Pengamat pasar modal Bobby Rantow menilai, perang Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia serta kekhawatiran intervensi pemerintah terhadap Bank Indonesia (BI) menjadi faktor yang membebani pasar saham.
“Kondisi geopolitik terutama perang Iran yang menjadi trigger utama. Penutupan Selat Hormuz menjadikan kenaikan harga minyak dunia sehingga otomatis membuat beban subsidi APBN meningkat dan akhirnya meningkatkan country risk-nya Indonesia di mata investor asing,” kata Bobby kepada
Kantor Berita Ekonomi dan Politik RMOL, Rabu, 14 Oktober 2026.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah akibat derasnya arus keluar modal atau
capital outflow turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan. Bobby menilai, kebijakan Presiden Prabowo Subianto, terutama terkait intervensi terhadap BI, ikut memicu keluarnya modal dari Indonesia.
“Untuk faktor internal, kebijakan Prabowo terutama intervensi ke BI membuat masifnya
capital outflow,” ujarnya.
Bobby juga menyoroti keterlibatan sejumlah bank BUMN dalam berbagai kebijakan dan manuver korporasi. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memicu kekhawatiran investor karena dinilai memiliki nuansa politik yang kuat.
“Meskipun ini keputusan bisnis, tapi nuansa politisnya sangat kuat,” katanya.
Selain itu, kebijakan penyedia indeks global MSCI turut menekan saham-saham berkapitalisasi besar. Penyesuaian portofolio atau
rebalancing oleh sejumlah lembaga investasi dinilai ikut berkontribusi terhadap pelemahan saham-saham unggulan.
“Faktor lain adalah efek kebijakan MSCI yang membuat beberapa lembaga melakukan
rebalancing portofolio mereka juga turut berkontribusi terhadap turunnya saham beberapa perusahaan
bigcaps,” tandasnya.
Berdasarkan data perdagangan yang disampaikan, IHSG melemah 3,31 persen dalam lima hari terakhir dan merosot 7,67 persen dalam sebulan. Meski demikian, pada penutupan perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, IHSG menguat tipis 17 poin atau 0,29 persen ke level 5.943.
BERITA TERKAIT: