Penyebaran Agama Kristen di Asia: Peran Budaya, Perdagangan, dan Kolonialisme

Senin, 12 Januari 2026, 06:25 WIB
Penyebaran Agama Kristen di Asia: Peran Budaya, Perdagangan, dan Kolonialisme
Buni Yani. (Foto: Dokumentasi RMOL)
SUDAH jamak anggapan bahwa Kekristenan di Asia datang bersama kolonialisme bangsa Eropa, meskipun data sejarah menunjukkan agama Kristen sudah hadir jauh lebih awal dari itu. 

Pendapat terakhir ini ditopang oleh fakta bahwa agama Kristen masuk Asia melalui kedatangan para rasul awal yang menyebarkan agama Kristen.

Rasul Santo Tomas dipercayai mendarat di Pesisir Malabar (sekarang Kerala), India pada tahun 52 M. Ia membaptis pemukim Yahudi setempat serta kaum Brahmana dan mendirikan tujuh gereja. 

Bukti sejarah dalam bentuk koin Romawi dan manuskrip Melayu-Suriah kuno menunjukkan bahwa komunitas Kristen di Malabar sudah ada setidaknya pada abad ke-2 atau ke-3 M.

Di Tiongkok, agama Kristen masuk jauh sebelum kedatangan misionaris Yesuit pada abad ke-16. Bukti paling penting berasal dari masa Dinasti Tang. Seorang biarawan bernama Alopen tiba di Chang'an (ibu kota Tiongkok saat itu) pada tahun 635 M. Kedatangannya disambut baik oleh Kaisar Taizong yang mengizinkan penyebaran agama Kristen dan pendirian biara-biara.

Di Indonesia, meskipun Kekristenan sering diasosiasikan dengan era kolonial Belanda dan Portugis, terdapat catatan yang menunjukkan keberadaan komunitas Kristen sudah berusia lebih dari seribu tahun.

Sebuah naskah kuno karya Abu Salih al-Armini—seorang sejarawan Armenia—mencatat adanya komunitas Kristen di Pancur (yang diidentifikasi sebagai Barus) di pesisir barat Sumatera Utara. Komunitas ini diperkirakan merupakan penganut Kristen Nestorian (Gereja Asiria Timur) yang datang melalui jalur perdagangan kapur barus.

Keberadaan umat Kristen di wilayah Nusantara pada abad ke-7 hingga ke-8 ini menunjukkan bahwa Indonesia telah terhubung dengan jaringan gereja-gereja di Persia dan India sejak masa awal kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Selain catatan tertulis tentang Barus, penemuan di situs Bongal, Tapanuli Tengah, memberikan bukti fisik yang kuat. Ekskavasi di situs ini menemukan berbagai benda seperti cincin dengan simbol salib, manik-manik Romawi, dan sendok liturgi Bizantium yang diperkirakan berasal dari abad ke-3 hingga ke-7 M.

Penyebaran agama Kristen di Asia tidak dapat dipisahkan dengan perdagangan global pada masa itu. Para pedagang Kristen dari Timur Tengah dan Asia Tengah mengikuti Jalur Sutra menuju Tiongkok dan Jalur Rempah menuju pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara. 

Mereka bukan hanya membawa barang dagangan, tetapi juga iman dan budaya yang kemudian berasimilasi dengan tradisi lokal di berbagai pelosok Asia.

Di sepanjang Jalur Sutra, Kekristenan tidak hanya disebarkan oleh biarawan, tetapi juga oleh para pedagang bangsa Sogdiana (dari wilayah Uzbekistan dan Tajikistan saat ini) yang menjadi penguasa ekonomi rute tersebut. 

Kota-kota seperti Merv, Samarkand, dan Kashgar menjadi pusat pemikiran Kristen yang penting. Di tempat-tempat ini, Gereja di Timur mendirikan keuskupan metropolitan yang melayani beragam etnis, termasuk bangsa Turk dan Mongol.

Penemuan arkeologis di situs Bulayïq, dekat Turpan (Tiongkok barat), mengungkap ribuan fragmen naskah Kristen dalam berbagai bahasa seperti Suriah, Sogdiana, dan Uighur Kuno. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke-9 hingga ke-12, Kekristenan adalah agama yang sangat terpelajar dan multibahasa di Asia.

Puncak penyebaran Kekristenan di daratan Asia terjadi selama masa Kekaisaran Mongol (abad ke-13 hingga ke-14). Banyak putri dari suku-suku Mongol yang kuat, seperti suku Kerait dan Ongut, adalah penganut Kristen yang taat. 

Melalui pernikahan, mereka membawa pengaruh Kristen ke dalam istana para Khan, termasuk istri kesayangan Hulagu Khan, Dokuz Khatun.

Seorang biarawan Turk-Uighur dari Tiongkok utara terpilih menjadi Patriark Gereja di Timur di Baghdad pada tahun 1281. 

Peristiwa ini menunjukkan betapa luas dan terintegrasinya jaringan Kristen Asia pada masa itu, di mana seorang pemimpin spiritual dari Timur Jauh memimpin gereja yang berpusat di Timur Tengah.

Abad penjelajahan Eropa pada abad ke-16, yang kemudian berubah menjadi kolonialisme global, memberikan momen penting bagi penyebaran agama Kristen. 

Bangsa Spanyol dan Portugis yang Katolik membawa agama mereka ke Asia. Para penjelajah dunia baru ini tidak hanya datang mencari kekayaan dan kemasyhuran, namun juga membawa Bible bersama mereka.

Praktik ini dikenal sebagai gold, glory dan gospel—yaitu trilogi yang sudah menjadi satu-kesatuan dalam misi bangsa Eropa ke negeri-negeri Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Karena agama Kristen masuk Asia bersama kolonialisme, maka mereka juga membawa modernitas dan westernisasi.

Di Filipina, masuknya agama Kristen ditandai dengan perayaan Misa Katolik pertama di Pulau Limasawa pada hari Minggu Paskah tahun 1521. Misa ini dipimpin oleh Pastor Pedro de Valderrama, pendamping dalam ekspedisi yang dipimpin penjelajah Portugis, Ferdinand Magellan, di bawah bendera Spanyol.

Setelah dari Limasawa, Magellan melanjutkan perjalanan ke Cebu. Di sana, ia menjalin persahabatan dengan penguasa setempat, Rajah Humabon. Pada 14 April 1521, Rajah Humabon, istrinya (Ratu Juana), dan sekitar 800 rakyatnya dibaptis menjadi pemeluk Katolik.

Sebagai hadiah baptisan, Magellan memberikan patung Santo Niño (kanak-kanak Yesus) kepada Ratu Juana. Ia juga menancapkan sebuah salib kayu besar (kini dikenal sebagai Magellan's Cross) sebagai simbol dimulainya iman baru di pulau tersebut. Meskipun Magellan tewas dalam pertempuran di Pulau Mactan tak lama kemudian, benih Kekristenan telah tertanam.

Setelah beberapa dekade tanpa kehadiran Spanyol, upaya pengabaran Bible kembali dilakukan secara sistematis di Filipina. 

Pada tahun 1565, Legazpi tiba di Filipina untuk mendirikan pemukiman permanen Spanyol pertama di Cebu. Bersamanya, para misionaris dari ordo Agustinian, mulai melakukan penginjilan secara luas ke seluruh kepulauan.

Seiring meluasnya pengaruh Spanyol ke Luzon, Manila ditetapkan sebagai pusat pemerintahan dan gereja. Pada tahun 1579, Keuskupan Manila resmi didirikan, yang kemudian menjadi pusat penyebaran Katolik ke wilayah-wilayah lain di Asia Pasifik.

Melalui kolonisasi Spanyol selama lebih dari 300 tahun, Filipina bertransformasi menjadi negara dengan populasi Katolik terbesar di Asia. 

Meskipun di bagian selatan (Mindanao dan Sulu) pengaruh Islam tetap kuat dan bertahan dari upaya penaklukan Spanyol, sebagian besar wilayah Filipina mengadopsi identitas Kristen yang sangat mendalam.

Pada tahun 2021, Filipina merayakan 500 tahun kedatangan Kekristenan, sebuah peringatan bersejarah yang menegaskan posisi negara ini sebagai pusat Kristen di Asia. Filipina kini menjadi kantong Katolik terbesar di Asia dengan populasi mencapai lebih dari 104 juta penganut.

Katolik Roma yang dianut lebih 80 persen penduduk Filipina bukan sekadar identitas spiritual, melainkan juga menjadi mesin penggerak utama dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi bangsa. Peran gereja sangat besar. 

Universitas-universitas Kristen terkemuka seperti Universitas Santo Tomas menjadi standar pendidikan tinggi.

Melalui jaringan kemanusiaan Caritas Philippines, gereja mengelola ratusan pusat bantuan bencana dan program gizi. Program-program ini menjadi sangat krusial dalam membantu masyarakat kelas bawah menghadapi harga pangan. 

Di saat birokrasi pemerintah menghadapi tantangan menjangkau daerah pelosok, institusi Kristen hadir mengisi celah tersebut.

Fenomena menonjol adalah peran pekerja migran Filipina (overseas Filipino workers atau OFW). Dengan jutaan warga yang bekerja di luar negeri, mereka sering disebut sebagai "misionaris awam". 

Kehadiran mereka menghidupkan kembali paroki-paroki yang mulai sepi di Eropa dan Timur Tengah, menjadikan Filipina sebagai pengekspor iman Kristen terbesar di dunia.

Di Jepang, agama Kristen menghadapi tentangan yang tidak kecil. Agama Kristen dilarang pada tahun 1614 yang melahirkan umat "Kristen Tersembunyi" (Kakure Kirishitan). Hal inilah yang membuat peribadatan dilakukan secara rahasia selama 250 tahun.

Agama Kristen di Jepang menunjukkan fenomena sosiologis yang unik. Meskipun penganutnya secara statistik tetap menjadi minoritas kecil (kurang dari 1,5 persen), namun pengaruh struktural, pendidikan, dan budayanya jauh melampaui jumlah jemaat yang hadir di gereja setiap hari Minggu.

Peran paling nyata Kekristenan di Jepang tetap pada sektor pendidikan. Sekolah dan universitas berbasis Kristen (seperti Universitas Sophia, Universitas Kristen Internasional, dan Universitas Doshisha) menjadi institusi paling bergengsi yang mencetak para pemimpin politik dan bisnis Jepang.

Di Vietnam, misionaris Yesuit seperti Alexandre de Rhodes (1627) tidak hanya berkhotbah tetapi juga mengembangkan aksara Latin yang hingga kini menjadi sistem penulisan resmi negara tersebut. 

Meskipun negara komunis, pemerintah mulai memberikan ruang lebih besar bagi aktivitas sosial keagamaan. Populasi Katolik di Vietnam tetap menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara (sekitar 7 persen).

Yang tidak boleh dilupakan mengenai Kekristenan di Asia adalah perkembangan agama ini di Korea Selatan. Dengan penduduk berjumlah 51,6 juta jiwa, sekitar 31 persen hingga 33 persen mengidentifikasi diri sebagai pemeluk Kristen. Ini jumlah yang tergolong besar dibandingkan dengan negara-negara di Asia.

Pada 1784, Yi Seung-hun yang dibaptis sebagai Petrus diakui sebagai penganut Katolik pertama Korea. Setelah mempelajari teks-teks Katolik, ia melakukan perjalanan ke Beijing pada tahun itu khusus untuk menerima baptisan dari para pastor Yesuit.

Sekembalinya ke Korea, Yi membaptis beberapa orang lainnya dan mendirikan komunitas iman yang dipimpin orang awam. Pada saat pastor asing pertama tiba satu dekade kemudian (yaitu pastor Tiongkok James Zhou Wenmo pada tahun 1794), sudah ada beberapa ribu umat Katolik di Korea.

Dinasti Joseon memandang Kekristenan sebagai ancaman terhadap tatanan sosial Konfusianisme, terutama karena penolakan umat Kristen untuk melakukan ritual pemujaan leluhur (jesa). 

Itu yang menyebabkan terjadinya gelombang penganiayaan pada tahun 1801, 1839, 1846, dan 1866. Ribuan orang dibunuh, termasuk Santo Andreas Kim Taegon, pastor pertama kelahiran Korea. Karena hal ini, Korea memiliki jumlah santo Katolik terbesar keempat di dunia.

Kini agama Kristen di Korea Selatan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam bidang sosial, politik, dan pendidikan. Sekitar 70 persen presiden pasca-perang Korea beragama Kristen. 

Misionaris dan gereja mendirikan banyak institusi elit. Sekitar sepertiga dari seluruh universitas di Korea Selatan berafiliasi dengan Kristen, termasuk institusi akademik papan atas.

Gereja merupakan pusat jaring pengaman sosial di Korea Selatan, mengoperasikan banyak rumah sakit, panti asuhan, dan fasilitas pendukung untuk ibu-ibu dan lansia. Korea Selatan adalah negara pengirim misionaris terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, dengan puluhan ribu misionaris yang aktif secara global.

Kekristenan di Korea Selatan sering dikaitkan dengan modernisasi dan nasionalisme karena peran gereja dalam melawan penjajahan Jepang di awal abad ke-20. Sebaliknya, di Korea Utara, agama ini secara resmi dipandang sebagai pengaruh subversif dan ancaman bagi negara.

Selama pendudukan Jepang (1910–1945), Kekristenan menjadi sangat terkait dengan nasionalisme Korea. Pemeluk Kristen adalah pemimpin dalam Gerakan 1 Maret 1919 melawan kekuasaan Jepang. 

Setelah itu, agama ini berkembang pesat, sering dikaitkan dengan modernisasi, demokrasi, dan gerakan hak asasi manusia melawan kediktatoran militer.

Saat ini Kekristenan di Asia tumbuh dengan laju pertumbuhan per tahun sebesar 1,6 persen, dengan total penganut diperkirakan mencapai 416 juta jiwa. 

Kedatangan agama Kristen di benua Asia melalui jalur yang lengkap. Ada yang lewat interaksi budaya, perdagangan, dan ada pula yang lewat penjajahan bangsa Eropa.

Buni Yani
Peneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA