Pertanian Adalah Kunci

Ilustrasi/Net

KEMARIN Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan GDP kita pada kuartal II tahun ini minus 5,32%. Jika kuartal depan juga minus, ekonomi Indonesia resmi terjerembap ke dalam resesi.

Saya tidak terlalu senang mengunggulkan GDP sebagai ukuran sukses (atau gagal) pembangunan. Tapi, jika melihat lebih detail data ini, kita sedikit punya gambaran tentang apa yang semestinya dilakukan. Tak hanya di musim wabah dan resesi, tapi dalam mengubah paradigma pembangunan kita keseluruhan.

Kita harus melihat GDP dalam detail per sektornya, bukan sekadar agregat keseluruhan. Sektor pertanian ternyata tumbuh positif 16% di musim wabah, saat sebagian besar sektor lain rontok.

Padahal, inilah sektor yang cenderung dipandang sebelah mata oleh para ekonom dan pengambil kebijakan. Beberapa tahun lalu misalnya, Menteri Chatib Basri, Menteri Ekonomi-Keuangan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengatakan pertanian sebaiknya kita abaikan saja karena sumbangannya terhadap GDP relatif kecil.

Chatib Basri menyarankan agar Indonesia mendorong sektor manufaktur atau lainnya. Pemerintahan Joko Widodo, yang tampak lebih obsesif terhadap pertumbuhan GDP, melanjutkan kebijakan itu dengan lebih agresif: menggenjot sektor transportasi, manufaktur, dan pariwisata. Dan cenderung menganaktirikan pertanian dan perikanan.

Chatib Basri benar untuk sebagian. Sumbangan sektor pertanian/perikanan kita terhadap GDP memang terus merosot dari tahun ke tahun dan kini hanya sekitar 13%. Tapi, itu semestinya bukan alasan untuk mengabaikannya. Justru memacu kita untuk memperkuatnya.

Pertanian masih tetap merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja (35% angkatan karja). Dan jika dibenahi, sektor ini tak hanya menjadi penyedia lapangan kerja ketika yang lain melempem di masa wabah, tapi juga mengentaskan kemiskinan banyak orang (petani dan nelayan) serta melumasi mesin ekonomi.

Bahkan jika kita setuju mengejar pertumbuhan GDP, sektor pertanian dan perikanan lah yang layak dimajukan. Bukan membangun jalan tol, kereta cepat, atau "10 Bali Baru" dan obsesi berlebihan pada "Revolusi Industri 4.0".

Pada kenyataannya, fondasi kokoh sektor pertanian adalah prasyarat penting industrialisasi. Jepang dan Korea Selatan menjadi seperti sekarang karena ditopang oleh sektor pertanian/perikanan yang kuat.

Kita sebaliknya, sudah mengabaikan pertanian tapi sektor manufaktur yang kita kejar pun tidak hebat-hebat amat, mengingat begitu banyak barang yang masih impor dari luar.

Memuliakan sektor pertanian dan perikanan mengubah banyak paradigma dalam pembangunan. Sektor ini bertumpu pada keragaman hayati (baik darat maupun laut) dan kelestarian alam, termasuk ketersediaan sumber air di dalamnya. Artinya, menuntut paradigma pembangunan yang ramah alam.

Aspek kedua adalah lahan. Kita menghadapi problem serius dengan ketimpangan kepemilikan lahan. Pemerintah harus lebih nyata melakukan reforma agraria, pemerataan lahan dan hak pengelolaan. Bukan cuma retorika.

Pemerintahan Jokowi, misalnya, mencanangkan program perhutanan sosial pada 2015. Selama periode pertama berjanji akan menyerahkan pengelolaan sekitar 13 juta hektar tanah negara kepada petani sekitar hutan. Tapi, sampai lima tahun kemudian sekarang ini baru sekitar 3-4 juta hektar yang direalisasi (30%).

Rasio lahan pertanian per penduduk kita cenderung rendah, kalah dari Vietnam dan Thailand. Tapi bahkan lahan pertanian yang ada sekarang pun banyak yang rawan bencana (kekeringan/banjir) serta rusak akibat penggunaan pupuk kimia yang tak ramah alam, sehingga produktivitasnya cenderung rendah. Teknik pertanian yang tidak sehat itu juga terus menerus mempermiskin keragaman hayati kita, modal utama sektor ini.

Yang tak kurang kalah penting jika kita ingin membangun pertanian adalah pembangunan sumberdaya manusia (petani dan nelayan) terutama di pedesaan. Pendekatan pemberdayaan yang sifatnya karitatif (dan charity) harus ditinggalkan, digantikan dengan program yang lebih substantif.

Salah satu problem paling serius dalam pertanian kita di luar soal budidaya adalah aspek organisasi. Sudah resource-nya sedikit, para petani dan nelayan tercerai berai, bersaing satu sama lain. Pengembangan koperasi pertanian (yang genuine) adalah prasyarat penting dalam pengembangan pertanian. (Sekitar 90% petani Jepang adalah anggota koperasi).

Dengan koperasi, petani dan nelayan bisa meningkatkan kapasitasnya, memperkuat daya tawar, belajar pengetahuan dan keterampilan baru, termasuk manajemen usaha tani yang lebih maju (dari budidaya, pengolahan hingga pemasaran).

Tapi, prasyarat terbesar untuk memperkuat pertanian adalah political will pemerintah, termasuk kesediaan untuk mengubah paradigma pembangunan: menjadi pertanian sebagai fondasi dan penggerak ekonomi. Ini juga harus diikuti pengarus-utamaan model pembangunan yang ramah alam dan ramah sosial (antiketimpangan).

Salah satu ujian terpenting apakah pemerintah serius mendorong pertanian adalah Omnibus Law, yang tidak ramah alam maupun sosial. Jika pemerintah (presiden maupun parlemen) meloloskan Omnibus Law, maka kita sebenarnya belum beranjak dari kubangan kekeliruan masa lalu.
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Sebelumnya

Mati Muda

Berikutnya

Profesi Laris

Video

BREAKING NEWS: Pasar Cepogo Boyolali Terbakar

Kamis, 17 September 2020
Video

Menguji Erick Thohir dan Jokowi, Kejanggalan Pertamina Gamblang Diurai Ahok

Jumat, 18 September 2020

Artikel Lainnya

Mati Muda
Publika

Mati Muda

20 September 2020 18:22
Profesi Laris
Publika

Profesi Laris

20 September 2020 17:06
Kisah Muhammad Dan Samir
Publika

Kisah Muhammad Dan Samir

20 September 2020 14:35
Sejarah Pengkhianatan PKI Akan Dihapus?
Publika

Sejarah Pengkhianatan PKI Ak..

20 September 2020 12:02
Mayoritas Dari Lima Prediksi LSI Denny JA Soal Virus Corona Sudah Dan Akan Terbukti
Publika

Mayoritas Dari Lima Prediksi..

20 September 2020 07:44
Peran K3 Dan Program Padat Karya Pemulihan Ekonomi Nasional
Publika

Peran K3 Dan Program Padat K..

20 September 2020 07:35
Penusuk Syekh Ali Jaber Pantasnya Kena UU Teroris
Publika

Penusuk Syekh Ali Jaber Pant..

20 September 2020 04:42
Jangan Sowan Rama Kiai Dulu
Publika

Jangan Sowan Rama Kiai Dulu

19 September 2020 08:37