Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo menyindir DPR yang tidak pernah mendukung kebijakan pemerintah mengurangi beban subsidi listrik.
Agus mengatakan, pemerintah sangat sulit melakukan penyeÂsuaian tarif dasar listrik (TDL) kaÂrena harus melalui persetujuan DPR. Dan biasanya parleman meÂnunjukkan resistensi terhadap rencana pemerintah tersebut.
Padahal, kata Agus, setiap taÂhunnya subsidi listrik dalam AngÂgaran Pendapatan dan BeÂlanja Negara (APBN) terus meÂlonjak. Bahkan, jumlah subsidi listrik tahun ini mencapai Rp 93 triliun atau di atas target awal Rp 45 triliun.
“Kita akan bicarakan alternatif-alternatif yang ada apakah harga BBM akan dinaikkan atau listrik yang akan dinaikkan,†ujarnya.
Bekas Dirut Bank Mandiri itu mengusulkan, adanya penyeÂsuaiÂan tarif tenaga listrik secara berÂkala atau automatic tarif adjustÂment untuk menekan subÂsidi lisÂtrik. Jadi, setiap tiga bulan sekali TDL akan dinaikkan. KeÂnaikanÂnya akan diÂsesuaikan deÂngan kondisi yang ada dan forÂmula yang sehat. “Ini pernah kita lakuÂkan pada 1993-1996,†katanya.
Menurut Agus, dengan tarif yang berlaku sekarang, subsidi lisÂtrik banyak yang tidak tepat saÂsaran. Bahkan, golongan mampu juga menikmati subsidi yang seharusnya diberikan kepada masyarakat kecil itu.
Dia juga mengungkapkan, saat ini ada 50 industri besar yang maÂsih menikmati tarif murah itu. Padahal, perusahaan itu untungÂnya banyak. Karena itu, perlu segera dilakukan perbaikan tarif dan subsidi listrik.
Apalagi pemerintah belum perÂnah menaikkan TDL lagi sejak 2004. Menurut Agus, jika ini diÂbiarkan, maka beban APBN akan terus membengkak. “Kita melihat ini suatu yang mesti diperbaiki, karena kondisi seperti ini tidak baik. Subsidi makin besar, padaÂhal kita perlu investasi makin besar ke depan,†tandasnya.
Anggota Komisi VII DPR MuÂhammad Syafrudin menolak koÂmisinya disebut menghalang-haÂlangi pemerintah untuk menguÂrangi subsidi listrik. Kendati beÂgitu, diakui subsidi terlalu besar tidak bagus juga karena akan mengÂganggu anggaran lainnya.
“Yang sebenarnya terjadi, peÂmerintah belum mampu meÂnyaÂkinkan DPR untuk meÂnyeÂtujui kenaikan TDL. Selain itu, efiensi PLN juga belum makÂsimal. KareÂnanya, pemerintah dan DPR harus duduk bersama mengatasi subsidi listrik ini,†katanya.
Terkait masih banyaknya inÂdustri besar yang masih mengÂgunakan listrik subsidi, SyafÂrudin meminta BUMN listrik itu untuk mendatanya kembali dan mengÂganÂtinya dengan listrik non subÂsidi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik mengaku, pihaknya terus meÂrayu DPR untuk menyetujui keÂnaikan TDL tahun depan. Sebab, rencana kenaikan TDL 10 persen tahun ini gagal karena tidak diÂsetujui parlemen.
Menurut Wacik, hingga kini pemerintah masih menunggu persetujuan DPR soal kenaikan tarif listrik tahun depan. Tujuan pemerintah menaikkan TDL kaÂrena subsidinya terus melonjak dan tahun ini mendekati angka Rp 100 triliun.
Manajer Senior Komunikasi Korporat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bambang DwiÂyanÂto mengatakan, pihaknya meÂnyerahkan masalah subsidi dan kenaikan tarif kepada peÂmerintah dan DPR.
Bambang juga mengaku saat ini masih ada industri besar yang menikmati tarif subsidi listrik. “Kami sudah sampaikan hal itu kepada pemerintah dan DPR,†tandas Bambang. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: