Kartel Daging Sapi Raup Untung Besar

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Kamis, 09 Juni 2016, 19:48 WIB
Kartel Daging Sapi Raup Untung Besar
oso/ist
rmol news logo Kenaikan harga pangan apalagi daging sapi saat Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri adalah hal biasa yang terjadi tiap tahun.

Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang menilai masalah klise tersebut seperti tidak pernah bisa disentuh dan dihapuskan.

Menurutnya, semua itu adalah permainan harga oleh para kartel daging sapi. Ulah para kartel dalam mempermainkan harga sangat biadab dan tidak peduli terhadap nasib rakyat kebanyakan.

"Pertanyaan besarnya adalah siapakah para kartel ini, berada dimana mereka begitu tenangnya mempermainkan harga. Tersiar berita ada lima kartel yang sudah diketahui tapi tidak disebutkan namanya karena dikhawatirkan akan melarikan diri ke luar negeri. Apakah hanya lima ini saja yang diketahui, tidak masih banyak lagi dan sangat rapi," katanya dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk 'Presiden Jokowi dan Kartel Daging Sapi' di press room parlemen, Gedung DPR, Jakarta (Kamis, 9/6).

Diutarakan Oso, begitu dia disapa, kartel daging sapi sudah masuk ke banyak lini, bahkan hingga lembaga-lembaga yang tidak disangka sekalipun. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri sudah mencium adanya permainan kartel hingga dengan tegas meminta agar harga daging sapi ditetapkan sebesar Rp 80.000 per kilogram.

"Permainan harga ini sangat menyakitkan rakyat sampai tembus Rp 100 ribu lebih. Di Singapura hanya Rp 60 ribu sampai Rp 65 ribu per kilonya, padahal jaraknya sangat dekat dengan Indonesia. Taruhlah sampai Indonesia harganya menjadi Rp 66 ribu atau Rp 70 ribu masih pantas. Jadi jika Presiden meminta harga Rp 80 ribu itu sangat wajar, menterinya yang mengurus hal itu harus cepat merealisasikan permintaan Presiden harus berpihak untuk rakyat, menteri jangan buang badan," jelasnya.

Oso menjelaskan, harga daging sapi sebenarnya tidak lebih dari USD 4 per kilonya. Harga tersebut ditambah biaya masuk, biaya bahan bakar, transportasi dan biaya gudang sehingga bisa USD 5 per kilo atau sekitar Rp 60 ribuan per kilo. Karena itu, permintaan Presiden Jokowi dengan harga Rp 80 ribu per kilo sangat masuk akal dan tidak membebani rakyat.

"Dengan harga Rp 80 ribu saja sudah sangat untung. Tapi dengan harga tembus sampai Rp 120 ribu sampai Rp 130 ribu bisa dibayangkan keuntungan yang didapat para kartel-kartel itu. Ini benar-benar biadab," ketusnya.

Oso mengajak elemen masyarakat terutama kalangan pers agar memberikan informasi kepada masyarakat dengan benar. Di mana, rakyat harus tahu penyebab sebenarnya harga daging sapi sangat tinggi di Indonesia.

"Ini bukan memprovokasi tapi memberikan kebenaran yang sebenar-benarnya kepada rakyat, biar mereka tahu bahwa pemain hargalah atau kartel yang membuat harga melambung seperti ini. Presiden sudah berupaya meminta agar harga daging rendah, untuk itu sekali lagi menteri yang berkompeten harus mengimplementasikan ini secara benar, semua untuk rakyat pada akhirnya," tandasnya. [wah] 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA