Hashim bercerita, saat 2006 lalu dirinya masih tinggal di Eropa. Prabowo kemudian memanggilnya untuk membicarakan persoalan kualitas pendidikan dan gizi anak-anak Indonesia.
"Beliau menyampaikan kekhawatirannya mengenai kualitas pendidikan dan kualitas gizi kita,"kata Hashim dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Ia mengatakan, kala itu angka stunting di Indonesia disebut mencapai 30 persen. Namun, ia mengaku tidak mengetahui permasalahan soal stunting.
“Faktanya pada tahun 2006 itu, 30 persen anak-anak Indonesia mengalami stunting. Saya sendiri tidak tahu apa itu stunting. Maklum, saya ini seorang pengusaha,” kata Hashim.
Menurut Hashim, Prabowo saat itu menjelaskan panjang lebar mengenai persoalan kekurangan gizi yang tidak selalu disebabkan oleh ketiadaan makanan, tetapi juga rendahnya kualitas asupan sehari-hari.
“Anak-anak Indonesia bukannya kelaparan dalam arti tidak makan sama sekali, melainkan mereka mendapatkan asupan makanan yang kualitasnya buruk atau tidak tepat. Makanannya hanya nasi, nasi, dan nasi setiap hari, hanya ditambah sedikit garam atau sedikit pelengkap lainnya,” kata Hashim.
Hashim mengatakan, Prabowo sejak awal mengkhawatirkan dampak jangka panjang stunting terhadap kualitas sumber daya manusia, terutama ketika anak-anak tersebut memasuki usia produktif. Ia menilai, tingginya angka stunting berpotensi menghambat Indonesia memanfaatkan bonus demografi.
"Jadi, masalahnya seperti yang dikatakan Prabowo saat itu dan masih relevan hingga kini adalah bahwa mereka yang mengalami stunting dan kondisinya berlanjut hingga dewasa cenderung memiliki rata-rata IQ sebesar 72. Itulah angka yang kami terima: 72. Begitulah tingkat kecerdasan mereka yang mengalami stunting,"tegas Hashim.
"Mereka justru menjadi beban. Mereka menjadi tanggungan karena alih-alih berkontribusi pada perekonomian, sisa populasi yaitu 70 persen lainnya harus menopang mereka melalui program-program khusus dan semacamnya. Jadi, itulah masalah yang kami amati pada tahun 2006 dan 2007, dan langkah-langkah untuk mengatasinya menjadi landasan bagi program makan gratis kami," sambungnya.
Hashim menegaskan, kekhawatiran tersebut menjadi salah satu landasan pemikiran di balik program makan gratis yang kini dijalankan pemerintahan Prabowo saat ini.
Lebih lanjut, ia juga menepis anggapan bahwa program makan gratis merupakan gagasan tanpa preseden. Hashim mencontohkan pengalamannya bersekolah di Quintin Grammar School, London, Inggris, pada 1960-an, ketika ia menerima makan gratis selama dua tahun.
Menurut Hashim, program serupa juga telah diterapkan di banyak negara sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
"Ini adalah program yang sebenarnya didasarkan pada preseden, pada program-program sebelumnya yang sangat sukses. Jadi, salah satu hal yang ingin kami lakukan pemerintah ini adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia," tandasnya.
BERITA TERKAIT: