Perempuan Diperdagangkan, Butuh Perlindungan

Rabu, 10 Juli 2019, 09:41 WIB

Ilustrasi/Net

NASIB pedih kembali dialami perempuan Indonesia. Sebanyak 29 perempuan menjadi korban pengantin pesanan di China selama 2016-2019. Para perempuan ini dibawa ke China, dinikahkan dengan lelaki di negara tersebut, dengan iming-iming diberi nafkah besar. Namun ternyata mereka dipaksa bekerja di pabrik tanpa upah. Mulai dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam mereka bekerja namun semua upahnya masuk kantong suami atau ke mertua.

Para perempuan ini nekat menjadi pengantin pesanan karena tergiur iming-iming materi. Mereka dijanjikan mendapat nafkah yang besar sehingga bisa mengirim uang untuk keluarga di kampung. Sulitnya perekonomian ditambah dengan rendahnya pengetahuan menjadikan mereka tertipu rayuan calo yang menjadi perantara. Calo ini menerima ratusan juta dari konsumennya. Sekitar 20 juta diserahkan pada keluarga agar mau mengizinkan. Ketika perempuan tersebut sudah sampai di China, mereka kaget ternyata dipaksa bekerja secara tak manusiawi, namun para calo seolah lenyap ditelan bumi. Tak bisa dihubungi untuk dimintai pertanggungjawaban. Tinggallah nestapa yang harus dirasakan para perempuan tersebut. Ada yang berhasil kabur, namun lebih banyak yang tak bisa melakukan perlawanan.

Akibat Kapitalisme

Sungguh miris nasib perempuan Indonesia. Di dalam negeri kesulitan ekonomi, di luar negeri dijadikan budak penghasil dolar. Perempuan seolah barang dagangan, diperas tenaganya dan juga kecantikannya. Mereka lemah tanpa pelindung di negeri orang. Berada di tempat asing, dengan bahasa asing, bersama orang-orang asing. Tak tahu harus berbuat apa. Melapor juga dianggap percuma, karena dianggap masalah rumah tangga biasa, bukan perdagangan orang.

Sementara itu para calo masih bebas bergentayangan, terus mencari mangsa baru. Para gadis yang dikungkung kemiskinan dan kurang pendidikan. Mudah ditipu, mudah dirayu. Hanya dengan iming-iming uang jutaan mereka bisa memperoleh calon pengantin pesanan. Lantas mengirim para perempuan itu tanpa peduli keselamatan dan kehormatannya. Selanjutnya para calo itu menikmati keuntungan berpuluh juta Rupiah. Inilah bisnis di era kapitalisme.

Saat ini kita hidup di sistem kapitalisme. Karena berasaskan sekularisme, sistem kapitalisme membolehkan segala hal. Semua bisnis boleh dijalankan, asal punya modal. Termasuk bisnis tubuh perempuan. Padahal perdagangan orang adalah perkara ilegal, melanggar undang-undang. Namun demi meraih keuntungan sebesar-besarnya, aturan pun dilanggar. Mirisnya, pemerintah tak kunjung serius untuk melindungi warganya di luar negeri. Kisah buruh migran sudah demikian pilu sejak bertahun-tahun lalu, namun tak ada upaya serius untuk melindunginya. Jadilah para buruh migran ini berjuang menyumbang negara melalui devisa hasil keringat mereka. Namun negara tak pernah benar-benar berusaha melindungi mereka. Negara lebih sibuk mengurusi hasil devisa, tanpa peduli para buruh migran yang menjadikan nyawa sebagai taruhan.

Selama kita masih hidup di alam kapitalisme, perdagangan perempuan akan terus terjadi. Sistem ekonomi kapitalis menciptakan kemiskinan luar biasa. Sehingga mendorong perempuan rela melakukan apa saja demi mendapatkan uang. Kapitalisme juga memandulkan fungsi kepemimpinan pada lelaki sehingga enteng saja membiarkan putrinya bertaruh nyawa menjadi buruh migran. Pergi ke tempat asing, tanpa pelindung, tanpa jaminan keselamatan, hingga seringkali nyawa dan kehormatan mereka dipertaruhkan.

Sistem kapitalisme juga telah memandulkan negara. Negara gagal mewujudkan kesejahteraan di dalam negeri. Negara memang membangun infrastruktur, namun untuk para kapitalis, bukan untuk rakyat. Jika rakyat ingin merasakan infrastruktur, mereka harus merogoh kocek dalam-dalam. Kemiskinan akhirnya memaksa para perempuan menjadi tulang punggung keluarga demi mewujudkan mimpi bisa hidup layak.

Melindungi Perempuan

Sejatinya, perempuan adalah makhluk mulia yang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Maka laki-laki harus menjadi pemimpin yang baik dalam rumah tangga. Menjaga anak perempuan sebaik-baiknya agar selalu aman. Memastikan keselamatan mereka meski kesibukan sangat menyita waktu. Menyediakan pendidikan berkualitas bagi anak perempuan agar mereka memiliki kedewasaan berpikir, tak mudah ditipu dan diperdayakan.

Namun mengandalkan solusi individual saja tak akan efektif, negara harus hadir untuk melindungi para perempuan, di dalam maupun luar negeri. Melindungi nyawa dan kehormatan mereka. Juga mewujudkan kesejahteraan di dalam negeri, agar tak adalagi perempuan terpaksa bekerja di luar negeri.

Peristiwa ini seharusnya membuat semua pihak introspeksi diri. Bahwa perdagangan perempuan ini terjadi karena lemahnya perlindungan negara. Sehingga solusinya adalah mendorong negara menjalankan fungsinya. Negara harus mewujudkan kesejahteraan, mencerdaskan para perempuan dan menghukum para pelaku perdagangan orang. Solusinya bukanlah dengan ide kesetaraan jender. Karena ide ini tak melindungi perempuan, namun justru mendorong para perempuan untuk bebas keluar rumah sekehendak hatinya. Bahkan aturan agama dianggap kekangan. Jika demikian, akan makin banyak perempuan menjadi korban perdagangan orang. Sungguh bukan kondisi ini yang kita harapkan. Stop perdagangan perempuan, mari beri perlindungan pada perempuan.

Ragil Rahayu, SE
Member Komunitas Revowriter.

Kolom Komentar


Video

Erick Thohir Cocok Jadi Menpora

Selasa, 15 Oktober 2019
Video

Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang

Selasa, 15 Oktober 2019
Video

Walikota Medan Terjaring OTT KPK

Rabu, 16 Oktober 2019