Etika Politik Dalam Al-Qur'an (49)

Pelajaran Diplomasi Publik (15)

Mendramatisasi Ketaatan Beragama

Kamis, 21 Maret 2019, 08:41 WIB
Pelajaran Diplomasi Publik (15)
Nasaruddin Umar/Net
BANYAK cara yang dilakukan orang untuk memperkenalkan dan mengunggurkan diri, tentu untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Namun ada suatu sifat yang kelihatannya baik tetapi dilarang Al-Qur'an dan hadis. Sifat itu bu­kan hanya tidak baik untuk dalam dunia diplomasi publik tetapi di mata Allah Swt dan masyarakat pun tidak terpuji bahkan dilarang. Sifat tersebut ialah mendra­matisasi ketaatan dalam berbibadah. Banyak sekali orang ingin dipuji orang lain dengan cara memperkenalkan diri sebagai ahli ibadah atau selalu menjauhkan diri dari yang dilarang Tu­han atau agama, namun sesungguhnya ung­kapan itu dimaksudkan untuk memperkenal­kan kekhususan dan keutamaan dirinya. Sifat seperti ini di mata Allah dan Rasulnya tidak baik tentu di mata masyarakat pun sesungguh­nya juga tidak baik.

Suatu ketika Rasulullah didatangi seorang sahabat Nabi dengan mengatakan, al-ham­dulillah saya sudah lama tidak lagi makan siang. Rasulullah bertanya kenapa? Maka ia menjawab karena berpuasa sepanjang hari. Rasulullah bukannya memberikan apresia­si positif tetapi marah dengan mengatakan, aku Nabi tetapi masih memberi hak terhadap anggota badan untuk makan. Dalam hadis lain Rasulullah meminta sahabat-sahabat­nya cukup dengan puasa Dawud atau puasa Senin-Kamis.

Tidak lama kemudian datang lagi seorang sahabat kepadanya dan menyampaikan ke­pada Rasulullah bahwa alhamdulillah, su­dah lama saya tidak tidur malam. Rasulullah bertanya kenapa? Sahabat itu menjawab, malam-malam aku gunakan shalat sepan­jaang malam. Rasulullah menjawab dengan agak kesal dengan mengatakan, saya ini Nabi tetapi tetap memberikan hak-hak badan saya untuk tidur.

Sahabat lain datang lagi menyampaikan ke­pada Rasulullah kalau dirinya sudah tidak per­nah lagi berhubungan suami isteri. Rasulullah bertanya kenapa? Lalu menjawab habis wak­tu saya untuk beribadah dan membersihkan diri. Rasulullah menanggapinya dengan agak marah, saya ini nabi tetapi masih tetap mem­berikan hak-hak kepada isteri-isteri saya.

Dialog Rasulullah dengan sahabat-sa­habatnya sebagaimana dijelaskan di atas menunjukkan bahwa beribadah sekalipun jika berlebihan juga tidak baik. Segala se­suatu yang berlebihan (al-ghuluw) adalah tidak baik. Rasulullah pernah bersabda: "Se­baik-baik urusan ialah yang dilakukan den­gan biasa-bisa atau sedang-sedang saja, sekalipun itu sedikit". Apalagi perbuatan yang memperatasnamakan Islam dengan cara-cara kekerasan, seeperti pengeboman dan penyanderaan (tasyaddud), samasekali tidak ada tempatnya di dalam agama.

Beragama secara berlebih-lebihan tidak sejalan dengan tujuan ibadah itu sendiri, yaitu untuk mewujudkan ketenangan, keten­teraman, kedamaian, dan kebahagiaan. Itu­lah sebabnya para ulama menetapkan kae­dah bahwa: Al-Ashlu fi al-'ibadah al-haram illa ma dalla 'ala jawazih (pada dasarnya se­mua ibadah itu haram kecuali yang ada dalil khusus yang membenarkannya).

Ukuran baik atau buruknya seseorang tidak diukur oleh berlebih-lebihannya seseorang dalam menjalankan ibadah melainkan secara wajar menjalankan keseimbangan di dalam hidupnya. Rasulullah pernah mengatakan: Khairun nas anfa'uhum lin nas (sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi sesa­manya). Dalam Al-Qur'an surah al-Ma'un leb­ih tegas lagi menyatakan bahwa orang-orang yang beragama secara palsu atau kamuflase ialah mereka yang tidak care dengan anak-anak yatim dan fakir miskin. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA