Filosofi & Tasawuf Haji & Umrah (23)

Misteri Maqam Ibrahim

Rabu, 07 September 2016, 09:15 WIB
Misteri Maqam Ibrahim
Nasaruddin Umar/Net
MAQAM Ibrahim bukan­lah kuburan Nabi Ibrahim. Maqamnya ada di Hebron, negeri Palestina yang dikua­sai Israel sekarang. Maqam Ibrahim adalah tempat pi­jakan kaki Nabi Ibrahim ke­tika merehab atau memban­gun Ka'bah. Konon ketika meninggikan dinding Ka’bah untuk mencapai ketinggian tertentu, putranya, Nabi Ismail, mengambilkan sebongkah batu sebagai tempat pijakan, tetapi keajaiban ter­jadi karena batu tempat pijakan kedua telapak kaki itu berlubang, menyerupai pahatan, den­gan panjang 22x11 sentimeter. Ukuran tela­pak kaki seperti ini lebih kurang sama dengan ukuran kaki normal manusia modern saat ini. Konon juga bertambah tinggi bangunan dind­ing Ka’bah bertambah tinggi pula batu tempat pijakan itu. Kini "prasasti" itu dapat disaksikan di dalam kotak kaca yang berdiri di depan pintu Ka'bah.

Bangunan Maqam Ibrahim sekarang sangat kokoh. Ditabrak dan ditarik oleh orang banyak pun tidak akan rebah atau rusak. Bangunannya juga diamankan dengan jeruji besi dan kaca tebal yang kokoh. Maqam Ibrahhim berdekatan dengan Multazam sehingga sering juga digu­nakan shalat dan berdoa para jamaah haji dan umrah di arah tempat ini.

Dalam sejarah, Maqam Ibrahim sering dijadi­kan incaran para pemimpin qabalah dan pe­megang kekuasaan, seperti halnya Batu Hitam (Hajar Aswad) yang menempel di Ka’bah per­nah dicongkel oleh sekelompok orang dari Di­nasti Qaramithah. Namun tiga tahun kemudian dikembalikan ke tempat aslinya, meskipun su­dah mengalami pecah belah. Ada juga ide un­tuk menjauhkan Maqam Ibrahim dengan Ka’bah untuk menghilangkan kemungkinan orang me­nyembah atau mengkultuskan Maqam Ibrahim.

Semula Maqam Ibrahim menurut kalangan ahli sejarah Saudi Arabia, menempel di dind­ing Ka’bah seperti halnya Hajar Aswad, tetapi di zaman Khalifah Umar bin Khattab, batu ini dipisahkan dengan dinding Ka’bah dan diges­er ke belakang Ka’bah. Semula Maqam Ibra­him ini diletakkan di sebuah bangunan lemari perak berukuran 6x3 meter, kemudian dibuat dalam kotak ukuran lebih kecil (180x130 centi­meter = 2,34 meter), karena menghalangi arus thawaf. Perubahan ini melalui hasil kesepaka­tan pemimpin umat Islam melalui Rabitah Al- Alam Al-Islami (Organisasi Konferensi Islam/ OKI) pada 1387 Hijriyah. Jarak antara Maqam Ibrahim dengan sudut Ka'bah dan Hajar Aswad 14,5 meter. Dari Rukun Yamani 14 meter, dan dari sudut talangan air 13,25 meter.

Dalam pandangan sufistik, Maqam Ibrahim dimaknai tidak hanya secara fisik tetapi lebih ditekankan kepada makna simboliknya sebagai "Pendirian Ibrahim" yang monoteistik (tauhid). Seperti diketahui, Nabi Ibrahim sering disebut sebagai "Bapak Monoteisme" (The Father of Monotheism). Nabi Ibrahim melahirkan ketu­runan penganjur tegas ajaran monoteisme, yaitu Nabi Musa yang diamanati menganjurkan agama Yahudi dengan Kitab Sucinya Taurat, ke­mudian Nabi Isa yang diamanati menganjurkan agama Nasrani dengan Kitab Sucinya Injil, dan terakhir Nabi Muhammad Saw dari jalur Nabi Ismail, diamanati sebagai penganjur agama Is­lam dengan Kitab Sucinya Al-Qur'an.

Bagi para penziarah Ka'bah, diharapkan me­neguhkan dan mengokohkan pendirian ajaran monoteisme sebagaimana dianjurkan Nabi Ibrahim, yang merelakan dirinya terancam den­gan berbagai ancaman, termasuk memisahkan diri dengan ayahnya sendiri yang pembuat dan penyembah berhala. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA