Mengutip data
Bloomberg, Rupiah bergerak ke level Rp17.879 per Dolar AS, menguat 8 poin atau 0,04 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan tersebut dipicu cadangan devisa RI yang berada di posisi 146,3 miliar Dolar AS atau setara Rp2.615 triliun hingga akhir September 2026.
Posisi cadangan devisa itu masih aman untuk membiayai 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Sementara dari sisi eksternal Rupiah dipengaruhi konflik geopolitik yang masih memanas di Timur Tengah.
"Hubungan Amerika Serikat dan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump soal permasalahan kosongnya pemimpin Iran," kata Ibrahim dalam risetnya.
"Para pemimpin mereka sudah tidak ada, jajaran pemimpin lapis kedua mereka juga sudah tidak ada, dan masalah terbesarnya adalah tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang menjalankan negara itu," kata Trump.
Di samping itu, laporan media mengindikasikan bahwa Israel sedang mempersiapkan potensi serangan terhadap Iran baik melalui koordinasi dengan AS maupun secara mandiri.
"Ini meningkatkan risiko eskalasi ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah," tandasnya.
BERITA TERKAIT: