Bangunan Maqam Ibrahim sekarang sangat kokoh. Ditabrak dan ditarik oleh orang banyak pun tidak akan rebah atau rusak. Bangunannya juga diamankan dengan jeruji besi dan kaca tebal yang kokoh. Maqam Ibrahhim berdekatan dengan Multazam sehingga sering juga diguÂnakan shalat dan berdoa para jamaah haji dan umrah di arah tempat ini.
Dalam sejarah, Maqam Ibrahim sering dijadiÂkan incaran para pemimpin qabalah dan peÂmegang kekuasaan, seperti halnya Batu Hitam (Hajar Aswad) yang menempel di Ka’bah perÂnah dicongkel oleh sekelompok orang dari DiÂnasti Qaramithah. Namun tiga tahun kemudian dikembalikan ke tempat aslinya, meskipun suÂdah mengalami pecah belah. Ada juga ide unÂtuk menjauhkan Maqam Ibrahim dengan Ka’bah untuk menghilangkan kemungkinan orang meÂnyembah atau mengkultuskan Maqam Ibrahim.
Semula Maqam Ibrahim menurut kalangan ahli sejarah Saudi Arabia, menempel di dindÂing Ka’bah seperti halnya Hajar Aswad, tetapi di zaman Khalifah Umar bin Khattab, batu ini dipisahkan dengan dinding Ka’bah dan digesÂer ke belakang Ka’bah. Semula Maqam IbraÂhim ini diletakkan di sebuah bangunan lemari perak berukuran 6x3 meter, kemudian dibuat dalam kotak ukuran lebih kecil (180x130 centiÂmeter = 2,34 meter), karena menghalangi arus thawaf. Perubahan ini melalui hasil kesepakaÂtan pemimpin umat Islam melalui Rabitah Al- Alam Al-Islami (Organisasi Konferensi Islam/ OKI) pada 1387 Hijriyah. Jarak antara Maqam Ibrahim dengan sudut Ka'bah dan Hajar Aswad 14,5 meter. Dari Rukun Yamani 14 meter, dan dari sudut talangan air 13,25 meter.
Dalam pandangan sufistik, Maqam Ibrahim dimaknai tidak hanya secara fisik tetapi lebih ditekankan kepada makna simboliknya sebagai "Pendirian Ibrahim" yang monoteistik (tauhid). Seperti diketahui, Nabi Ibrahim sering disebut sebagai "Bapak Monoteisme" (The Father of Monotheism). Nabi Ibrahim melahirkan ketuÂrunan penganjur tegas ajaran monoteisme, yaitu Nabi Musa yang diamanati menganjurkan agama Yahudi dengan Kitab Sucinya Taurat, keÂmudian Nabi Isa yang diamanati menganjurkan agama Nasrani dengan Kitab Sucinya Injil, dan terakhir Nabi Muhammad Saw dari jalur Nabi Ismail, diamanati sebagai penganjur agama IsÂlam dengan Kitab Sucinya Al-Qur'an.
Bagi para penziarah Ka'bah, diharapkan meÂneguhkan dan mengokohkan pendirian ajaran monoteisme sebagaimana dianjurkan Nabi Ibrahim, yang merelakan dirinya terancam denÂgan berbagai ancaman, termasuk memisahkan diri dengan ayahnya sendiri yang pembuat dan penyembah berhala. ***