Negara Madagaskar, negeri jauh tetapi akrab dengan telinga Indonesia. Madagaskar salahsatu dari empat pulau terbesar di Samudera Hindia, tepatnya lepas pesisir timur Afrika. Terdapat juga beberapa pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Juan de Nova, Pulau Europa, Kepulauan GlorioÂso, Pulau Tromelin Island, dan Bassas da India. Warga Madagaskan enggan disebut sebagai etÂnik Afrika. Madagaskar dihuni sekitar 22 juta jiwa, 7 % di antaranya muslim, dan data lain menyeÂbutkan 10 sampai 15 % dari total populasi. UmÂumnya mereka beragama lokal (52%) dan Kristen (41%).
PEW Research Center menyatakan penÂduduk muslim di Madagaskan mencapai 215.000 jiwa. Sebagian besar komunitas muslim itu tingÂgal di bagian barat pulau yang dulu disebut ReÂpublik Malagasy. Umumnya mereka imigran dari Yaman, Iran, Zanzibar, dan negara lainnya, terÂmasuk dari Indonesia (Jawa) yang dulu dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pekerÂja kebun di sana. Sekitar 50 ribu pengungsi musÂlim dari India, Komoro dan Somalia, berdiam di pulau seluas 587 kilometer persegi itu.
Agama Islam di Madagaskar mengalami perkembangan pesat. Selama dekade terakhir banÂyak penduduk asli setempat menjadi mualaf. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah masjid menÂingkat dari hanya bisa dihitung jari menjadi puluÂhan buah. Sebuah laporan menyebutkan saat ini sedikitnya 50 masjid dan pusat Islam berdiri di Madagaskar. Komunitas muslimin juga memiÂliki restoran yang menyuguhkan makanan halal. Mereka juga mendirikan klinik, sekolah, yayasan sosial, hingga berkiprah di ranah ekonomi dan politik. Dakwah Islam bebas disiarkan melalui televisi ataupun radio nasional. Islam tidak menÂgalami hambatan berarti di negeri ini.
Seperti daratan Afrika tetangganya, Islam masuk ke Madagaskar melalui jalur perdagangan orang-orang Arab-Muslim sekitar abad ke 10 atau 11 M. Ada juga melalui hubungan perbudakan seperti warga Zanzibari yang dipekerjakan di pantai timur Afrika dan warga yang dibawa oleh pemerintah kolonial sebagai tenaga kerja perkebunan, sepÂerti yang berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Komunitas Jawa di Madagaskan masih tetap mempertahankan keaslian budaya Jawanya. Yang agak lucu sampai saat ini anak-anak turunan Jawa masih membangun masjid yang menghadap ke barat, menirukan masjid di Pulau Jawa, meskipun masjid yang dibangun oleh komunitas lain menghÂadap kebalikannya. Kesenian Jawa seperti GameÂlandan tradisi batik masih lestari di negeri ini. UmÂumnya mereka masih bisa berkomunikasi bahasa Jawa tetapi tidak memahami bahasa Indonesia. Saat penulis masih studi di Laiden University, beÂberapa mahasiswa Madagaskar mengajari penuÂlis berbahasa Jawa. Mereka juga mempertahÂankan Islam sunni dengan mazhab sunni seperi di Indonesia.