Darah Pahlawan Reformasi Nggak Boleh Disia-siakan

Trisakti Tabur Bunga & Upacara Bendera Setengah Tiang

Jumat, 13 Mei 2016, 09:28 WIB
Darah Pahlawan Reformasi Nggak Boleh Disia-siakan
foto:net
rmol news logo Pemerintah Jokowi-JK didesak tidak melupakan jasa-jasa Pahlawan Reformasi, yang hari ini sudah berlang­sung 18 tahun.

Tepat 12 Mei 1998, merupa­kan sejarah yang berharga bagi bangsa Indonesia. Kemarin, per­ingatan Hari Reformasi digelar di Kampus Reformasi, Universitas Trisakti.

Upacara bendera setengah tiang dan tabur bunga mengenang empat pahlawan mahasiswa yang gugur memperjuangkan reformasi, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie.

Rektor Usakti, Thoby Mutis dalam pidatonya menyatakan, peringatan ini merupakan mo­mentum untuk mengenang jasa para mahasiswa yang gugur kala itu, agar mahasiswa saat ini da­pat terinspirasi Tragedi Usakti.

"Tragedi 18 tahun lalu di Usakti, merupakan panggilan bangsa yang berjuang demi bang­sa yang lebih baik. Reformasi belum selesai, reformasi akan berjalan terus dan pada saaat peringatan ke-18 tahun ini, kami masih berapi-api," ujarnya.

Sementara tokoh masyarakat Adhyaksa Dault yang juga alumni Usakti dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 1987 menjelaskan, yang dilakukan para pejuang reformasi merupakan tonggak sejarah perubahan bangsa.

"Perjuangan mereka meru­pakan tonggak sejarah lahirnya bangsa yang transparan. Semua ini diawali dari Usakti," tegas­nya. Salah satu hasil konkret dari buah perjuangan reformasi, ingat Adhayksa, adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang selalu ditakuti para koruptor.

Dalam kesempatan yang sama Sekertaris Majelis Wali Amanah (MWA) Usakti, Advendi Simangunsong mengungkapkan, reformasi merupakan simbol Usakti, "Usakti merupakan salah satu penggerak reformasi, dan reformasi menjadi simbol dari Usakti. Saat ini indikasi ber­jalannya reformasi sudah mulai terlihat seperti Presiden Jokowi dengan Revolusi Mentalnya," imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh anggota MWA lainnya, Yenti Ganarsih, Dia menilai, reformasi harus terus berjalan. Tuntutan aspirasi dari maha­siswa harus didengarkan.

"Peringatan ini seharusnya momentum perabaikan diri kem­bali, mengingatkan pejuang reformasi yang rela gugur dalam tragedi Usakti, dan apa yang sudah kita berikan bagi bangsa ini? Pemerintah harus lebih mendengarkan aspirasi mahasiswa," ingatnya.

Untuk itu, pihaknya akan terus menjaga simbol reformasi yang tidak terlepas dari perjuangan 18 tahun lalu, dan jadi semangat menebar inspirasi kepada maha­siswa. "Agar terus melanjutkan perjuangan reformasi dengan menjadi mahasiswa terbaik dan terus beraspirasi dalam pem­bangunan bangsa, menindak korupsi dan ketidakadilan yang ada di Indonesia ini," ungkap­nya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA