Gelora Semangat Kebanggaan Nasional

Jaya Suprana/Net

SEBAGAI seorang insan yang syukur alhamdullilah dilahirkan di bumi Indonesia dan insyaAllah akan menghembuskan nafas terakhir juga di bumi Indonesia, jelas bahwa saya  bangga atas kebudayaan bangsa saya sendiri yaitu Indonesia.

Namun pada kenyataan cukup banyak warga Indonesia lebih bangga kebudayaan bangsa asing ketimbang kebudayaan bangsa Indonesia. Sebelum menghakimi orang lain, sebaiknya  saya perlu mawas diri terkait kebudayaan yang hadir pada jiwa-raga diri saya sendiri.

Kebudayaan

Pada setiap pagi hari saya berdoa Bapak Kami Yang Ada di Surga sesuai ajaran agama Nasrani yang berasal dari Timur Tengah kemudian berkembang merambah sampai ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kemudian saya menyikat gigi saya dengan sikat gigi yang konon pertama digunakan masyarakat China abad XV dengan bulu babi diikat di ujung tongkat kecil terbuat dari bambu atau tulang. Sikat gigi pertama diproduksi dalam bentuk seperti sekarang secara massal oleh Amerika Serikat.

Sikat gigi saya dioles tapal gigi yang juga pertama diproduksi oleh perusahaan Amerika Serikat sambil berkaca di cermin yang sudah digunakan para Firaun Mesir kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang melapisi bagian belakang lembaran kaca dengan perak atas prakarsa kimiawan Jerman bernama Justus von Liebig pada tahun  1835.

Seusai sikat gigi saya mandi di kamar mandi yang ditemukan pada reruntuhan Mohenjo Daro dan Harappa di peradaban Lembah Indus yang didirikan pada sekitar 4500 tahun yang lalu.

Setelah mandi saya sarapan roti yang sudah sekitar ribuan tahun yang lalu dibuat oleh masyarakat Mesir kuno.

Roti lapis berisi telur ayam dadar yang diduga berasal dari peradaban Persia kuno, saya letakkan di atas piring lalu saya lahap dengan sendok dan garpu yang semuanya bukan berasal dari peradaban Nusantara, namun  Eropa.

Tentu saja di tengah dominasi berbagai warisan kebudayaan serba mancanegara itu ,saya tidak lupa minum mahakarya warisan kebudayaan kesehatan kebanggaan nusantara sejati, yaitu jamu!

Menulis

Lalu saya ke meja tulis (kata meja berasal dari bahasa Portugis “mesa”)  untuk dengan menggunakan laptop buatan Taiwan yang berada di pulau Formosa menulis naskah (berasal dari bahasa Arab: nasikha) yang sedang anda baca ini sambil mengenakan kacamata yang mulai digunakan masyakarat Italia sejak abad 12 dan mendengarkan rekaman musik dangdut (pengaruh musik India dan Arab) dan kroncong (pengaruh moreska dari Portugal).

Untuk melihat waktu saya sudah tidak menggunakan jenis arloji yang diciptakan oleh Abraham-Louis Breguet yang pasti bukan orang Indonesia tetapi penunjuk waktu yang berada di telefon selular alias hape produksi Apple.Inc. yang didirikan Steve Jobs di Amerika serikat.

Dengan menggunakan hape saya bertelekomunikasi dengan para pimpinan Jamu Jago yang didirikan kakek saya, T.K. Suprana pada tahun 1918 di Wonogiri.

Peradaban

Segenap karsa dan karya peradaban yang saya gunakan sehari-hari itu merupakan bukti tak terbantahkan tentang kemahakayarayaan keanekaragaman kebudayaan yang hadir secara Bhinneka Tunggal Ika (bahasa Jawa Kuno terpengaruh bahasa Sanskerta) di persada Nusantara (pengaruh Sanskerta) yang sempat disebut Hindia-Belanda oleh Belanda kini telah diproklamasikan bung Karno dan bung Hatta sebagai Indonesia (nama digagas Earl dan Logan) sebagai sebuah negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta rahardja (rangkaian kata bahasa Jawa Muda terpengaruh Sanskerta).

Memang kebudayaan nusantara merupakan perpaduan berbagai kebudayaan mancanegara namun tentu bukan merupakan alasan untuk berhenti berjuang menggelorakan semangat kebanggaan nasional demi mempertahankan kedaulatan warisan kebudayaan bangsa Indonesia seperti batik, jamu, angklung, candi, keris, kroncong, dangdut, gamelan, tahu, tempe, rendang, sate, nasi goreng,  sambal, krupuk, wayang, serta aneka-ragam kearifan leluhur Indonesia yang secara Bhinneka Tunggal Ika nyata hadir di persada Nusantara masa kini. Merdeka.

Penulis adalah warga Indonesia yang sehari-hari menggunakan berbagai peralatan yang berasal dari kebudayaan mancanegara namun tetap bangga keanekaragaman warisan kebudayaan Indonesia sendiri

Kolom Komentar


Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020
Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Presiden-Presiden Dengan Rasa Malu & Sikap Tau Diri
Publika

Presiden-Presiden Dengan Ras..

08 Agustus 2020 19:01
Makin Ngawur Soal Gibran
Publika

Makin Ngawur Soal Gibran

08 Agustus 2020 07:19
Resesi Dihadapi Dengan Kedunguan
Publika

Resesi Dihadapi Dengan Kedun..

08 Agustus 2020 01:59
Bagaimana Individu Bersiap Hadapi Resesi
Publika

Bagaimana Individu Bersiap H..

07 Agustus 2020 20:44
HMP Versus Pengecut
Publika

HMP Versus Pengecut

07 Agustus 2020 10:03
Mereka Berteriak Dan Mempolitisasi Soal Reklamasi, Kita (Ancol) Memikirkan Kemanusiaan Di Saat Pandemik
Publika

Mereka Berteriak Dan Mempoli..

07 Agustus 2020 09:22
Krisis Akibat Covid-19 Sudah Masuk Tahap Kronis, Dan Recovery Sudah On The Track
Publika

Krisis Akibat Covid-19 Sudah..

07 Agustus 2020 08:47
Boedi Djarot Ribut Khilafah
Publika

Boedi Djarot Ribut Khilafah

06 Agustus 2020 19:41