Harga Kedelai Melambung Mentan Tidak Pro Rakyat

Dirjen IKM Kemenperin Curigai Ada Pedagang Yang Bermain

Rabu, 25 Juli 2012, 08:06 WIB
Harga Kedelai Melambung Mentan Tidak Pro Rakyat
ilustrasi, Kedelai
rmol news logo .Menteri Pertanian (Mentan) Suswono dinilai tidak berpihak kepada rakyat karena mendukung kenaikan harga kedelai.

Ketua II Gabungan Koperasi Pro­­­dusen Tempe Tahu Indonesia (Ga­­koptindo) Sutaryo menya­yang­kan sikap Mentan. Menurut dia, Ga­koptindo tidak menolak ke­nai­kan jika naiknya landai, tapi yang ter­jadi sekarang naik­nya tidak wajar.

“Seorang menteri harusnya pro rak­yat, bukan tidak pro rakyat. Ka­m­i mendukung langkah peme­rin­tah untuk meningkatkan kese­jah­teraan petani. Namun, pro­du­sen dan konsumen juga harus di­lindungi,” katanya kepada Rakyat Mer­deka, kemarin.

Dia menegaskan, pihaknya te­tap tidak akan membuat tahu tem­pe pada 25-27 Juli 2012. Se­lain itu, dia juga meminta untuk jang­ka pendek bea masuk kedelai di­hapus dan jangka menengah­nya membuat instrumen untuk men­jaga stabilitas harga kedelai. Sedangkan jangka panjangnya ada­lah swasembada

Sutaryo mengaku, jika semua ke­­tergantungan kepada impor akan sangat berbahaya. Ia juga me­nyin­dir pemerintah yang tidak me­la­kukan apa-apa untuk menca­pai target swasembada kedelai 2014.

Mentan Suswono menyatakan, kenaikan harga kedelai yang mencapai Rp 8.000 per kilogram tidak masalah jika melihat man­faat tempe dan tahu yang baik buat kesehatan. “Harga tempe naik sedikit tidak apa-apa, toh man­faatnya untuk kesehatan baik,” ujar Suswono di kantor­nya, kemarin.

Menteri asal PKS itu menga­takan, kenaikan harga kedelai justru memberikan keuntungan kepada petani dan membuat me­reka ber­gairah untuk menanam kedelai. Se­harusnya konsumen tidak ma­salah dengan kenaikan sedikit har­ga itu. “Dibandingkan nambah un­tuk pulsa, mendingan nambah untuk makan,” ujarnya.

Menurut dia, jika harga kedelai te­tap Rp 5.000 per kg tidak akan me­narik bagi petani untuk me­nanamnya. Idealnya, harga ke­delai memang tetap di atas Rp 7.000 per kg, apalagi kalau sam­pai Rp 8.000 per kg.

Suswono mengungkapkan, akibat murahnya harga kedelai, ba­nyak petani yang tidak me­na­nam produk itu lagi dan beralih ke jagung karena lebih menjanjikan.

Suswono juga menegaskan, sa­at ini harga kedelai sudah dise­rahkan kepada mekanisme pasar, sehingga pemerintah tidak bisa lagi mengintervensi kenaikan har­ganya. Kegiatan operasi pasar juga sulit menurunkan harganya, ka­rena Bulog tugasnya hanya men­stabilkan harga beras.

Selain itu, pasokan kedelai da­lam negeri saat ini 60 persen­nya masih dipenuhi oleh impor dari Amerika Serikat. Dalam ne­geri hanya bisa memasok ke­bu­tuhan 800 ribu ton dari kebutuhan 3 juta ton per tahun. Menurutnya, saat ini pasokan kedelai dari Ame­rika ber­kurang. Pasalnya, Ne­geri Pa­man Sam itu sedang me­ngalami ke­marau panjang yang membuat harga ikut naik juga.

Dirjen Industri Kecil dan Me­nengah (IKM) Kementerian Per­industrian (Kemenperin) Euis Saedah mencurigai ada permai­nan pedagang di balik melon­jaknya harga kedelai.

Dia bercerita, saat melakukan sidak ke pasar Jatinegara dan Se­nen, ditemukan dua jenis kedelai impor yang dijual, yaitu jenis ke­delai yang bolong dijual dengan harga murah Rp 5 ribu per kg dan kedelai yang bagus harganya mencapai Rp 12 ribu per kg.

Setelah diteliti, ternyata jenis kedelai yang bolong-bolong itu seharusnya diperuntukkan buat pakan ternak. Karena itu, dia cu­ri­ga harga kedelai yang seka­rang mencapai Rp 8 ribu per kg meru­pakan hasil campuran ke­dua jenis tersebut. “Ini harus di­dalami lagi,” katanya.

Untuk diketahui, saat ini harga kedelai sudah tembus lebih dari Rp 8.000 per kg yang merupakan tertinggi selama beberapa tahun terakhir.

Pada Januari 2007 harga ke­delai eceran masih Rp 2.450 per kg, No­vember 2007 menjadi Rp 5.450 per kg, Desember 2007 naik Rp 6.950/kg. Kemudian Januari 2008 harga kedelai menjadi Rp 7.250 per kg.

Sebagai bentuk protes, para produsen dan perajin tempe tahu akan melakukan aksi mogok 25-27 Juli 2012 yang berakibat ma­kanan rakyat ini akan menghilang dari pasaran di Jabodetabek, Ban­dung dan Banten.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA