Demokrat: Meneguhkan Demokrasi Menerjang Badai

Sabtu, 20 Februari 2021, 15:45 WIB

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhyono/Net

SETELAH berbagai lembaga survei merilis hasil survei berupa elektabilitas partai, dimana Partai Demokrat menempati pringkat ke tiga dengan jumlah elektabilitas 12 persen. Dari data itu 49 persen kemenangan Partai Demokrat di Pilkada tahun 2020.

Dua kemenangan ini adalah prestasi yang sangat fantastis bagi Partai Demokrat, namun prestasi yang diraih oleh Partai Demokrat memghadirkan akibat dengan munculnya phobia politik dari kalangan lain dan oknum penguasa.

Hipotesis dari phobia politik terhadap Partai Demokrat bisa kita lihat dari berbagai masalah yang hadir belakangan ini.

Pertama munculnya Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD). Namun Alhamdulillah gerakan ini bisa  diantisipasi. Kedua gerakan BuzzeRp (kata netizen dalam medsos) yang secara sporadis memfitnah tentang proses bantuan musium Pak SBY di Pacitan. Padahal bantuan tersebut diinisiasi oleh pemerintah daerah sendiri bukan permintaan Pak SBY.

Ketiga munculnya gerakan pemfitnahan oleh buzzeRP secara masif terhadap Mbak Anissa Pohan dan Mas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Perilaku-perilaku seperti diatas bukanlah perilaku ksatria dan tidak mencerminkan nilai pancasila. Tidak ada penjelasan yang logik atas gerakan mereka kecuali Mereka bergerak atas dasar nafsu kekuasaan.

Mereka secara tidak langsung melabeli bahwa Demokrasi menurut mereka adalah wadah untuk memfitnah dalam menjatuhkan lawan demi sebuah kekuasaan dan kemenangan. Sebuah sikap dan karakter yang jau dari nilai luhur bangsa ini.

Perilaku para oknum penguasa dan buzzeRp yang candu akan fitnah dan selalu membuat kegaduhan dipublik berakibat pada lemahnya legitimasi publik pada pemerintahan.

Serangan buzzeRp pada lawan politik bukanya menghadirkan simpati atau empati yang ada adalah antipati. Sebabnya, cara mereka tidak beradab dan melangar kerukunan serta etika publik.

Dalam konteks ini, keberadaan BuzzeRp bukanya membantu kebijakan pemerintah malah merusak sistem demokrasi yang ada.

Secara prinsip Demokrasi mestinya dibangun dengan dialog dan komunikasi yang komunikatif biar tidak dominatif. Dalam pengertian pemerintah sebagai institusi utama harus komunikatif bila menuai kritik dari publik,  “lebih sederhanya balaslah kritik dengan argume bukan sentimen”.

Tujuannya agar demokrasi  dan keadilan sosial bisa berjalan konvergen pada kesejahteraan masyarakat (misi demokrat).

Untuk itu Pemerintah tidak boleh sewenang-wenang baik dalam mensikapi kritik maupun dalam mengambil kebijakan. Misalnya melakukan  perubahan sepihak tentang aturan yang sudah disepakati atau ditetapkan dan tidak boleh tebang pilih dalam menerapkan aturan hukum.

Jangan karena dalil nilai kemanfaatan atau kegunaan tertentu pemegang kekuasaan melakukan kesewenang-wenangan atau melakukan perubahan yang tidak visibel pada suatu tatanan aturan, kekuasaan tidak boleh selalu berdalil demi kebaikan dengan alibi  Rational Preudence (kebijaksanaan rasional).

Padahal pada hakikatnya adalah melakukan kepentingan diatas kepentingan “hiden agenda”, dengan memenuhi sistem hasrat yang dikonstruksi dengan argumen yang tidak cukup rasional.

Sebesar apapun badai menghantam Partai Demokrat, kesabaran, kesantunan dan kecerdasan tetap menjadi senjata utama untuk menghadapinya, inilah yang membuat para pengurus demokrat mulai dari DPP sampai ranting tetap solid dan loyal pada kepemimpinan Mas AHY.

Sebagai partai yang solid para pengurus dan satria-satria Demokrat tidak akan lekang terhadap badai yang menghantam. Selagi berdiri di atas prinsip kebenaran dan keadilan para pengurus dan satria demokrat akan menerjang badai penghianatan dan ketidak adilan.

Menghadapi badai bagi Partai Demokrat merupakan perjuangan tersendiri, karena Demokrat hadir bukan semata mata untuk kekuasaan tapi bagaimana kita mampuh menjaga dan merawat demokrasi dengan baik, agar masyarakat bisa hidup makmur dan sejahtera.

Menjaga dan merawat demokrasi adalah bagian dari tugas Partai Demokrat, dengan menghormati perbedaan dan keragaman berpikir yang ada.

Perbedaan dan keragaman berpikir (diversity of thinking) adalah anugrah yang dimiliki bangsa ini, dengan karagaman inilah demokrasi dan bangsa ini bisa tumbuh berkembang dengan baik.

Dan demokrat tetap konsisten dalam menjaganya karena keragaman adalah untuk persatuan (diversity of unity).

Sekeras apapun badai fitnah, hoax, cibiran dan hinaan yang diarahkan pada Partai Demokrat, Partai yang dipimpin AHY itu tetap prudent dalam menghadapinya.

Hal ini dilakukan demi menjaga nilai demokrasi dan persatuan. Hoaks dan fitnah tetap kita lawan dengan argumen dan ruang diskusi yang konstruktif.

Lagi-lagi tujuannya agar kemanusian kita hadir, bukan kritik dibalas dengan sentiman yg menyuburkan fitnah, hoax dan makian.

Semoga situasi yang tidak mendidik anak bangsa ini bisa segera berlalu dan kita bangun kembali bangsa ini dengan sepirit negara yang beretika dan bermoral sesuai dengan pancasila dan UUD 1945.



Qomaruddin
Penulis adalah Kader Partai Demokrat

Komentar


Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan • Polling 24 Tokoh Harapan, bersama Arief Poyuono dan Jerry Massie

Selasa, 23 Februari 2021
Video

Kunjungan Presiden Jokowi di NTT Undang Kerumunan Massa

Selasa, 23 Februari 2021
Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021

Artikel Lainnya

Tantangan Defisit Tugas Dirut Baru BPJS
Publika

Tantangan Defisit Tugas Diru..

25 Februari 2021 07:56
Tumbak Cucukan
Publika

Tumbak Cucukan

25 Februari 2021 03:55
UMKM Dan Penyelamatan Ekonomi Di Tengah Pandemi
Publika

UMKM Dan Penyelamatan Ekonom..

24 Februari 2021 19:51
Prahara Kampus
Publika

Prahara Kampus

24 Februari 2021 16:58
Duuuh, Gibran Rakabuming
Publika

Duuuh, Gibran Rakabuming

24 Februari 2021 10:34
The New Istiqlal
Publika

The New Istiqlal

23 Februari 2021 17:24
Rakyat Susah, Pejabat Malah Ditambah 'Cisnya'
Publika

Rakyat Susah, Pejabat Malah ..

23 Februari 2021 13:10
Adakah Yang Masih Berminat Menjadi Wapres?
Publika

Adakah Yang Masih Berminat M..

23 Februari 2021 11:13