Kontrak acuan pengiriman Maret hanya menguat tipis ke level 4.039 Ringgit per metrik ton, terjepit di antara sentimen positif dari kenaikan harga minyak kedelai di bursa global dan tekanan internal dari dalam negeri Malaysia.
Laporan terbaru Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan bahwa stok nasional melonjak hingga 3,05 juta metrik ton pada Desember lalu, mencapai titik tertinggi dalam tujuh tahun terakhir akibat produksi yang terus melampaui permintaan.
Meski tumpukan persediaan ini menekan harga, pelemahan lebih dalam tertahan oleh performa ekspor awal Januari yang melesat hampir 30 persen. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik di Iran turut memberikan napas bagi CPO, karena memperkuat daya tarik sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Namun, ruang penguatan harga tetap terbatas. Selain proyeksi pasar yang mengkhawatirkan kelebihan pasokan global, penguatan mata uang ringgit terhadap dolar AS membuat harga beli bagi importir asing menjadi lebih mahal. Para analis memperkirakan harga CPO masih akan berada di bawah tekanan hingga tren produksi tinggi di perkebunan mulai melandai.
BERITA TERKAIT: