KSPI: Sofjan 'Sengaja' Ciptakan Suasana Permusuhan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Kamis, 07 Mei 2015, 03:33 WIB
KSPI: Sofjan 'Sengaja' Ciptakan Suasana Permusuhan
Sofjan Wanandi/net
rmol news logo . Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengecam keras sikap feodal mantan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang kini menjadi Ketua Tim Ahli Wapres Jusuf Kalla, Sofjan Wanandi, yang telah merendahkan harkat dan martabat kaum pekerja/buruh sebagai manusia dalam hubungan industrial dengan menyebutnya sebagai Pelayan Pengusaha.

Vice Presiden KSPI bidang Advokasi Widadi WS mengatakan, bahwa dalam perjalanan negeri ini baik pra kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan. Peran dan jasa yang telah dipersembahkan kaum buruh adalah fakta yang tak terbantahkan. (Baca: Pernyataan Sofjan Wanandi Rendahkan Martabat Buruh).

Menurut Widadi, statement Sofyan Wanandi dapat mengundang para whistle blower untuk memprovokasi masa buruh dan hal itu bisa menjadi sangat berbahaya. Sebab pada situasi dengan gap antara si kaya dan miskin yang semakin melebar, sementara kendali pemerintah untuk mengatasi efek dari kebijakan ekonomi sudah mandul alias tidak bertanggungjawab maka kondisi emosional masyarakat sangat rentan untuk dikipas-kipas.

"Sofjan dengan 'sengaja' ingin menciptakan suasana dan 'memelihara permusuhan' antara kaum buruh dengan kelompok pengusaha yang sudah terbiasa mendapat 'kemudahan' dari penguasa," sebut Widadi.

Sehingga, lanjut Widadi, dengan demikian Sofjan dirinya merasa 'halal' untuk berbuat apa saja dengan tanpa menyadari bahwa makna dan pesan dari pada statemennya adalah: Pertama, bahwa republik ini tanpa peran dan jasa pengusaha tidak akan pernah ada. Kedua, bahwa ingin pengakuan atau bahkan menyatakan bahwa republik ini yang membiayai adalah para pengusaha. Ketiga, bahwa karena itu para pengusaha merasa lebih berhak untuk mengatur republik dan segala isinya.

"Dan yang paling berbahaya adalah memicu krisis atau sentimen etnis tertentu. Ini sangat berbahaya jika dihembuskan ke akar rumput," cetus Widadi. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA