Dampak Globalisasi Fobia

Senin, 24 Februari 2020, 23:18 WIB
Oleh: Jaya Suprana

Jaya Suprana/Istimewa

BERDASAR pengamatan langsung terhadap apa yang terjadi di lapangan profesional, Senior Manager Cargo Warehouse Bandara Soekarno-Hatta, Drs. Hartono Hadiyoto MM membenarkan gejolak gelisah terhadap dampak globalisasi fobia terhadap virus Corona yang terungkap di dalam naskah saya berjudul “Globalisasi Fobia” (17 februari 2020) sebagai berikut,

“Akibatnya all flights to china closed,  passengers dan cargo tutup, padahal pergerakan cargo dari China menggurita angkut lanjut ke kota-kota domestik Indonesia dan ke Australia serta Saudi. Hotel banyak yang kosong di Bali, tinggal turis dari Kanguru saja, kemarin flight dari China more than 10 times/day, artinya hampir ada traffic wisman 2.800-3.200 org/day, jika long of stay 4-5/hari, spending bisa sekitar 4-5 juta, jika dikali sekian ribu, dan sekarang hilang sampai 31 Maret 2020, jika tidak membaik? Belum dampak traffic cargo, jika flight 10 ton, transhipment CHINA-CGK/DPS-SWP/Saudi, sekarang NIL. Tapi kita harapkan Tuhan membantu umatnya menemukan vaksin yang mematikan virus corona“.

Harapan

Insha Allah, harapan Mas Hartono segera terkabul sebab telah terberitakan bahwa para ilmuwan kesehatan di RRChina telah melakukan uji klinis dan hasilnya menunjukkan bahwa mereka menemukan sebuah obat bernama Chloroquine Phosphate yang merupakan obat antimalaria, memiliki efek kuratif tertentu terhadap virus corona yang baru (Covid-19).

Melansir berita dari Xinhua 17 Februari 2020, Sun Yanrong, Wakil Kepala Pusat Nasional Pengembangan Bioteknologi di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi RRC, dalam konferensi pers mengatakan bahwa para ilmuwan telah sepakat menyarankan bahwa obat tersebut bisa dimasukkan dalam versi berikutnya dari pedoman pengobatan dan diterapkan dalam uji klinis yang lebih luas sesegera mungkin.

Obat tersebut dalam uji klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing, serta di Provinsi Guangdong China Selatan dan Provinsi Hunan di RRC dan telah menunjukkan kemanjuran yang cukup baik.

Indonesia

Apabila berita itu bukan hoax, maka menarik untuk menyimak fakta bahwa obat “baru” yang baru saja ditemukan para ilmuwan kesehatan terkemuka RRChina ternyata sudah sejak lama telah melazim dikenal dan digunakan masyarakat Indonesia sebagai obat antimalaria. Secara empirik mau pun kultural pada hakikatnya berita tersebut merupakan bukti bahwa sebenarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas.

Sayang kerap kali bangsa Indonesia tidak sadar bahwa sebenarnya bukan bangsa lain namun justru dirinya sendiri adalah bangsa yang cerdas. Mungkin akibat rasa kurang percaya diri secara berlapis-lapis yang sudah menahun bahkan mengabad. Memang selama berabad-abad rasa percaya diri masyarakat Nusantara sebelum disebut sebagai Indonesia memang telah dikerdilkan oleh kaum penjajah.

Rasa percaya diri bangsa terjajah lazim sengaja dikerdilkan agar lebih mudah dikuasai oleh bangsa penjajah. Marilah kita mulai belajar lebih percaya kepada diri kita sendiri secara sak madyo alias secukupnya sehat dan wajar.

Penulis adalah pembelajar kebudayaan dan peradaban dunia
EDITOR: DIKI TRIANTO

Kolom Komentar


Video

Update Covid-19 Sabtu 28 Maret, Positif 1.155 orang, dan 102 Meninggal

Sabtu, 28 Maret 2020
Video

Darurat Corona, Dr. Tirta: Ini Saatnya Karantina Wilayah Per Provinsi

Sabtu, 28 Maret 2020