
. Sebagai tulang punggung perekonomian nasional, Pertamina malah mengalami kerugian yang sangat besar, dan disebutkan mencapai Rp 15,2 triliun. Padahal, harga jual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga dinaikkan di tengah merosotnya harga minyak dunia.
"Seharusnya Pertamina mendapatkan keuntungan bukan kerugian. Kami menduga ada kelalaian dan buruknya managerial perusahaan yang dipimpin Dwi Soetjipto," kata penasihat Indonesia Energy Watch (IEW), M. Ahmadi, dalam keterangan beberapa saat lalu (Senin, 28/9).
Ahmadi menilai, Dwi Soetjipto seperti tidak memahami bisnis Migas dan tidak cakap dalam mengelola perusahaan sebesar Pertamina. Dan tentu saja, bila hal ini didiamkan maka Pertamina bisa ambruk alias bangkrut jika tetap dipimpin Dwi Soetjipto.
"Maka dengan itu sebaiknya Pimpinan Komisi VI DPR segera memanggil Dwi Soetjipto untuk diminta klarifikasi dan pertanggungjawabannya atas kerugian tersebut. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga harus segera melakukan audit investigatif mengapa Pertamina bisa mengalami kerugiaan sebesar itu," demikian Ahmadi.
[ysa]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: