Peneliti Yayasan Lembaga KonÂsumen Indonesia (YLKI) Indah Sukmaningsih mengaÂtakan, pemerintah harusnya berÂpikir dua kali sebelum mereaÂlisasikan rencananya tersebut. SeÂbab, rencana menaikkan tarif angÂkutan umum memiliki damÂpak besar terhadap kelangsungan hidup masyarakat kecil, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Alasan pemerintah menaikÂkan tarif itu apa. Kalau ingin meÂnutup kebutuhan pengusaha angÂkutan karena naiknya biaya opeÂrasional, jangan begini caranya,†kata Indah kepada Rakyat Merdeka kemarin. Toh, dia yakin, dengan kenaikan tarif ini, maka setoran untuk pengusaha angkutan juga akn seret. Karena masyarakat lebih memilih berpaling ke motor.
Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian PerhuÂbuÂngan (Kemenhub) berencana meÂnaikkan tarif angkutan darat seÂbesar 19 persen setelah menÂdaÂpatkan usulan dari Organisasi Angkutan Darat (Organda).
Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Suroyo Alimoesa mengklaim itu bukanlah keÂnaikan, tetapi penyesuaian harga karena tarif angkutan darat sejak 2009 belum naik.
Menurut Suroyo, kenaikan tarif itu merupakan usulan Organda yang awalnya 35 persen jika harÂga BBM subsidi dinaikkan. “TeÂtapi kenaikan ini juga harus diÂsesuaikan dengan pelayanan dari operator angkutan. Kami juga akan melihat demand (perÂmintaan)-nya dulu,†ujar Suroyo.
Lebih lanjut Indah menyaÂranÂkan pemerintah menunda keÂbijakan tersebut. Sebab, bukan cuÂma pengusaha angkutan yang terÂkena dampak dari tidak jadi naikÂnya harga BBM bersubsidi, tapi pengguna (masyarakat) juga terkena lantaran harga barang kebutuhan sehari-hari sudah naik.
“Kalau Kemenhub mengataÂkan harus ada kenaikan karena biaya operasional naik, memang biaya operasional hidup konsuÂmen tidak naik,†jelas Indah.
Menurutnya, pemerintah harus berdiri di tengah untuk mengukur kemampuan membayar konsuÂmen sebelum mengambil kebiÂjakan. Lebih baik pemerintah meÂngurungkan niatnya sebelum ada kepastian mengenai jadi tidaknya harga BBM bersubsidi naik.
Indah berharap pemerintah berpihak pada masyarakat kecil, bukan semata-mata kepada pengusaha angkutan umum.
Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi IndoÂnesia (MTI) Djoko Setijowarno berpendapat, bagi pemerintah ini situasi yang dilematis akibat tak kunjungada pembenahan kondisi angkutan umum. Dia juga sepenÂdapat agar pemerintah menunda menaikkan tarif angkutan umum
“Bila pemerintah nekat meÂnaikÂkan tarif, nantinya pengguna angkutan umum yang saat ini jumlahnya sedikit lama-lama bisa habis,†ancamnya.
Untuk itu, Djoko menyarankan peÂmerintah segera melakukan pengalihan BBM dengan memÂpercepat konversi minyak ke gas agar biaya operasi angkutan bisa ditekan. Disamping itu, peÂmeÂrintah juga harus memberikan conÂventer kit kepada pengusahan angÂkutan untuk lebih menekan budget.
“Ini adalah kepentingan pemeÂrintah. Biarpun tarif angkutan umum dinaikkan tapi kondisi armada angkutan umum masih memburuk, yang akan dirugikan ya pemerintah dan pengÂguna,†jelasnya. Djoko berpendapat saat ini pengguna angkutan umum baik di Jabodetabek atau daerah sudah berkurang,†tukasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: