"Ia menyatakan tidak akan berpolitik pasca tak lagi menjabat sebagai presiden dengan ingin menimang cucu, tetapi nyatanya malah membajak PSI," kata Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza kepada
RMOL, Rabu 4 Februari 2026.
Menurutnya, publik juga mencermati banyak pernyataan Jokowi yang dalam praktiknya tidak sesuai.
"Misalnya, ia mendukung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden ternyata malah diabaikannya ketika Ganjar diusung oleh PDIP," kata Efriza.
Fakta lain, Jokowi menyatakan mendukung penguatan KPK, namun terungkap justru dia sebagai aktor yang memperlemah lembaga anti rasuah.
"Begitu juga, ia selalu berbicara mendukung demokrasi, tetapi malah menjadi aktor dari kemunduran demokrasi di Indonesia pada tahun kedua pemerintahannya," sambung Efriza.
Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) ini menduga, Jokowi berupaya untuk mempertahankan kekuasaannya lewat anak-anaknya, dengan memastikan PSI berada di bawah pengaruhnya.
"PSI dijadikan mainan politik anak bungsunya, Kaesang Pangrep," demikian Efriza.
BERITA TERKAIT: