Berdasarkan data lalu lintas, ribuan kendaraan memadati jalur tersebut dan keluar melalui Gerbang Tol Kutanegara serta Gerbang Tol Temporary. Sejak dibuka secara fungsional pada 19-25 Maret 2026, tercatat 43.725 kendaraan melintas dan terus bertambah hingga akhir pekan.
PT Jasamarga Japek Selatan (JJS) mencatat puncak arus balik terjadi pada Jumat (27/3) dengan total 9.578 kendaraan melintas dalam sehari. Dari jumlah itu, sebanyak 9.084 kendaraan masuk melalui Gerbang Tol Temporary, sementara 494 kendaraan melalui GT Kutanegara.
Secara keseluruhan hingga Sabtu, 28 Maret 2026, total kendaraan yang melintas di jalur fungsional Tol Japek II Selatan mencapai 64.990 unit. Lonjakan volume kendaraan mulai terasa sejak pagi hari. Peningkatan signifikan terjadi sejak pukul 09.00 WIB dan mencapai puncaknya pada sore hari.
Puncak kepadatan tercatat pada pukul 17.00 hingga 18.00 WIB dengan volume mencapai 1.525 kendaraan per jam. Rentang waktu pukul 14.00 hingga 19.00 WIB menjadi periode dengan tekanan lalu lintas tertinggi dengan volume kendaraan di atas 1.000 unit per jam.
Puncak arus pada Sabtu terjadi lebih awal, yakni pukul 16.00 hingga 17.00 WIB dengan volume 772 kendaraan.
Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menegaskan, pengoperasian jalur fungsional tersebut merupakan bagian dari strategi rekayasa lalu lintas untuk mengurai kepadatan arus balik.
“Kami melakukan rekayasa lalu lintas secara bertahap. Tol Japek II Selatan ini sangat membantu memecah arus kendaraan dari arah Jawa Barat menuju Jakarta,” kata Irjen Agus diberitakan
Kantor Berita RMOLJabar, Minggu, 29 Maret 2026.
Ia menambahkan, sebagian kendaraan dialihkan keluar melalui wilayah Setu, Kabupaten Bekasi untuk mengurangi beban di ruas tol utama.
“Kendaraan pribadi kami arahkan dari Sadang menuju Setu. Ini langkah strategis agar tidak terjadi penumpukan di titik-titik rawan kemacetan,” ujarnya.
Menurutnya, sistem buka-tutup yang diterapkan di jalur fungsional tersebut terbukti efektif menjaga kelancaran arus lalu lintas meskipun volume kendaraan meningkat.
“Walaupun volume tinggi, arus tetap terkendali. Ini berkat koordinasi yang baik antara petugas di lapangan dan sistem pengaturan lalu lintas yang diterapkan,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: