.Menteri Pertanian (Mentan) Suswono dinilai tidak berpihak kepada rakyat karena mendukung kenaikan harga kedelai.
Ketua II Gabungan Koperasi ProÂÂÂdusen Tempe Tahu Indonesia (GaÂÂkoptindo) Sutaryo menyaÂyangÂkan sikap Mentan. Menurut dia, GaÂkoptindo tidak menolak keÂnaiÂkan jika naiknya landai, tapi yang terÂjadi sekarang naikÂnya tidak wajar.
“Seorang menteri harusnya pro rakÂyat, bukan tidak pro rakyat. KaÂmÂi mendukung langkah pemeÂrinÂtah untuk meningkatkan keseÂjahÂteraan petani. Namun, proÂduÂsen dan konsumen juga harus diÂlindungi,†katanya kepada Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Dia menegaskan, pihaknya teÂtap tidak akan membuat tahu temÂpe pada 25-27 Juli 2012. SeÂlain itu, dia juga meminta untuk jangÂka pendek bea masuk kedelai diÂhapus dan jangka menengahÂnya membuat instrumen untuk menÂjaga stabilitas harga kedelai. Sedangkan jangka panjangnya adaÂlah swasembada
Sutaryo mengaku, jika semua keÂÂtergantungan kepada impor akan sangat berbahaya. Ia juga meÂnyinÂdir pemerintah yang tidak meÂlaÂkukan apa-apa untuk mencaÂpai target swasembada kedelai 2014.
Mentan Suswono menyatakan, kenaikan harga kedelai yang mencapai Rp 8.000 per kilogram tidak masalah jika melihat manÂfaat tempe dan tahu yang baik buat kesehatan. “Harga tempe naik sedikit tidak apa-apa, toh manÂfaatnya untuk kesehatan baik,†ujar Suswono di kantorÂnya, kemarin.
Menteri asal PKS itu mengaÂtakan, kenaikan harga kedelai justru memberikan keuntungan kepada petani dan membuat meÂreka berÂgairah untuk menanam kedelai. SeÂharusnya konsumen tidak maÂsalah dengan kenaikan sedikit harÂga itu. “Dibandingkan nambah unÂtuk pulsa, mendingan nambah untuk makan,†ujarnya.
Menurut dia, jika harga kedelai teÂtap Rp 5.000 per kg tidak akan meÂnarik bagi petani untuk meÂnanamnya. Idealnya, harga keÂdelai memang tetap di atas Rp 7.000 per kg, apalagi kalau samÂpai Rp 8.000 per kg.
Suswono mengungkapkan, akibat murahnya harga kedelai, baÂnyak petani yang tidak meÂnaÂnam produk itu lagi dan beralih ke jagung karena lebih menjanjikan.
Suswono juga menegaskan, saÂat ini harga kedelai sudah diseÂrahkan kepada mekanisme pasar, sehingga pemerintah tidak bisa lagi mengintervensi kenaikan harÂganya. Kegiatan operasi pasar juga sulit menurunkan harganya, kaÂrena Bulog tugasnya hanya menÂstabilkan harga beras.
Selain itu, pasokan kedelai daÂlam negeri saat ini 60 persenÂnya masih dipenuhi oleh impor dari Amerika Serikat. Dalam neÂgeri hanya bisa memasok keÂbuÂtuhan 800 ribu ton dari kebutuhan 3 juta ton per tahun. Menurutnya, saat ini pasokan kedelai dari AmeÂrika berÂkurang. Pasalnya, NeÂgeri PaÂman Sam itu sedang meÂngalami keÂmarau panjang yang membuat harga ikut naik juga.
Dirjen Industri Kecil dan MeÂnengah (IKM) Kementerian PerÂindustrian (Kemenperin) Euis Saedah mencurigai ada permaiÂnan pedagang di balik melonÂjaknya harga kedelai.
Dia bercerita, saat melakukan sidak ke pasar Jatinegara dan SeÂnen, ditemukan dua jenis kedelai impor yang dijual, yaitu jenis keÂdelai yang bolong dijual dengan harga murah Rp 5 ribu per kg dan kedelai yang bagus harganya mencapai Rp 12 ribu per kg.
Setelah diteliti, ternyata jenis kedelai yang bolong-bolong itu seharusnya diperuntukkan buat pakan ternak. Karena itu, dia cuÂriÂga harga kedelai yang sekaÂrang mencapai Rp 8 ribu per kg meruÂpakan hasil campuran keÂdua jenis tersebut. “Ini harus diÂdalami lagi,†katanya.
Untuk diketahui, saat ini harga kedelai sudah tembus lebih dari Rp 8.000 per kg yang merupakan tertinggi selama beberapa tahun terakhir.
Pada Januari 2007 harga keÂdelai eceran masih Rp 2.450 per kg, NoÂvember 2007 menjadi Rp 5.450 per kg, Desember 2007 naik Rp 6.950/kg. Kemudian Januari 2008 harga kedelai menjadi Rp 7.250 per kg.
Sebagai bentuk protes, para produsen dan perajin tempe tahu akan melakukan aksi mogok 25-27 Juli 2012 yang berakibat maÂkanan rakyat ini akan menghilang dari pasaran di Jabodetabek, BanÂdung dan Banten. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: