"Saya rasa para pakar infrastruktur, yang terlibat dalam membangun ekonomi dan ahli di bidang BUMN harus diundang," kata Gurubesar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali saat dihubungi (Kamis, 22/10).
Rhenald merasa selama ini Pansus hanya fokus pada bidang hukum sehingga tidak mendapat masukan mengenai kinerja Pelindo dan BUMN yang menurut dia sudah sangat baik. Terlebih lagi, yang diundang dalam forum pansus itu adalah serikat pekerja Jakarta Internasional Container Terminal, yang memiliki konflik kepentingan
dengan Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino.
Rhenald sendiri menilai, banyaknya protes yang berdatangan ini, disebabkan karena BUMN di bawah kepemimpinan Rini Soemarno tengah melakukan perubahan yang radikal, termasuk diPelindo II sendiri. Perubahan tersebut sangat positif untuk BUMN, namun banyak pihak tak mengerti proses ini dan mempermasalahkannya.
Namun Rhenald menilai, BUMN dituntut mempunyai keuntungan besar sehingga wajar jika bekerjasama dengan China membangun kereta cepat di daerah yang ramai penduduk seperti Jakarta-Bandung. Adapun pembangunan infrastruktur transportasi di daerah lain yang masih sepi penduduk merupakan tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan.
Di Pelindo II sendiri, lanjut dia, sudah ada keberhasilan membangun dan menata Tanjung Priok. Upaya untuk membangun pelabuhan dengan ukuran yang lebih besar tanpa tambahan dana dari APBN pun sudah dilakukan. Nantinya, Pelindo II akan berkongsi dengan BUMD milik Pemprov DKI Jakarta, Jakpro untuk membangun pelabuhan raksasa, yang diberi nama Port of Jakarta. Rencananya, pelabuhan itu memiliki luas sekitar 2.500 hektar.
"Sebentar lagi akan jadi 3 pelabuhan besar di Tanjung Priok tanpa tambahan uang negara, lebih tertata, income puluhan kali lipat bagi negara, operator kelas dunia bersedia tender dan membayar mahal," demikian Rhenald, sambil mengatakan bahwa ia bersedia apabila diundang oleh Pansus Pelindo II untuk menjelaskan kinerja BUMN yang modern ini.
[ysa]
BERITA TERKAIT: