"Polisi bandara ingin melepas jilbab seorang wanita muslim. Wanita muslim tersebut menolak sehingga dia terjatuh akibat ditembak dengan pistol listrik. Â
Perhatikan bagaimana suaminya bereaksi. Sang suami dengan kesatria menghajar polisi bandara... Itu gambaran, betapa muslimah mempertahankan syariah yang ia jalankan secara istiqamah. Dan bagaimana seorang suami "berani mempertaruhkan nyawanya" untuk mempertahankan harga diri istrinya (keluarga). Demi Allah, umat Islam akan mulia dengan jihad. Pertahankan izzah dan kemuliaan Islam."
Memprihatinkan
Terlepas hoax atau tidak, selama merasa prihatin belum dilarang maka rekaman video tersebut membuat saya merasa prihatin.
Saya prihatin atas kesewenang-wenangan plus kebengisan seorang polisi bandara yang tega menembak kepala seorang perempuan dengan pistol listrik hanya akibat sang muslimah menolak melepas jilbab.
Tampaknya sang penembak itu menderita gangguan jilbabofobia sehingga tidak mampu dan tidak mau mengendalikan angkara murka diri sendiri.
Apapun alasannya seorang polisi yang kebetulan berjenis kelamin lelaki tidak pantas maka tidak boleh melakukan kekerasan terhadap seorang perempuan. Â
Dengan pistol listrik tega menembak kepala seorang perempuan hanya akibat tidak mau melepas jilbab merupakan citra aib seorang lelaki pengecut sangat amat memalukan. Perilaku lelaki itu benar-benar berhasil merendahkan harkat dan martabat kaum lelaki. Â
Kekesatriaan Sebaliknya adegan kekesatriaan seorang suami membela istri dari angkara murka seorang polisi bandara penderita jilbabofobia itu sangat membanggakan marwah kaum lelaki.
Bahwa sang suami berani seorang diri gagah perkasa nekad melawan para polisi bandara mengeroyok diri sang suami yang bertekad ingin membela sang istri sungguh mengagumkan.
Keperwiraan sang suami maju tak gentar membela istri merupakan citra kekesatrian sejati yang benar-benar menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum lelaki.

Penulis adalah pembelajar makna kekesatriaan