Bukti paling mutkahir adalah dalam pertandingan antara Persib Bandung melawan Pusamania Borneo FC di Lapangan Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu malam (26/9).
Ditemui di lokasi, Ketua SC Piala Presiden Maruarar Sirait benar-benar gembira. Bagaimanapun, olahraga sepakbola ini terkait dengan banyak orang, bukan hanya pemain, pelatih dan wasit, melainkan juga dengan para pelaku usaha kecil di sekitar permainan bola. Ia gembira sebab faktanya, Piala Presiden ini membantu dan menggerakan ekonomi rakyat.
"Ini sesuai dengan pesan Presiden Jokowi, bahwa selain pertandingan harus fair, terbuka, transparan dan profesional, juga harus bisa menggerakan ekonomi rakyat," ungkap Maruarar.
Sebelumnya, Asep budaya (42), seorang pedagang aksesoris bola di Bandung menjadi salah satu saksinya. Asep mengaku dalam sebulan ini, sejak turnamen dihentikan, dagangannya sepi. Tak ada ekonomi yang bisa diandalkan lagi. Hingga akhirnya ada Piala Presiden 2015 yang digelar Mahaka Sport.
"Sekarang keuntungan lebih besar semenjak ada Piala Presiden," kata Asep, warga Kampung Sayuran, Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, di sela pertandingan antara Persib Bandung dan Pusamania Borneo di Lapangan Jalak Harupat, Bandung, Sabtu malam (26/9).
"Bisa tiga kali lipat keuntungan kalau Persib main," sambungnya lagi.
Hal yang sama disampaikan Haris, sang pedagang baju (35). Dengan adanya Piala Presiden, itu benar-benar sangat membantu penghasilannya. Apalagi bila Persib Bandung yang main.
"Semoga pertandingan ini diteruskan. Kalau gak ada turnamen
mah, parah
atuh, susah kehidupan. Sekarang saja 50 kaos sudah terjual dan laku.
Alhamdulillah," ungkap Haris.
[ysa]
BERITA TERKAIT: