60 persen terhadap GDP (Gross Domestic Product).
Menurut dia, selama ini IndoÂnesia sudah terjebak ke dalam strukÂtur gali lubang tutup lubang. “LoÂgikanya, kita membayar jauh lebih besar dari yang diterima, tetapi akumulasi stok utang terus menumpuk. Inilah manajemen utang di Indonesia,†tuturnya.
Enny menilai, sistem pencaÂtaÂtan keuangan pemerintah masih amÂburadul. Ini karena penÂdaÂpaÂtan dari pajak, hibah dan utang menjadi satu keranjang penÂdaÂpatan negara. Hal itu justru meÂnyulitkan untuk memÂbicaraÂkan efektivitas utang dan pengÂguÂnaannya. “Ini perlu dibenahi suÂpaya ada akuntabilitas ketika ada pos pengeluaran mana yang diÂbiayai utang dan pajak, supaÂya jelas,†ujarnya.
Pengamat ekonomi IchsanudÂdin Noorsy berpendapat, penuÂrunan utang tersebut tidak bisa dijaÂdikan satu-satunya pegangan bahÂwa pengelolaan utang pemeÂrintah sudah baik. Jumlah pembaÂyaran dan penerbitan utang henÂdakÂnya mempertimbangkan porÂsi belanja negara yang lain.
“Kita tahu utang dibiayai APBN yang sumber pendaÂpatanÂnya mengÂgunakan pajak. Pajak itu kan berÂasal dari masyarakat seÂhingga masÂyarakat yang harus meÂnangÂgung utang,†cetusnya.
Noorsy mengimbau pemerinÂtah lebih menekankan keperluan utang untuk kebutuhan langsung masyarakat. Tidak hanya menyeÂlamatkan beberapa sektor ekoÂnomi tertentu, seperti keuangan atau infrastruktur.
Ke depannya, upaya konkret meÂÂngurangi penerbitan utang juga perlu dilakukan pemerintah. TenÂtunya disertai perbaikan sistem penyerapan anggaran nasional.
Selain itu, Noorsy melihat, peÂmeÂrintah perlu memiliki lembaga yang mampu mengawasi dan memÂberikan rekomendasi kepada PreÂsiden terkait kinerja pengeÂlolaan utang yang independen di luar Kemenkeu.
“Apalagi, Presiden SBY perÂnah menyatakan tengah memperÂsiÂapkan gerakan penghematan naÂsional. Gerakan ini diharapkan bisa jadi solusi lonjakan subsidi BBM bila tahun ini harga minyak dunia semakin melonjak dan cegah utang baru,†jelasnya.
Apalagi, kata Noorsy, banyakÂnya utang pemerintah belum berimbas positif buat rakyat, jusÂtru utang memproduksi kemisÂkinan. Sebab, banyaknya uang yang harus dibayarkan pemerinÂtah berakibat pada hilangnya seÂjumlah peluang.
“Tidak bisa dipungkiri, utang membebani rakyat. Banyaknya APBN yang digunakan untuk memÂbayar utang, membuat rakÂyat makin sengsara. Kalau peÂmerintah menganggap utang tiÂdak mempengaruhi ekonomi, yang jelas utang membebani rakÂyat secara sosial,†tegasnya.
Posisi Rawan
Anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta mengatakan, kebijaÂkan utang luar negeri pemerintah saat ini dalam posisi rawan di teÂngah kondisi ancaman krisis keÂuangan global meski mengalaÂmi penurunan. Sudah saatnya pemeÂrintah melakukan perubaÂhan funÂdamental pada kebijakan utang secara keseÂluruhan yang dapat diÂmulai dari proses penyuÂsunan nota keuangan RAPBN 2013.
“Pemerintah juga harus mulai meningkatkan sistem penyerapan anggaran. Kalau tidak, akan seÂmakin banyak uang yang berasal dari utang tidak terpakai. Kalau loan-nya gratis, ya nggak apa-apa. Tapi ini ada commitment fee atau biaya bunga lainnya,†kata Arif kepada Rakyat MerÂdeka.
Politisi PDIP itu menyatakan, utang luar negeri Indonesia selama ini kebanyakan masih diperguÂnakan untuk sektor keuangan diÂbanding sektor ekonomi riil. Ia pun mengÂingatkan pemerintah agar mewaspadai pertumÂbuhan utang luar negeri yang meÂningkat pesat lima tahun terakhir.
Arief juga mengungkapÂkan beÂsarnya jumlah utang peÂmeÂrintah yang belum menunÂjukkan koreÂlasi signifikan terÂhadap kuaÂlitas pertumbuhan ekoÂnomi yang inÂdikatornnya ditunÂjukkan oleh perbaikan kualitas pelaÂyanan daÂsar kepada masyaÂrakat. Seperti infrastruktur (energi dan transÂportasi), pendidikan mauÂpun keÂsehatan.
Untuk diketahui, berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutip Rabu (24/7), total utang Pemerintah IndoÂnesia hingga Juni 2012 mencapai Rp 1.938,4 triliun setelah mengaÂlami kenaikan sebesar Rp 134,55 triliun dari total utang di akhir tahun lalu. Sedangkan adanya penurunan nilai utang sebesar Rp 5,74 triliun berdasarkan posisi utang di Mei 2012 yang sebesar Rp 1.944,14 triliun. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: