Makanan Olahan Indonesia Mendapat Tempat di Pasar Jepang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Selasa, 03 Maret 2015, 23:59 WIB
Makanan Olahan Indonesia Mendapat Tempat di Pasar Jepang
yusron (kedua dari kiri)
Kecil Besar
rmol news logo Perpaduan antara kebiasaan masyarakat Jepang untuk mencoba sesuatu yang baru dan cita rasa makanan Indonesia yang memang cenderung cocok di lidah Jepang menjadi dua faktor penting dalam membuka produk makanan olahan Indonesia mendapat tempat di pasar Jepang.  

"(Jadi) Ini (makanan Indonesia diterima di Jepang) bukan hanya karena faktor daya beli masyarakat yang tinggi," tegas Dubes RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, di sela-sela acara Japan Food Expo 2015 yang dibuka di Makuhari Messe, Perfektur Chiba, Jepang, Selasa (3/3).

Kehadiran sekitar dua puluhan stand Indonesia dalam Food Expo ikut yang telah digelar untuk ke-40 kalinya dan kali ini diiukti oleh 2700 exhibitor dari 83 negara, menurut Yusron, merupakan hal yang menggembirakan. "Kita merupakan salah satu negara besar, minimal di Asia. Karena itu kita harus selalu hadir dalam acara-acara besar seperti ini," tambah Yusron dalam siaran persnya.

"Tahun lalu saya juga di tempat ini untuk acara serupa dan sekarang ini saya kembali di tempat ini beserta para peserta Indonesia. Ini berarti kita melakukan promosi secara rutin dan kontinyu," ujar Dubes yang dulu pernah menetap selama 13 tahun di Jepang dan cukup mengerti hal-ikhwal Jepang ini.

Menurut Yusron, ada beberapa kunci untuk dapat lebih masuk ke pasar Jepang. Diantaranya, adalah standarisasi produk, kontinyuitas suplai, link dan promosi. Thailand yang sejak beberapa dekade terakhir mendapat dukungan penuh pemerintahnya, termasuk promosi kuliner Thailand di luar negeri, ujar Yusron, telah menikmati hasil jerih payah mereka. Karena itu Indonesia tentu tidak boleh lengah jika memang serius untuk ikut sebagai pemain.

Menyinggung produk-produk Indonesia di pasar Jepang, termasuk produk makanan kesehatan Indonesia (di Jepang disebut sebagai kenkou shokuhing”) yang dipamerkan, Yusron mengungkap fenomena menarik tentang kesehatan dan juga makanan-makanan sehat di Jepang.

Di Jepang, kata Yusron, ada ungkapan bahwa demi sehat, mati pun bukan masalah”. "Nah, melihat kegandrungan seperti ini, kita tentu harus manfaatkan peluang-peluang seperti ini," tambah dia.

Dari data tentang kesanggupan memenuhi kebutuhan pangan, saat ini kemampuan Jepang hanyalah sekitar 60% saja. Ini berarti bahwa 40% kebutuhan pangan Jepang adalah produk impor. Tema politik ketahanan pangan Jepang selama beberapa dekade terakhir ini, menurut Yusron, adalah diversifikasi ketergantungan sumber pasokan pangan dari luar negeri.

"Ini tentu merupakan isyarat penting tentang peluang yang terbuka lebar bagi pasar produk makanan Indonesia di Jepang," tandas mantan anggota Komisi I DPR RI ini. [zul]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA