Akhirnya Donald Trump Menemukan Jalan Untuk Menarik Pulang Tentaranya Dari Suriah

Tentara AS/Net

AMERIKA Serikat memutuskan untuk menarik pulang tentaranya dari Suriah, setelah mengalami kekalahan. Keputusan Gedung Putih ini sempat tertunda pelaksanaannya, karena ditentang oleh sekutu-sekutu Amerika yang membantu operasi militernya di Suriah.

Semula tentara Amerika yang didukung sejumlah negara Barat, Israel, dan negara-negara Arab Teluk, terjun ke medan tempur di Suriah dengan tujuan utama menggulingkan rezim Basyar Al Assad yang pro Iran dan Rusia.

Cerita perang Suriah dimulai dari gelombang musim semi Arab yang juga melanda negeri ini sejak tahun 2011. Rakyat Suriah turun ke jalan menuntut demokratisasi.  

Rezim Assad kemudian menghadapinya dengan menggunakan senjata. Akibatnya, rakyat melawan dengan menggunakan senjata pula.

Amerika dan sekutunya, kemudian memanfaatkan kelompok-kelompok perlawanan ini untuk menggulingkan rezim yang mengendalikan Damaskus. Berbagai bentuk dukungan kemudian diberikan, mulai dukungan politik, logistik, pelatihan militer, sampai senjata, dan personil militer.

Rezim Assad yang kewalahan menghadapi perlawanan ini, ditambah gempuran Israel yang menjadi tetangganya tidak pernah berhenti, kemudian meminta dukungan dari negara-negara lain.

Rusia dan Iran kemudian habis-habisan membantu Assad. Rusia memandang Suriah sebagai satu-satunya sekutu Moscow yang tersisa, setelah rezim Khadafi dan Saddam Husein rontok. Sementara Iran memandang Suriah sebagai fron terdepannya dalam menghadapi Israel.

Sebagaimana diketahui, dalam pertarungan bertahun-tahun yang mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal dunia, dan jutaan orang mengungsi, penguasa Damaskus akhirnya keluar sebagai pemenang.

Donald Trump kemudian memerintahkan tentara Amerika untuk pulang, karena telah kehilangan alasan utamanya untuk tetap berada di situ. Tentu saja sekutu-sekutunya keberatan dengan keputusan mendadak yang dibuat Gedung Putih.

Israel sebagai sekutu Amerika yang bertetangga dengan Suriah paling keberatan. Perginya tentara Amerika, tentu akan diikuti oleh tentara-tentara asal Eropa, yang akan membuat Israel akan menghadapi Suriah sendirian.

Suriah saat ini berbeda dengan sebelumnya, mengingat sejumlah penasehat militer asal Rusia dengan peralatan tempurnya masih berada di sana, ditambah tentara Iran dan gerilyawan Syiah yang datang dari Lebanon dan Irak masih berada di sana. Jika Assad menggerakkannya untuk mengambil kembali Dataran tinggi Golan miliknya yang diduduki Israel, maka dipastikan Tel Aviv akan kewalahan.

Sekutu Amerika lain yang juga keberatan adalah kelompok perlawanan Kurdi. Karena mereka akan kembali berjuang sendiri untuk memperoleh kemerdekaan.

Suku Kurdi mendiami wilayah yang berbatasan dengan Suriah, Turki, dan Irak. Mereka dianggap sebagai gerakkan separatis di tiga negara tersebut. Karena itu, Damaskus, Ankara, dan Bagdad memiliki sikap yang sama dan sering bekerjasama dalam menghadapinya, termasuk dengan menggunakan senjata.

Merapatnya Ankara ķe Teheran dan Moscow secara tidak langsung mendekatkan Ankara ke Damaskus, yang memberikan jalan bagi keduanya untuk membereskan kelompok perlawanan Kurdi yang berada di perbatasan kedua negara.

Kelompok perlawanan Kurdi selama ini kuat karena mendapatkan perlindungan dari Amerika. Washington telah memberikan isyarat tidak keberatan tentara Turki masuk, dengan kompensasi bahwa Ankara juga tidak mentolerir ISIS beroperasi di wilayah itu.

Bagi Ankara operasi militer ini perlu dilakukan, bukan saja untuk melumpuhkan gerakkan separatis Kurdi, akan tetapi sekaligus untuk membangun wilayah penyangga di perbatasannya dengan Suriah, serta untuk membuat jalur aman bagi pulangnya pengungsi Suriah yang jumlahnya hampir tiga juta, yang tentu sangat membebankan ekonominya.

Walaupun Trump sangat tidak suka dengan Erdogan, akan tetapi kini ia harus berkoordinasi agar penarikan pulang tentaranya berjalan aman, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan ia juga harus berterimakasih, karena Turki akan mengambilalih  tanggungjawab keamanan wilayah yang ditinggalkannya. Dengan demikian Trump punya alasan kuat dalam menarik pulang tentaranya.

Kini tinggal Israel dan para pemberontak Kurdi yang gigit jari, karena harus menghadapi Damaskus dan Ankara sendirian.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Kolom Komentar


Video

RMOL World View With Colombian Ambassador for Indonesia, H.E Juan Camilo Valancia

Senin, 10 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Jihad Melawan Covid-19 Corona
Muhammad Najib

Jihad Melawan Covid-19 Coron..

10 Agustus 2020 09:44
Suksesi Damai Merupakan Salah Satu Indikator Peradaban
Muhammad Najib

Suksesi Damai Merupakan Sala..

08 Agustus 2020 14:58
Bangsa Arab Dan Kesadaran Yang Terlambat
Muhammad Najib

Bangsa Arab Dan Kesadaran Ya..

04 Agustus 2020 12:57
Khilafah, Satu Istilah Dengan Multi Interpretasi
Muhammad Najib

Khilafah, Satu Istilah Denga..

01 Agustus 2020 13:48
Mengapa Pemerintah Dan Rakyat Yunani Paling Keras Menentang Kembalinya Hagia Sophia Menjadi Masjid?
Muhammad Najib

Mengapa Pemerintah Dan Rakya..

26 Juli 2020 17:08
Mengenal Tjokroaminoto Sebagai Bapak Ideologi Bangsa Indonesia
Muhammad Najib

Mengenal Tjokroaminoto Sebag..

23 Juli 2020 17:45
Dimensi Ideologis Di Balik Perubahan Status Hagia Sophia Menjadi Masjid
Muhammad Najib

Dimensi Ideologis Di Balik P..

20 Juli 2020 17:38
Benarkah Israel Negara Apartheid?
Muhammad Najib

Benarkah Israel Negara Apart..

18 Juli 2020 15:19